Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Nola yang Mulai Cemas


__ADS_3

Dua Minggu kemudian, Nola sudah cukup linglung di rumah. Sesekali Kakek Jefford akan menghiburnya. Tapi Nola sama sekali tidak merasa lebih baik. Sudah cukup lama pergi, Halbert bahkan tidak mengirim pesan sama sekali.


Pria itu pergi dengan Asisten Jae. Tapi tidak membawa Sekretaris Eli. Walaupun Sekretaris Eli sudah berulang kali berkata jika Halbert baik-baik saja, Nola masih tidak tenang.


"Kenapa dia tidak menghubungiku? Bukankah dia berjanji akan memberimu kabar setiap hari? Setidaknya sekali sehari. Ini bukan hanya tidak mengabariku, bahkan tidak bisa dihubungi," gumamnya.


Nola mengalami kecemasan yang cukup kuat saat ini hingga nafsu makan berkurang. Tidurnya juga tidak nyenyak. Hingga akhirnya dia sering sakit kepala. Tubuhnya juga menjadi sedikit kurus.


Kakek Jefford tidak tahan melihat gadis itu menjadi linglung sepanjang hari seraya memegang ponselnya. Mau tidak mau, Kakek Jefford menyalahkan Halbert. Tapi mengingat ke mana Halbert pergi setelah memberitahunya diam-diam, ia tak bisa berkata banyak.


"Nola, dia pasti sibuk saat ini. Orang-orang Timur Tengah memang cukup disiplin sehingga Halbert juga tidak bisa bermain ponsel dengan santai. Dan mungkin dia khawatir akan segera terbang kembali ke Negara A setelah rindu denganmu," jelas Kakek Jefford mencari alasan yang tepat.


"Tapi setidaknya dia bisa meminta Asisten Jae untuk mengirim pesan. Ini bahkan tidak ada sama sekali," kata Nola masih tidak bersemangat.


Kakek Jefford menghela napas. Tentu saja Asisten Jae tidak akan mengirim pesan. Dia pergi ke Timur Tengah sendirian untuk mengurus masalah bisnis tambang minyak di sana. Sedangkan Halbert pergi dengan Solachen ke tempat lain.


Dia mungkin menebak jika Solachen sengaja tidak membiarkan Halbert menelepon Nola. Kenapa ada seorang ayah begitu suka mencampuri urusan anak muda saat ini?


Jika gara-gara Solachen cucunya bertengkar dengan Nola di masa depan, dia pasti akan menembak pria itu di tempat.


"Setidaknya kamu makan sesuatu. Jika Halbert tahu kamu tidak makan, dia mungkin akan menyalahkan dirinya sendiri." Kakek Jefford masih membujuk.


Butler Flir datang seraya membawa dua cangkir teh serta tekonya. "Tuan Tua, Nyonya Muda, minumlah teh dulu untuk membasahi tenggorokan," katanya sopan.


Nola tidak tertarik untuk minum teh. Namun Kakek Jefford tentu saja ingin membuat suasana menjadi lebih tenang.


"Buatkan sesuatu untuk dimakan gadis itu," katanya pada Butler Flir.

__ADS_1


"Apakah tuan muda belum kembali?" Butler Flir sedikit terkejut.


Kakek Jefford menghela napas. "Belum. Dia pergi ke Timur Tengah untuk membahas masalah bisnis tambang minyak di sana. Dan baru akan kembali dua Minggu lagi."


Butler Flir sedikit khawatir. "Ternyata seperti itu. Tuan muda pasti baik-baik saja. Nyonya Muda jangan khawatir, tuan muda selalu sibuk dan dulu bahkan jarang pulang."


Tidak heran Nola terlihat linglung sepanjang waktu, tenyata karena Halbert tidak belum kembali atau mungkin tidak ada kabar. Butler Flir sedikit menyipitkan mata, lalu pergi ke dapur untuk menyiapkan camilan.


Nola tidak mau memperhatikan Butler Flir saat ini. Dia hanya berusaha untuk menelpon Halbert. Kali ini ponsel pria itu bisa dihubungi tapi tidak diangkat.


Apa yang sebenarnya dilakukan oleh Halbert saat ini. Mata abu-abu Nola menyipit curiga. Apakah Halbert memiliki wanita lain di Timur Tengah?


"Kenapa dia tidak mengangkat panggilan teleponku?" gumamnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Wajahnya sedikit pucat namun tidak ada niatan untuk mengeluh atau menyudahinya.


Solachen berada di tepi sungai, memperhatikannya berlatih. Sudah berulang kali ponsel Halbert berdering. Awalnya Solachen mengabaikannya. Tapi karena suara ponsel itu begitu menganggu, akhirnya dia Solachen memberanikan diri untuk mengambil ponsel Halbert dari saku jas.


Nama 'Istriku' tertera di layar ponsel. Ternyata Nola sudah menghubungi Halbert puluhan kali dan dalam dua Minggu terakhir. Mau tidak mau Solachen terkejut.


Karena mereka berada di hutan, sinyal sulit didapat. Belum lagi, jika panggilan telepon dijawab, maka Nola akan tahu jika Halbert ada di alam liar, bukan di gurun atau wilayah Timur Tengah. Ini merepotkan. Untuk mengirim satu pesan saja tidak bisa. Halbert sibuk dalam latihan ketat dua Minggu terakhir.


Semenjak Halbert berhasil membangkitkan aura supernatural di tubuhnya, kekuatannya tidak terduga. Solachen menebak jika Halbert memang keturunan keluarga esper sejak awal. Tapi kenapa bisa ditutupi dengan baik, mungkin masih ada hubungannya dengan keluarga Jefford di masa lampau.


"Putriku harusnya cemas saat ini? Jika tidak memberi kabar padanya, mungkin akan sangat khawatir. Tapi ... Latihan Halbert tidak bisa setengah-setengah," gumamnya.

__ADS_1


Biarkan Halbert yang mengurus ini setelah latihan selesai. Lagi pula pria itu sendiri yang harus bertanggungjawab.


Halbert baru saja bangkit dari bawah bawah air terjun setelah Solachen memintanya kembali. Wajah Halbert sedikit pucat tapi kali ini lebih baik daripada sebelumnya. Ia bisa merasakan perbedaan di tubuhnya. Bahkan langkah kakinya menjadi lebih ringan. Mungkin inilah yang dinamakan latihan seni bela diri dari Negara C.


"Latihan untuk hari ini cukup. Omong-omong, Nola telah berusaha menghubungi puluhan kali dan seminggu terakhir. Kenapa kamu tidak memberinya kabar lebih dulu?" Solachen menyerahkan ponselnya.


Halbert mengangguk. "Ya ..." Dia memang tidak menghubungi istrinya untuk memberi kabar. Nola pasti sangat khawatir.


Halbert hanya mengirim pesan pada Nola. Tidak panjang atau pendek. Dia memberitahukan situasinya di Timur Tengah saat ini. Kebohongan ini, dia sedikit tidak nyaman di hatinya. Tapi Solachen berkata jika tidak demikian, maka semua kebenaran di dunia ini tidak akan ada istimewanya.


Walaupun apa yang dikatakan Solachen agak aneh, Halbert masih memiliki rencana sendiri.


"Masih ada dua Minggu yang tersisa, simpan lebih banyak daya baterai ponselmu dengan baik." Solachen menepuk bahunya dan pergi untuk membuat api unggun.


Halbert mengerutkan kening. Tetesan air masih terlihat di rambutnya. Ia tidak mendapatkan balasan pesan dari Nola. Lalu segera mematikan ponselnya untuk menghemat daya baterai. Dia datang ke hutan dengan sedikit persiapan. Lokasi terpencil dipilih untuk menghindari serangan musuh yang menargetkan Solachen atau Halbert sendiri.


Halbert menyimpan ponselnya dan segera mengganti pakaiannya yang basah. Masih banyak ajaran supernatural yang akan diberikan Solachen padanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nola yang mendapatkan pesan singkat dari Halbert mau tidak mau kesal. Pria itu memberinya pesan tapi tidak menelpon. Apakah begitu sibuk? Ini tidak speed Halbert di hari biasa.


"Apakah dia menghubungimu?" tanya Kakek Jefford.


"Dia hanya mengirim pesan singkat. Mungkin bukan dia yang mengirimnya. Pasti orang lain." Nola curiga. "Jika itu dia, pasti sudah meneleponku. Dia jarang memberiku pesan singkat. Dia juga tahu bahwa aku ini buta dan sulit untuk melihat sepanjang waktu."


Kakek Jefford sepertinya mulai yakin jika Solachen lah yang mengirim pesan. Tidak tahu apa yang terjadi dengan Halbert sekarang, ia juga khawatir.

__ADS_1


Solachen yang jauh di pedalaman hutan saat ini tidak tahu jika Kakek Jefford telah memfitnahnya.


__ADS_2