
Sepuluh tahun yang lalu
"Maafkan kami, Nona. kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi tetap saja kami tidak bisa menemukan obat untuk Tuan Nicholas."
Natalie tertunduk lemah. Sudah hampir satu tahun dia menemani Nicholas menjalani perawatan di sana, tapi sampai saat ini dokter dan tim medis lainnya belum juga menemukan obat untuk menyembuhkan penyakit yang bersarang di tubuh Nicholas.
dokter dan tim medis lainnya sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi sejauh ini mereka hanya mampu membuat Nicholas bertahan dengan obat. Prediksi yang diberikan saat itu rupanya bisa dilewati. Nicholas bisa bertahan hampir satu tahun lamanya meskipun dengan keadaan yang memprihatinkan.
Tapi semua itu bukan sesuatu yang membanggakan bagi Natalie, karena melihat keadaan atau fisik Nicholas yang makin hari makin menurun jelas membuat hati Natalie sakit dan teriris.
Rambut Nicholas setiap hari seringkali mengalami kerontokan, mungkin itu semua diakibatkan karena dosis keras obat yang dikonsumsinya setiap hari. Belum lagi Nicholas sering muntah-muntah jika sudah mengalami mual hebat.
"Kami juga tidak bisa memastikan berapa lama lagi Tuan Nicholas akan bertahan dengan obat yang kami berikan. Nona tau sendiri kalau obat ini dosisnya sangat tinggi, kami khawatir tubuh Tuan Nicholas tidak sanggup lagi menerimanya."
dokter itu benar. Pernah beberapa kali saat Nicholas meminum obat itu, dia muntah-muntah sampai tak sadarkan diri.
"Iya, saya mengerti itu dok. Tidak perlu meminta maaf. Justru seharusnya saya berterimakasih, karena dokter telah membuat Nicholas bertahan sampai sejauh ini," ucap Natalie dengan bibir yang bergetar, lemah dan tak bertenaga.
Natalie pun lantas berdiri dan menundukkan kepalanya, memberikan rasa hormat pada dokter yang selama beberapa bulan ini merawat suaminya. "Sekali lagi terimakasih telah berjuang untuk suami saya. Saya pamit dulu."
Tak ada jawaban lagi dari dokter dan beberapa perawatnya itu. Semua terlalu sesak untuk dibahas lebih jauh. Kenyataan ini benar-benar memilukan.
***
Dengan langkah yang lemah, Natalie pun akhirnya keluar dari ruangan dokter itu. Dia kembali masuk ke ruangan tempat dimana Nicholas dirawat.
"Sayang, kamu darimana aja?" tanya Nicholas saat Natalie masuk ke kamarnya. "Kemarilah! aku ingin bicara dengan anak kita," pintanya dengan senyumnya yang sumringah tapi terlihat pucat. "Hari ini aku belum menyapanya."
Natalie lalu duduk di samping Nicholas, di atas kasur. Sambil memberikan senyuman untuk sang suami.
Natalie memang tengah hamil dan mengandung buah hati mereka. Kandungannya saat itu sekitar tujuh bulan.
Nicholas mengelus lembut perut Natalie yang sudah terlihat buncit itu. Dia mengusapnya memutar sambil menempelkan telinganya di perut buncit Natalie. "Pagi anak Papa. Apa kabarmu hari ini sayang? ... Kapan ya kita akan bertemu? ... Papa sudah sangat rindu, Nak. Papa ingin melihat bagaimana tampannya wajahmu."
__ADS_1
Natalie menyembunyikan wajahnya. Ia benar-benar tidak bisa menahan kesedihannya. Kenapa semua ini harus terjadi pada orang yang sangat dicintainya.
Kenapa harus Nicholas yang menderita ini semua? Kenapa harus dia? batin Natalie terus meronta. Andai saja ia bisa menukar apapun di dunia ini dengan kesembuhan Nicholas, ia pasti akan melakukannya.
"Sayang, kamu kenapa?" Nicholas tersadar jika wanitanya menangis. Dia mengusapnya perlahan dengan ibu jarinya. "Kenapa malah nangis?"
"Gpp, aku cuma bahagia aja. Karena kau tidak pernah melupakan untuk menyapa anak kita setiap hari," ucap Natalie bohong. Padahal sebenarnya dia menangis karena takut kehilangan Nicholas untuk selamanya. "Aku takut, Nic. Aku takut jika hari itu benar-benar datang. Hari dimana aku tidak bisa lagi melihat mata dan senyummu."
"Sayang, percaya 'gak?" tanya Nicholas. "Kalau suatu saat, anak kita ini akan tumbuh menjadi sosok pria yang tangguh dan jenius."
Natalie mendengarkan setiap inchi kata yang keluar dari bibir Nicholas. "Kenapa kau begitu yakin?"
"Entah, tapi yang pasti aku yakin akan hal itu." Tiba-tiba Nicholas memangku wajah Natalie. "Jadi, kalau suatu saat aku pergi untuk selamanya, setidaknya aku tidak begitu mengkhawatirkanmu, karena akan ada Nicholas junior yang akan menjagamu."
"Berhenti bicara omong kosong, Nic!" Natalie melepas tangan Nicholas dari wajahnya "Kau akan sembuh seperti sedia kala, tidak akan ada yang pergi dan tidak akan ada yang ditinggalkan diantara kita bukan?"
Nicholas terdiam. Bukan hanya Natalie yang menginginkan hal tersebut. Nicholas juga sama. Dia juga ingin selalu ada dan menemani Natalie sampai hari tua. Sampai hari dimana dia mengantar anak-anaknya ke tempat pernikahan seperti orang tua pada umumnya. Tapi kenyataannya berbeda. Nicholas bukan orang sehat pada umumnya. Makin hari kondisinya makin memburuk. Ia bahkan tidak tahu apakah esok ia masih bisa bernafas atau tidak.
"Sayang," ucap Nicholas sambil merengkuh tubuh istrinya dalam dekapannya. "Kau tidak perlu takut jika aku pergi, karena bukan hanya orang sakit sepertiku yang akan meninggal. Semuanya akan merasakan hal yang sama. Semua akan merasakan ditinggal dan meninggalkan. Semua akan mendapat gilirannya. Hanya saja waktunya yang berbeda." Nicholas terus berusaha menenangkan istrinya agar berhenti menangis. "Udah ya! jangan sedih lagi! kasihan anak kita. Nanti dia ikut sedih kalau Mamanya nangis terus."
Natalie terkekeh geli mendengar gombalan suaminya yang berlebihan itu.
"Aku mau makan, laper sayang," pinta Nicholas.
Dengan cepat Natalie pun langsung beranjak membawakan nampan berisi makanan khusus yang dibuatkan dokter untuk suaminya itu.
Terlihat sirat bosan dalam wajah Nicholas saat harus kembali menikmati sarapan itu. Karena sejujurnya ia sudah ingin sekali menikmati sarapan seperti dulu kala saat ia sehat.
"Kau pasti bosan ya?" tanya Natalie.
Nicholas buru-buru menggelengkan kepalanya, pertanda bahwa ia tidak bosan. "Nggak, kok. Sini suapin aku!"
Natalie tahu, dia sedang berbohong. Lantas Natalie meletakkan kembali piring berisi bubur khusu itu. Ia malah mengambil sepiring makanan miliknya. "Mau ini?"
__ADS_1
"Loh, kan aku 'gak boleh makan selain makanan itu."
"Gpp. Satu suap aja." Natalie terlihat menahan sesak di dadanya. Ia sebenarnya tidak tega jika harus melihat suaminya setiap hari seperti ini. Menikmati makanan dengan menu yang itu-itu saja, sementara mereka memiliki banyak uang yang bisa mereka belikan apa saja.
Ternyata, banyak uang tidak menjamin kebahagiaan jika Tuhan tidak mengizinkan kita untuk menikmatinya.
"Tapi, Nat. Aku ..."
"Buka mulutmu!"
Nicholas pun membukanya perlahan. Setelah makanan itu masuk, Nicholas langsung mengunyahnya. Enak, itu yang ia rasakan. Makanan itu terasa sangat enak sekali di mulutnya. Ada beragam rasa yang sudah beberapa bulan ini tak pernah ia rasakan.
Tiba-tiba air matanya menetes, mungkin karena terlalu mengharukan bagi Nicholas.
Hal lain pun dilakukan Natalie, wanita itu tiba-tiba mengambil kembali mangkuk makanan Nicholas. Lantas ia menyuapkan satu sendok bubur itu ke dalam mulutnya.
"Loh, Nat. Kok kamu makan itu?" tanya Nicholas.
"Biar adil," kata Natalie. "Dan mulai hari ini, kita akan makan makanan yang sama."
"Maksudmu?"
"Iya, apapun yang kau makan, itu juga akan menjadi makanan yang sama dengan apa yang ku makan. Supaya aku bisa menjadi temanmu, dan kau tidak merasakan ini sendirian."
Air mata Nicholas kembali berderai, tatkala melihat Bagaimana lahapnya Natalie menikmati makanan miliknya itu. Dia benar-benar tidak menyangka, Tuhan mengirimkan dia malaikat seindah Natalie.
Susah payah Natalie menelan makanan tanpa rasa itu. "Enak kok," ucapnya bohong hanya untuk membuat Nicholas semangat makan. "Ayo, sekarang giliran mu!" Natalie menyuapkan untuknya. Nicholas membuka mulutnya lebar-lebar, menerima suapan penuh cinta itu dari Natalie.
**Begitulah cinta yang sesungguhnya.
Ada dan selalu berusaha menjadi teman bersama, dalam apapun kondisi dan kesulitannya.
Semoga kita bisa dipertemukan dengan sosok penuh cinta seperti kisah cinta Natalie dan Nicholas.
__ADS_1
To be continued**