
Suara teriakan Juliana tidak besar atau kecil. Namun tubuhnya lemas saat mencoba keluar mobil. Api tidak tahu kapan dan bagaimana bisa menyebar ke mobilnya dengan cepat, Juliana hanya ingin keluar mobil untuk menyelamatkan diri.
Sayangnya, mobil tak bisa dibuka sama sekali. Juliana tambah panik. Ia menggedor kaca pintu mobil sambil terus berteriak minta tolong. Asap masuk ke mobil dan membuatnya batuk berulang kali.
Juliana mengabaikan rasa sakit di tubuhnya yang semakin parah.
"Tolong!! Tolong ...! Siapapun tolong aku!" teriaknya agak serak.
Samar-samar, Juliana bisa melihat seseorang berdiri di laut mobil. Ia langsung menyalakan harapan terakhir di hatinya. Meminta tolong pada orang itu. Sayangnya, orang yang beridri di luar mobil tampaknya tidak berniat untuk menolongnya sama sekali.
Meskipun pandangan Juliana agak kabur, ia sedikit melihat wajah orang itu. Seorang pria yang tidak dikenalnya, berekspresi datar bahkan sepertinya sedang menikmati pemandangan mobil yang dilalap api.
Juliana tersentak di hatinya, memikirkan sesuatu. Ia mengira jika orang itu sengaja ingin membunuhnya. Mungkinkah Sin sendiri sudah mati?
Tidak mungkin!
Jelas Sin menelepon nya untuk datang ke lokasi yang dikirimkan. Ia datang untuk mengetahui keadaan Halbert dan Nola yang telah menjadi mayat. Tapi bagaimana bisa dirinya yang akan mati kali ini?
Pada akhirnya, Juliana tidak berdaya. Setelah Ali hampir melahap semua badan mobil, dia kehilangan napasnya.
Pria suruhan Frangky melihat tugasnya selesai, lalu segera menghubungi polisi. Ia membuat alasan yang kuat tentang kecelakaan mobil.
Mobil Juliana sengaja dibakar dengan cairan yang mirip bensin. Namun tidak memiliki warna dan aroma. Bahkan jika polisi investigasi datang untuk memeriksa, mereka tidak akan menemukan kelainan. Paling-paling, mereka berpikir jika mesin mobil bermasalah hingga menyebabkan kebakaran.
Di sisi lain hutan, Frangky mendapatkan kabar jika misi untuk membunuh Juliana telah berhasil. Ia menghela napas lega. Kemudian, ia menghubungi Halbert untuk melaporkan kejadian tersebut.
Adapun untuk mayat Sin, tentu tidak bisa ditemukan oleh polisi. Sin bukan manusia biasa. Di dunia ini, polisi mungkin akan mengira jika kasus kematian Sin disebabkan oleh komplotan pembunuh berantai yang kejam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Halbert berada di ruang kerja dan mengobrol dengan kalajengking hitam supernatural. Setelah keduanya saling memahami satu sama lain tentang perjanjian kontrak tuan-pelayan, smartphone Halbert berdering.
Nama Frangky tertera di layar. Halbert sudah menebak apa yang mungkin akan dilaporkan orang kepercayaannya. Ia akhirnya menerima panggilan telepon.
__ADS_1
"Bagaimana?" tanyanya langsung ke inti.
"Semuanya beres, bos." Frangky menjelaskan apa yang terjadi dengan Juliana. Dia masih memiliki sedikit kekhawatiran tentang pembunuhan Juliana.
Cairan bensin tak berwarna dan berbau yang didapatkan mereka dari pasar gelap jelas tidak terendus oleh pihak berwenang. Lebih baik tidak terendus sampai waktu yang ditentukan.
Frangky meminta saran dari Halbert tentang cara mengatasi kematian Juliana. Meski anak buahnya telah membuat pernyataan palsu pada polisi, ia khawatir masih dicurigai.
Halbert mengerutkan kening, sedikit tidak sabar. "Hubungi asisten Jae, dia tahu apa yang harus dilakukan." Setelah itu, ia mengakhiri panggilan telepon lebih dulu sebelum Frangky mengatakan sesuatu.
Raja Kalajengking Hitam Supernatural hanya mendengarkan di atas meja kerja Halbert. Kedua capitnya sedikit dimainkan.
"Apakah wanita itu juga mati?" tanyanya.
"Ya. Kamu menyesal?" Halbert menatapnya.
"Tidak, ini bagus."
Raja Kalajengking Hitam Supernatural dulu juga peliharaan Juliana sebelumnya. Sebelum akhirnya diambil oleh Nola dan kini menjadi binatang supernatural terhormat.
"Mungkin mencari tahu tentang butler Flir." Ada cahaya dingin di mata Halbert saat mengatakan hal tersebut.
Butler Flir ... yang telah bekerja di keluarga Jefford sejak lama, terbuka bukan orang yang harus diandalkan di masa depan. Ia khawatir saat Butler Flir kembali, suasananya tidak akan sama seperti dulu.
Tak lama, pintu ruang belajarnya diketuk oleh Kakek Jefford.
"Halbert, datang ke ruangan ku sebentar." Suara Kakek Jefford sedikit serius.
Halbert tidak menyahut. Dia hanya bangkit dari duduknya dan melangkah keluar ruang kerjanya. Saat datang ke ruang kerja Kakek Jefford, suasananya sedikit halus.
Kakek Jefford duduk di sofa utama yang ada di ruangan itu. Halbert duduk di seberangnya. Ada dua cangkir kosong dan seteko teh yang masih panas.
"Kakek, apakah ada sesuatu yang ingin dibicarakan denganku?" Halbert menuangkan teh ke dua cangkir di atas meja.
__ADS_1
"Insiden malam ini, kamu yang melakukannya?" tanya Kakek Jefford tidak basa-basi.
Tentu saja yang dimaksudnya adalah kematian Sin dan kecelakaan Juliana. Tidak sulit bagi Kakek Jefford untuk mengetahui hal ini.
"Ya," jawab pria itu datar.
"Karena kamu sudah memulai, tentu saja kamu harus siap menghadapi Geng Kalajengking Hitam. Dengan kekuatanmu saat ini, apakah kamu yakin?"
"Aku punya rencanaku sendiri."
Kakek Jefford menghela napas tidak berdaya. "Nak, aku tidak perlu menyembunyikan apapun darimu. Tapi jujur saja Kakek tidak tahu banyak tentang urusan orangtuamu sebelumnya."
Saat mengetahui ada terowongan air di kebun halaman belakang, Kakek Jefford tidak berbicara banyak. Ia tidak tahu tentang apa saja yang ada di sana. Tapi bukan berarti putranya yang sudah meninggal dulu tidak mengerti sesuatu. Mungkin ada sesuatu di dalam sana yang disembunyikan.
Keluarga Jefford telah berdiri cukup lama dan mendapat pijakan kuat di ibu kota. Walaupun tidak memiliki anggota keluarga lain, kekayaan dan kekuasaan keluarga Jefford di tangan Halbert sudah cukup untuk menjadi yang teratas.
Tapi terkadang, beberapa hal tidak bisa diceritakan. Misalnya hal-hal yang terjadi di rumah lama.
"Jika keluarga Jefford dulu adalah keturunan keluarga supernatural, maka Kakek tidak bisa berbuat apa-apa. Lagi pulau masa lalu dan masa kini sudah berbeda. Tapi jika kamu ingin membangkitkan kekuatan lama, Kakek tidak akan melarang mu. Namun Kakek hanya ingin memberimu nasihat, jangan dibutakan oleh kekuasaan dan kekuatan yang tak terlihat," tutur pria tua itu panjang lebar, menatap Halbert dengan eskpresi serius dan penuh peringatan.
Tangan Halbert yang memegang gagang cangkir teh sedikit mengencang. "Apakah Kakek tahu sesuatu tentang keluarga Jefford terdahulu?" tanyanya.
Kakek Jefford menghela napas panjang, lalu bangkit dan menghampiri rak buku. Ia sepertinya mengambil salah satu buku yang tidak mencolok sama sekali. Buku itu ia serahkan pada Halbert.
"Meskipun dulu keluarga Jefford pernah berada di masa jaya supernatural, tapi sudah lama sekali. Ini tidak berbeda jauh dengan keluarga supernatural lainnya. Di dalam buku ini tercatat beberapa sejarah tentang keluarga supernatural lainnya. Kamu bisa membacanya perlahan nanti."
Kakek Jefford sudah tua dan tidak tahu kapan akan tidur di bawah tanah selamanya. Ia hanya ingin cucunya hidup dengan baik dan memiliki fondasi yang kuat setelah dia mati nanti.
Keluarga Jefford sudah hampir punah. Halbert adakah satu-satunya keturunan saat ini. Ia hanya berharap Halbert dan Nola melahirkan beberapa anak untuk mengisi rumah dan membangkitkan kembali masa jaya keluarga Jefford.
"Lalu ... Bagaimana anggota keluarga Jefford mati sebelumnya?" Halbert memegang buku itu tanpa melihat isinya.
"Tentu saja ... dibunuh musuh lama keluarga supernatural lainnya."
__ADS_1
Halbert sedikit menegang sebentar sebelum akhirnya menemukan ketenangan di matanya.