Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Menyusul


__ADS_3

Mikeson sangat gigih untuk melawan Halbert hingga tak membiarkannya melarikan diri sama sekali. Kabut hitam yang menjerat Mikeson juga perlahan memudar sedikit. Tapi Halbert tidak terpengaruh sama sekali.


Setelah pertarungan yang cukup panjang, kedua belah pihak jelas kehabisan sebagian energi. Halbert bahkan menyeka darah di sudut bibirnya ketika tubuhnya terkena imbasan ekor buaya Mikeson. Tubuh keduanya basah kuyup karena hujan.


Mutasi Mikeson saat ini jelas tidak normal. Tubuhnya mungkin akan rusak jika kembali ke wujud manusianya.


“Nak, kenapa kamu tidak melawan? Menghindar bukan caramu selama ini.” Mikeson tertawa lagi. dia mengeluarkan botol kecil berisi cairan berwarna ungu dan meneguknya tanpa kesulitan.


Halbert menyipitkan mata. Botol itu harusnya berisi ramuan penambah tenaga. Sepertinya mutasi Mikeson terbatas. Jika tidak meminum ramuan, tubuhnya akan melemah. Berapa banyak ramuan yang dia miliki sebenarnya?


Setelah meneguk ramuan, tubuh Mikeson memang penuh energi seperti sebelumnya. Walaupun curang, jadi memangnya kenapa? Selama kemenangan bisa didapat, dia tidak peduli sama sekali.


Mikeson menunjukkan deretan gigi buaya nya yang jelek dan mengerikan. Lalu membuang botol ramuan seperti sampah yang tak berguna.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sudah dini hari semenjak Halbert tak bisa dihubungi. Nola juga tak bisa tidur nyenyak saat ini. Setiap kali dia mencoba tidur, mimpi buruk menghampirinya. Jika itu mimpi buruk biasa, ia tak peduli. Namun mimpinya berkaitan dengan Halbert.


Dalam mimpi itu, Nola melihat Halbert berlumuran darah. Bau darah tercium di mana-mana. Ketika Nola mencoba menghampirinya, Halbert sudah tidak bernyawa. Mimpi itu sangat mengerikan hingga Nola sudah berkeringat dingin saat terbangun.


Di luar hujan deras, sama seperti dalam mimpi di mana Halbert berlumuran darah dan tubuhnya menjadi dingin. Pria itu tak menyesal mati setelah mengalahkan Mikeson.


Nola sangat patah hati dan menangis sangat keras dalam mimpi, mengutuk Mikeson yang membunuh suaminya.


Nola sudah pucat saat ini. Perasaannya sangat tidak nyaman.


“Halbert, apakah kamu baik-baik saja?” gumamnya.


Dia bangkit dari tempat tidur dan pergi ke kamar Lucas. Bayi itu tidur nyenyak. Nola menggendongnya dengan hati-hati dan memeluknya sebelum meletakkannya kembali. Tampaknya sangat berat untuk berpisah dengannya.


“Sayang, tunggu Ibu kembali. Ibu akan membawa ayah pulang, okay? Jangan nakal, ya?” bisiknya. Ia melirik Orange. “Kamu jaga Lucas selama aku pergi.”

__ADS_1


“Kenapa aku tidak ikut bersamamu, meow?” Orange juga ingin pergi. Membosankan harus menjaga bayi.


“Tidak, jika kamu pergi, siapa yang akan menjaga Lucas? Saat ini, hanya kamu yang terkuat di sini.”


Orange ingin mengeluh tapi tentu saja dia tahu. “Kamu tak bisa pergi sendiri.”


“Aku akan membawa Sean bersamaku,” katanya.


Nola keluar kamar dan membangunkan Butler Cello yang tidur tapi tidak tidur. Dia juga mengkhawatirkan Halbert saat ini. Melihat Nola bangun, Butler Cello terkejut.


“Nyonya Muda, ini masih dini hari. Apakah butuh sesuatu?” tanyanya.


Nola mengembuskan napas tidak berdaya. “Aku akan mencari Halbert. Tolong jaga Lucas. Orange akan menjaga rumah saat ini. Beri tahu kakek nanti jika aku menyusul Halbert,” jawabnya.


Butler Cello ingin membujuknya untuk tidak pergi. Tapi Nola sudah bertekad di hatinya. Wanita muda itu tampaknya bermimpi buruk. Akhirnya, Butler Cello mengangguk. Ia memberikan nasihat agar berhati-hati.


Nola menghubungi Sean yang saat ini berada di perjalanan mencari Halbert. Tanpa diduga, Nola juga berniat untuk mencarinya. Sean putar balik dan menjemput Nola. Hujan di luar sangat lebat hingga Sean harus berhati-hati saat menyetir.


“Masih belum terhubung. Apakah kamu sudah melacak keberadaan mereka?”


Nola duduk di kursi belakang dengan gelisah. Sean mengangguk.


“Sinyal terakhir yang kami temukan berada di jalan besar yang sepi. Tidak ada permukiman, hanya hutan dan lembah. Lokasi itu masih cukup dekat dengan markas Geng Kalajengking Hitam,” jelasnya.


“Kalau begitu pergilah ke lokasi itu.” Nola menyipitkan mata. Ia khawatir mobil yang ditumpangi Halbert mengalami kecelakaan di tengah.


Sean pergi ke lokasi terakhir mobil Halbert terdeteksi. Dan berhenti di pinggir jalan yang gelap. Nola meminta Sean mematikan lampu mobil. Ia merasa ada beberapa napas orang biasa yang berjaga di sekitar. Tampaknya benar jika Halbert hilang di lokasi ini.


“Ada beberapa orang di sekitar ini dan semuanya bukan orang baik. Kamu hubungi yang lain untuk meminta bantuan. Aku akan mencari keberadaan Halbert dan Frangky,” katanya.


“Tidak! Nyonya Bos, aku juga akan pergi. Jangan khawatir, aku akan mencari Frangky dan tidak akan mengganggu pencarian.” Sean juga keras kepala.

__ADS_1


Dia segera menghubungi anggota mafia yang lain untuk datang ke tempat yang dimaksud. Datanglah dengan banyak persiapan. Ia siap untuk menghabisi anggota Geng Kalajengking Hitam sekarang.


Keduanya keluar mobil dalam keadaan hujan-hujanan. Tapi tidak masalah sama sekali. Nola merasa tebing cukup curam. Dia memeriksa sekitar dan menemukan ada kejanggalan.


“Nyonya Bos, ini jejak mobil … tidak mungkin bos terjatuh ke tebing ini ‘kan?” Sean tak bisa membayangkan apa yang terjadi setelah mobil meluncur bebas ke tebing.


Ekspresi Nola juga tidak bagus. Namun untungnya ada beberapa bebatuan dan cabang yang bisa dipijaki. Sayangnya hujan turun deras hingga jalannya menjadi licin. Nola memutar otak untuk bisa turun dan akhirnya nekat untuk mencobanya.


“Nyonya Bos, apakah yakin akan turun dari sini? ini cukup terjal dan licin … bagaimana jika langsung jatuh?” Sean tidak yakin.


Ia takut mati bukan berarti tidak berani mencoba. Hanya saja gelap dan jalannya terjalin. Ini tebing, bukan jalan menanjak!


“Kamu mungkin bisa mati jika lompat. Tapi aku akan baik-baik saja. Pegang tanganku,” katanya.


“Hah? Nyonya Bos, apa yang ingin dilakukan?” Sean bingung. Nyonya Bos tidak akan gila untuk mengajaknya mati bersama bukan?


Pikiran Sean menjadi liar. Dia tanpa sadar mengulurkan tangan dan Nola tidak sabar. Dia meraih tangan Sean dan langsung melompat. Seketika, pikiran Sean menjadi kosong. Dia ingin berteriak tapi tak ada suara yang mampu keluar dari mulutnya. Tenggorokannya seperti tersegel sesuatu.


Hingga saat tiba di lembah yang gelap dan basah, Nola melepaskan tangan Sean. Kaki Sean gemetar hingga lupa bagaimana rasanya melompat tadi. Ini sungguh ajaib. Kekuatan orang supernatural ini bukan hanya di film saja, tapi nyata.


Nola menggunakan insting aura supernaturalnya untuk menemukan jejak Halbert. Dia tanpa sadar merasakan sedikit kesadaran aura dari arah tertentu.


“Ayo periksa di sana,” katanya.


Sean mengikuti langkah Nola, khawatir kehilangan jejaknya. Keduanya sampai di sebuah gua yang cukup. Mulut gua tertutupi tanaman merambat hingga Sean bahkan tak menyadari ada gua di dalamnya.


Nola merasakan aura Halbert di sini dan sepertinya sebuah lapisan pelindung. Nola tidak memecahkannya sama sekali. Ia masuk dengan mudah bersama Sean.


Di dalam gua, Frangky sudah menodongkan pistol saat merasakan ada beberapa langkah mendekat. Ia pikir itu adalah anggota Geng Kalajengking Hitam, ternyata dua orang yang dikenalnya.


“Sean? Nyonya Bos?” Frangky terkejut dan akhirnya meletakkan pistolnya kembali.

__ADS_1


“Frangky!” Sean menghampiri Frangky yang kaki dan dahinya berdarah. “Apakah kamu baik-baik saja? Di mana bos?” tanyanya.


__ADS_2