Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Pertengkaran Ayah dan Anak Perempuan


__ADS_3

"Apa maksudmu?" Ekspresi Solachen sedikit berubah tercengang.


"Apa maksudku?" Nola tertawa mengejek dan menatapnya dengan tajam. "Aku tidak tahu apa tujuanmu! Tapi kamu harus ingat, aku tidak butuh perlindunganmu. Dari sejak aku kecil hingga dewasa, hanya ibu yang melindungiku. Aku tidak mengenal istilah perlindungan seorang ayah untuk putrinya! Bahkan tanpa kamu, aku bisa menghancurkan keluarga Neilson jika mau! Jika bukan karena ibu yang memintaku untuk tidak berurusan dengan keluarga Neilson, aku pasti sudah membunuh mereka semua! Aku tidak selemah itu hingga membutuhkan sosokmu! Apa bedanya antara kamu ada atau tidak ada?!"


Suara Nola menjadi sedikit sedak karena berteriak dan menangis. Air mata menggenang di pelupuk dns perlahan tumpah hingga pandangannya sedikit kabur. Ya, dia buta sejak lahir. Untuk melihat hal-hal kecil di sekitarnya, butuh banyak energi. Karena itulah, Nola menggunakan indera penciuman untuk menentukan benda apa saja di sekitarnya.


Ia dan Noria menderita di keluarga Neilson. Tuan Neilson tidak menyukainya karena buta. Nola berpikir ayahnya masih akan memiliki kasih sayang padanya. Tapi semua harapan itu hancur.


Hingga pada suatu hari, Solachen muncul sebagai ayah kandungnya. Ia merasa semua itu konyol! Kenapa baru muncul setelah ia memakai anting salib perak yang diberikan Dokter Visco padanya? Dan kenapa ibunya menyembunyikan semua ini?


Akan bagus jika sejak awal tidak ada adegan di mana ia bertemu Solachen. Tidak seharusnya ia memakai anting itu sehingga Solachen tidak akan mengidentifikasi dirinya sebagai putri kandungnya.


Solachen sudah bernapas saat ini dan menatap gadis itu dengan ekspresi tidak percaya. Seberapa besar kebencian Nola padanya, ia tahu. Nola mengeluh padanya begitu banyak tentang kehidupan masa lalu. Terutama menyangkut Noria.


"Nola, kamu ..." Solachen kehilangan banyak kata-katanya saat ini.


Semua ini memang kesalahannya. Solachen tak bisa membantah. Ia hanya berpikir untuk muncul di depan Nola dan menjaganya sebagai seorang ayah yang mencintai putrinya. Ia bisa kembali bersatu dengan putrinya. Tapi tampaknya Nola tak pernah mengatakannya datang.

__ADS_1


Mungkinkah sejak awal ia salah? Mungkinkah semuanya akan baik-baik saja jika ia tidak muncul dan mengaku sebagai putrinya?


Seandainya berpura-pura menjadi orang asing, Nola pasti akan hidup dengan baik dengan Halbert setiap hari. Ia tak perlu hadir sebagai ayah kandung gadis itu.


Nola tidak peduli dengan apa yang dipikirkan Solachen saat ini. Ia melepas anting salib perak yang dipakainya dan melemparkannya ke arah pria itu.


"Aku sama sekali tidak pernah berniat untuk mengakuimu sebagai ayahku! Jadi lebih baik kamu hilangkan semua gagasan itu! Karena jika tidak, aku hanya akan semakin membencimu!" Setelah berkata demikian, Nola meninggalkannya sendiri tanpa menoleh ke belakang lagi.


Solachen sudah lama menahan dirinya untuk tidak gemetar di dalam Nola. Ia langsung muntah darah dan wajahnya sepucat kertas. Rangsangan batin yang diberikan putrinya sangat luar biasa hingga penyakit lamanya kambuh lagi.


"Noria, apakah semua yang kulakukan benar-benar salah? Jika kamu masih hidup, apakah kamu juga akan membenciku?" gumamnya dengan suara gemetar.


......................


Nola kembali ke kamar hotel yang dipesannya. Ia dalam suasana hati yang buruk saat ini sehingga mengabaikan Halbert. Pria itu tentu saja tidak senang diabaikan tapi melihat wajah istrinya merah karena menangis, ia tertegun. Sepertinya pembicaraan ayah dan putri itu tidak berjalan dengan baik.


"Istriku—"

__ADS_1


"Diam!" Nola menukas dan menatap Halbert dengan tajam. "Karena kamu sangat perhatian pada Solachen, maka pergilah dns temani dia!"


"Nola, dia adalah ayahmu. Kamu tidak bisa memanggil ayahmu dengan namanya." Solachen sedikit menasihatinya.


"Sudah kubilang bahwa aku tidak pernah mengakuinya sebagai ayahku! Berapa kali aku mengatakan ini, kenapa kamu tidak mendengarnya?" Nola kesal pada Halbert.


Keduanya saling bertatap muka selama beberapa saat. Tidak ada yang mau mengalah hingga akhirnya Halbert menghela napas kasar.


"Kamu masih memiliki anggota keluarga yang hidup, harusnya lebih bersyukur. Dia setidaknya datang dan mengakui serta melindungimu. Apa yang salah? Bahkan jika ibumu sudah tiada, masih ada sosok ayah yang mencintaimu!"


Nola sudah mual dengan kata-kata seperti itu. Kenapa Halbert selalu ingin dia dan Solachen bisa berbaikan?


"Cukup, Halbert! Cukup!" Nola menutup kedua telinganya sebentar, berlagak tidak mau mendengar nya lagi. "Solachen hanya pria pengecut yang meninggalkan ibuku untuk menderita di keluarga Neilson! Dia sama sekali tidak layak kupanggil ayah! Aku lebih berharap bahwa dia tidak pernah ada di kehidupan ibuku!"


Kali ini pupil mata Halbert mengecil dan rahaganya mengeras. Hingga akhirnya dia tak bisa menahan diri untuk mengangkat tangannya.


Suara tamparan yang keras menggema di ruangan itu.

__ADS_1


__ADS_2