Husband From Hell (Suami Dari Neraka)

Husband From Hell (Suami Dari Neraka)
Bidadari


__ADS_3

Erick dan Natalie sudah sampai di parkiran sebuah Mall besar.


"Loh Rick, kok kita ke sini?" tanya Natalie heran saat Erick membuka seat belt miliknya.


"Oh iya aku sampai lupa bilang kamu, saking terlalu bahagianya karena kamu jadi sekretaris aku."


Natalie masih tak bergeming dari tempat duduknya.


"Jadi, hari ini tuh aku ada undangan untuk menghadiri acara pembukaan cabang baru salah satu vendor aku. Nah, aku mau sebagai pekerjaan pertama, kamu harus menemani aku datang ke sana."


"Aku?" Natalie menunjuk dirinya sendiri. Lalu dia menatap pakaiannya. "Apa acaranya besar dan mewah?"


"Hmppp." Erick mengangguk.


"Bagaimana mungkin aku bisa menemani Erick datang ke acara itu dengan penampilanku yang seperti ini?" batin Natalie dalam hatinya. "Aku pasti akan membuat Erick malu."


"Hey! kenapa diam? ... kamu mau kan?"


"Ah, bu_bukan begitu. Tapi aku ...." Natalie menundukkan kepalanya, melihat sepatunya saja dia hanya mengenakan sepatu kantoran biasa, bukan sepatu mewah khas pesta. Sedangkan jika dibandingkan dengan penampilan Erick hari ini ... Apalagi saat mengingat ucapan Jennifer yang mengomentari tentang penampilannya. Ah, rasanya Natalie benar-benar tidak pede.


"Kenapa? ... kau tidak percaya diri?"


Natalie mengangguk. "Lebih baik kau cari orang lain saja! jangan aku. Aku takut membuatmu malu."


Erick terkekeh geli mendengar kepolosan Natalie. "Kalo aku maunya kamu gimana?"


"Tapi Rick, penampilanku?"


Erick tak menjawab pertanyaan Natalie. Tiba-tiba dia sudah berdiri di samping Natalie setelah membukakan pintu untuknya. "Ayo! jangan banyak bicara!"


Natalie pun pasrah turun dari dalam mobil, dan Erick langsung menyambar tangan, menggandengnya masuk ke dalam sebuah butik besar yang ada di salah satu Mall itu.


"Hay, Tante!" Sapa Erick pada pemilik butik.


"Hay sayang." Wanita itu pun lantas mencium kiri kanan pipi Erick, sementara sebelah tangan Erick tak mau melepas tangan Natalie. "Siapa ini? cantik sekali."


"Ah, ini Tante ... dia sekretaris pribadi baruku." Erick baru melepaskan tangan Natalie setelah tantenya itu mengulurkan tangannya untuk berkenalan.


"Natalie," ucap Natalie sopan.


"Klara," sahut wanita itu. "Kau bisa memanggilku Tante Ara."


"Iya, Tante Ara."


"Jadi, apa yang bisa Tante bantu?"


"Ah, jadi begini Tante, siang ini aku dan Natalie akan menghadiri sebuah acara yang lumayan besar. Jadi, aku mau Tante pilihkan baju yang pas untuk dia." Erick melirik Natalie diikuti Klara yang ikut memperhatikan Natalie dari ujung kaki hingga rambutnya.


"Kau benar. Meskipun dia cantik, tapi sepertinya akan lebih cantik lagi kalau Tante yang memolesnya."

__ADS_1


"Hahaha, iya Tante benar. Sebenarnya aku sih pede-pede saja membawa Natalie dengan pakaiannya yang seperti ini. Toh, dia begini saja sudah cantik alami."


"Dasar, tukang gombal. Bohong, jangan percaya sama dia Natalie! dia itu penjahat wanita."


"Apa sih, Tan?" protes Erick.


"Ah, i_iya Tante." Mendadak pipi Natalie jadi merona saat dipuji orang di sampingnya.


"Yasudah, kalau begitu serahkan semuanya pada Tante! Tante akan membuat Natalie terlihat seperti princess hari ini."


"Siap, Tante. Kalau begitu, aku tunggu di depan ya! aku mau ketemu Paman dulu."


"Oke."


Erick pun pergi setelah menyerahkan Natalie pada Klara.


"Ayo Natalie, ikut saya!"


"Baik, Tante." Natalie pun membuntuti Klara di belakangnya. Dia sempat melirik kiri kanannya yang berjejeran baju-baju pesta yang mewah dan penuh glamor itu. Meskipun Natalie menikah dengan suami yang mungkin kekayaannya lebih banyak dari Erick, tapi Natalie tidak pernah diajak belanja ke tempat se mewah ini, batinnya.


Klara pun langsung memilihkan baju, sepatu sampai aksesoris yang pas untuk Natalie. Jangan ragukan kemampuan Klara. Wanita itu sudah terjun sejak 15 tahun lalu sebagai MUA di berbagai daerah.


***


"Sayang, nanti kamu jemput aku jam berapa?" tanya Jennifer dibalik teleponnya.


Hari ini Jennifer dan Nicholas akan menghadiri sebuah acara pembukaan cabang baru salah satu customernya. Dan kebetulan juga, Jennifer pun mendapat undangan yang sama. Maka dari itu mereka berencana berangkat berdua.


"Ya sudah, nanti aku tunggu kamu ya! jangan telat, soalnya aku mau beli high heels dulu. Sepatuku yang ini udah gak nyaman dipake."


"Iya." Lagi-lagi Nicholas menyahutinya dengan malas. "Ya sudah, aku tutup."


Nicholas pun menutup panggilan telepon itu lalu melemparnya ke atas mejanya yang berantakan dengan sembarang.


Tak ada yang ingin dia lakukan saat ini, selain bertemu dengan Natalie. Baru sehari saja dia tidak melihat Natalie di meja kerjanya, rasanya kepalanya mumet dan ingin pecah.


"Arghhh, kenapa aku harus seperti ini?"


***


Dua jam sudah Erick berbincang-bincang dengan pamannya di salah satu kedai kopi yang terletak tepat di depan butik milik Tantenya.


"Jadi kapan kau akan menikah? paman sudah tidak sabar ingin menimang cucu darimu," ucap paman itu sambil menenggak kopi di tangannya.


"Ah, itu. Tenang saja! nanti juga Erick akan mengenalkannya pada paman."


"Kapan?"


"Kapan-kapan."

__ADS_1


Keduanya kembali tertawa terbahak-bahak, sampai akhirnya Erick tersedak kopi yang sedang diminumnya saat melihat siapa yang datang.



Klara benar-benar berhasil membuat Natalie terlihat seperti princess hari ini. Tubuh Natalie yang putih bersih dibalut gaun itu membuat dia dan gaunnya seperti benar-benar menyatu. Belum lagi make-up yang dioleskan di wajah cantiknya membuat Natalie hampir tanpa cacat dilihatnya.


"Wah, siapa tuh? cantik banget?


"Iya. Kaya bidadari ya?"


"Uhh, aku jadi iri sekali padanya."


Beberapa orang yang tak sengaja melintas pun ramai-ramai membicarakan kecantikan Natalie hari itu. Sampai akhirnya Erick sadar bahwa dia sudah membuat Natalie lama-lama jadi pusat perhatian.


"Ah, sudah selesai ya?" tanya Erick pura-pura.


"Sudah dong, gimana? suka?" tanya Klara.


"Suka, Tan. Cocok!"


Sebenarnya Erick ingin bilang bahwa Natalie sangat cantik sekali. Tapi, mengingat ini adalah tempat umum jadi Erik menahan dirinya.


"Serius, Rick? aku pantes kaya gini?" Natalie terlihat gugup ini kali pertamanya dia menggunakan pakaian yang terkesan berani dan make up yang mencolok karena biasanya dia hanya menggunakan sedikit bedak tabur di pipinya.


"Serius."


Erick lalu berdiri dari tempat duduknya.


"Ya sudah, kalau begitu Erick sama Natalie pamit dulu ya, Tante, Paman. Kita harus segera pergi ke sebuah acara."


"Buru-buru amat," ledek Klara.


"Oh, iya-iya." Paman Erick menyahutinya. "Jadi, ini wanitanya?"


"Ah, bu_bukan. Ini hanya sekretaris pribadi Erick saja."


"Kenapa tidak sekalian dijadikan istri pribadi saja?" sahut pamannya kembali.


Natalie dan Erick saling berpandangan. Natalie sedikit gugup karena pembahasan semakin jauh.


"Ah, ya sudah sana pergi! Nanti kalian terlambat," ujar Klara sambil memberikan Natalie pada Erick.


Rasa gugup dan tak nyaman mulai membalut perasaan Erick saat menerima tangan Natalie dari Klara. Dia seperti baru saja menerima gadis dari kayangan.


"Kalau begitu kami permisi." Akhirnya Erick pamit undur diri untuk tidak memperlihatkan keraguannya di depan kedua sodaranya itu.


"Ya, hati-hati!"


Erick dan Natalie pun akhirnya pergi dan kembali masuk ke dalam mobilnya, dan sepanjang perjalanan itu pula Erick tak bisa melepaskan pandangannya dari wanita yang baru saja menjadi sekretaris pribadinya.

__ADS_1


"Andai saja aku lebih dulu bertemu denganmu." Erick


__ADS_2