
Mo Shige menyerang Nola dengan aura supernaturalnya. Dia menghempaskan tubuh gadis itu ke luar kamar hingga membentur dinding.
Tak ada satu pun pelayan yang bangun atau menyadari keributan tersebut. Semua orang di rumah sudah jatuh dalam mantra tidur, termasuk Kakek Jefford.
Nola seketika muntah darah dan wajahnya pucat. Serangan Mo Shige tidak kecil. Pria itu juga sangat kuat.
"Lucas ..." Nola mencoba untuk bangun. Kemarahannya benar-benar akan meledak kali ini.
"Kamu bukan lawanku, Nola. Jika kamu ingin menyelamatkan anak ini, maka kamu ikut denganku." Mo Shige yang mencoba menggendong Lucas tiba-tiba saja terdiam sebentar.
Lucas terbangun dan akhirnya menangis sebentar. Setelah melihat sosok Mo Shige yang cukup jelek, Lucas malah tertawa senang. Dia mengulurkan tangan kecilnya ke udara, bermain sendiri.
Mo Shige tidak bisa mengangkat tubuh Lucas sama sekali. Tubuh anak itu seperti menempel erat di kasur. Ini sangat berat.
"Apa kemampuanmu? Kenapa aku tidak bisa mengangkatmu?" Mo Shige tanpa sadar menyentuh wajah Lucas yang sangat lembut.
Lucas tidak bicara apapun selain menangis dan tertawa, menggenggam jari telunjuk Mo Shige yang terulur. Tanpa diduga, Mo Shige mengerang kesakitan.
"Kamu—" Mo Shige tidak menyangka jika anak yang bahkan belum bisa berjalan itu meremas jarinya dengan sangat kuat.
Remasan tangan Lucas semakin mengencang hingga Mo Shige tak bisa lagi menahannya. Dia melepaskan diri. Belum lagi, aura gelap yang sangat jahat di tubuhnya semakin terkuras dengan kecepatan tak terduga. Semua ini gara-gara Lucas.
Pandangan Mo Shige pada Lucas kini berubah. Anak ini mampu menyerap auranya, sangat rakus. Lebih rakus darinya.
Anak ini dilahirkan untuk bermusuhan dengannya.
"Kamu akan menghalangi jalanku di masa depan. Lebih baik membunuhmu!" Mo Shige menyipitkan mata.
Jika tidak melakukan perjalanan ini secara pribadi, ia mungkin tak akan pernah tahu kemampuan Lucas.
"Mo Shige, jangan sentuh putraku!" Nola berjalan agak tertatih menuju kamar Lucas.
Mo Shige menatap Nola. Ya, lebih baik membawa gadis itu dari pada Lucas. Mo Shige berniat untuk menangkap Nola. Tapi lagi-lagi aura yang sangat kuat mendorongnya hingga menabrak jendela sampai pecah.
Lucas tertawa dan menatap Mo Shige seperti sedang bermain. Mo Shige memuntahkan seteguk darah.
"Kamu lagi!!" geram Mo Shige. Kali ini aura supernatural nya terkuras lebih banyak daripada sebelumnya.
__ADS_1
Nola akhirnya tiba di samping Lucas, memeluk anak itu dengan erat. Ia memastikan jika Lucas baik-baik saja.
Orange bukan lawan Mo Shige, dia hanya memperhatikan saja. Dia tahu Lucas tidak biasa. Bahkan bisa melawan Mo Shige. Sungguh melawan takdir!
Dua utusan Mo Shige akhirnya muncul. "Tuanku!" Keduanya segera me bantunya berdiri. "Tuanku, apakah kamu baik-baik saja?"
Mo Shige menatap Nola dan Lucas dengan tatapan membunuh. "Bunuh mereka berdua untukku! Kali ini aku tidak peduli dengan nilai mereka lagi!" titahnya.
"Ya!" Dua utusan itu tidak ragu untuk segera melompat ke arah Nola yang menggendong Lucas.
Nola bisa menggendong Lucas dengan satu tangan hingga tangan satunya lagi bisa melawan mereka.
Namun belum juga menggerakkan tangannya, dua ekor macan tutul kembar muncul di udara kosong dan menerkam kedua utusan itu tanpa ragu.
"AHHH!!" Dua utusan itu merasakan sakit di leher. Ini jelas tindakan membunuh.
Mo Shige melihat dua binatang supernatural yang tampak akrab, bukankah ini anak macan tutul supernatural dari pulaunya?
Orang yang membawa mereka ternyata adalah Nola!
Keheranan dan keraguan Nola belum usai. Setelah Mola dan Moly menyerang dua utusan itu, sekeliling dinding kamar Lucas penuh dengan tanda aneh yang bercahaya.
Mo Shige waspada, melihat tanda-tanda itu lalu menyadari jika semua ini hanya jebakan. Namun Nola tampaknya tidak tahu tentang ini.
Dua sosok lain akhirnya muncul di belakang Mo Shige.
"Solachen, Halbert! Jadi begitu rupanya!"
Solachen tersenyum pada Mo Shige. "Siapa yang tahu jika ular akan keluar dari sarangnya tanpa perlu dipancing. Mo Shige, kamu juga punya hari ini," katanya.
"Solachen!" Mo Shige sudah lama mengincar Solachen. Tapi tidak tahu jika dia akan jatuh ke tangannya malam ini.
Halbert sudah menghampiri Nola dan memeluknya bersama anak itu. "Maaf, aku tidak memberi tahumu soal rencana ayah sebelumnya. Membuatmu dan Lucas menjadi taruhan," bisiknya.
Nola tidak mengatakan apa-apa. Dia memeluk Halbert dengan satu tangan, sedikit gemetar. Nola tidak peduli dengan rencana mereka. Dia hanya takut Lucas dalam bahaya.
Sekarang Solachen dan Mo Shige harus menyelesaikan urusan lama. Keduanya menghilang di tempat, bersamaan dengan simbol-simbol bercahaya di dinding.
__ADS_1
Mola dan Moly menyeret kedua utusan keluar dari kamar Lucas. Keduanya membunuh dua orang itu tanpa kesulitan.
Ketika Mo Shige pergi dengan Solachen, Manyar tidur juga pecah. Semua orang yang berjaga di luar terbangun satu persatu. Kecuali para pelayan dan Kakek Jefford yang tidur, tidak merasa ada yang salah sama sekali.
Tiba-tiba saja Nola melepaskan pelukan Halbert dan menatapnya dengan tajam.
"Nola ..." Halbert tahu gadis itu pasti marah sekarang.
"Halbert, tidak masalah jika kamu ingin menggunakanku sebagai umpan, tapi tidak bisa menggunakan Lucas! Dia masih bayi, tahukah kamu? Bagaimana jika sesuatu benar-benar terjadi pada Lucas? Mampukah kamu membayarnya? Aku tahu kamu tidak suka Lucas karena dia adalah laki-laki. Tapi Lucas juga lahir dari perutku!"
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Nola meninggalkan kamar Lucas dan kembali ke kamarnya sendiri.
Halbert menyusul tapi pintu kamar dikunci dari dalam. "Sayang ... Buka pintunya. Aku tahu ini sangat berisiko. Ini semua rencana ayah. Aku hanya mengikuti keinginan ayah."
Halbert terpaksa melemparkan kesalahan pada Solachen. Maafkan dia tentang ini. Tapi dia tidak bisa menyinggung istrinya sekarang. Bagaimana jika suatu hari Nola tidak mau punya anak lagi karena dia bahkan tak bisa menjaga Lucas dengan baik.
Dia belum punya anak perempuan!
Tak lama, Halbert mendengar suara Nola menangis di kamar. Ia akhirnya terdiam di depan pintu kamar dan duduk bersandar di sana. Ia sebenarnya bisa menerobos masuk. Tapi pasti Nola akan lebih marah.
Hingga akhirnya suara tangisan Nola perlahan mereda.
Di dalam kamar, Nola yang sudah bermata sembap menatap Lucas di pelukannya. Dia memeluknya lagi, khawatir akan kehilangannya.
Lucas yang terjaga tidak menangis tapi menatap ibunya yang penuh air mata. Mulut si kecil sesekali akan berceloteh tidak jelas, seolah-olah menghiburnya.
"Sayang, Ibu tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu," gumamnya.
*
Halbert masih duduk di tempatnya sampai pukul tiga pagi. Semua ruangan gelap, hanya menyisakan lampu dinding yang cahayanya lebih temaram.
Tak lama, Solachen kembali dengan kondisi lebam dan acak-acakan. Walaupun dia tidak membunuh Mo Shige, pihak lain setidaknya terluka parah. Mo Shige membutuhkan waktu cukup lama untuk memulihkan luka-lukanya.
Belum lagi, Solachen juga akan langsung menyerang Organisasi Supernatural Dunia selama Mo Shige memulihkan diri.
"Kenapa kamu di sini?" tanyanya bingung. "Di mana Nola? Apakah anak itu baik-baik saja?"
__ADS_1