
Nola membawa Orange berbelanja. Kucing itu jelas senang. Dia sudah bosan di rumah. Hanya bermain ke sana dan kemari. Lalu makan dan tidur. Tubuhnya mulai gemuk. Tidak heran Raja Kalajengking Hitam supernatural akan berkata dirinya butuh olahraga.
"Nyonya Muda, pusat perbelanjaan mana yang akan didatangi?" tanya Butler Cello seraya fokus menyetir.
"Bawa saja ke pusat perbelanjaan terbesar di sini."
"Ya." Butler Cello menetapkan tujuan di hatinya.
Ia tahu tempat perbelanjaan terbesar dan mewah. Banyak orang-orang kelas atas datang dan pergi di sana. Sesampainya di depan gedung perbelanjaan besar, Nola keluar mobil sambil memegang tongkat putihnya.
Butler Cello peri memarkirkan mobil lebih dulu sebelum akhirnya menemani gadis itu berbelanja.
Toko pertama yang didatangi Nola merupakan pakaian pria. Dia ingin membeli dasi untuk Halbert.
Lalu dia juga pergi ke toko sepatu, tas, pakaian mahal, perhiasan serta kosmetik. Tangan Butler Cello penuh dengan barang belanjaan tapi ekspresinya tetap santai.
Penjaga toko yang bertugas di masing-masing tempat tahu jika Butler Cello adalah pelayan keluarga besar. Meski Nola tampak buta tapi bisa memilih barang dengan baik. Hanya menanyakan warna yang sesuai saja.
Jadi, apakah gadis itu buta atau tidak?
Selesai berbelanja, Nola juga pergi ke tempat aksesoris dan peralatan kebutuhan hewan peliharaan.
"Orange, pilihlah yang kamu suka. Omong-omong, bantalmu juga belum diganti-ganti. Ayo beli satu. Pilih juga tempat tidur keranjang, mainan serta selimut bulu."
Meow! Orange melihat banyak barang khusus kucing di dalam toko peralatan. Ia berjalan-jalan dan memilih barang yang disukainya.
"..." Penjaga toko melihat seekor kucing menyentuh barang yang diinginkan. Dia mau tidak mau penuh tanda tanya.
Apakah kucing ini mengerti bahasa manusia? Hidup di keluarga kaya, pilihlah yang mahal!
Ketika Orange selesai memilih kasir toko itu menghitung jumlah yang harus dibayar. Setelah membayar, mereka pergi.
Penjaga toko yang bertugas melayani pelanggan mau tidak bergosip dengan wanita penjaga kasir.
"Kucing pintar seperti itu, harusnya mahal bukan? Betapa mengertinya bahasa manusia, memilih barang sendiri. Ketika salah mengambil barang, kucing itu mengeong protes padaku. Untung dia imut, aku tidak marah sama sekali."
"Semua kucing itu sama saja. Tapi hanya ada satu yang beda," timpal wanita penjaga kasir.
"Apa yang beda?"
__ADS_1
"Kucing seperti itu makan sepotong ikan seharga 100 dolar setiap harinya."
Si penjaga kasir memiliki seekor kucing di rumah. Kucingnya hanya makan makanan kaleng yang harganya bahkan tak mencapai angka 5 dollar. Itu pun untuk sekali makan. Memikirkan uang yang hilang, si penjaga kasir merasa sakit di hatinya.
Memelihara kucing itu tidak mudah. Makanannya mahal.
"..." Si penjaga toko menatap rekan kerjanya dengan heran. Sepotong ikan seharga 100 dolar?
Jika sepotong ikan yang dimakan kucing bisa membuat otak pintar, bisakah dia juga memakannya? Kebetulan, dia juga ingin menjadi pintar hingga rumus matematika bisa dihafalnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Butler Cello memasukkan semua barang belanjaan ke bagasi. Menyusunnya dengan rapi. Nola sedikit lapar sehingga dia mampir ke salah satu restoran terdekat.
Butler Cello tidak ikut tapi menunggu di dalam mobil.
Agar Orange bisa makan, Nola memesan tempat pribadi yang memperbolehkan hewan peliharaan makan. Dia memesan hingga ikan untuk Orange. Sedangkan dirinya sendiri makan spageti yang katanya sangat enak di restoran tersebut.
"Permisi, Nona. Bisakah aku duduk di meja yang sama denganmu?"
Suara seorang pria membyyarkan kefokusan Nola. Gadis itu memegang garpu dan melilit spageti yang lurus. Dia menatap seorang pria asing yang menghampiri meja pribadinya.
Pria asing itu, ia tidak pernah melihatnya sama sekali.
Ia merasa pria di depannya bukan orang biasa.
"Namaku Leon. Kita belum pernah bertemu secara langsung. Tapi aku sudah lama mengagumi kecantikan Nyonya Muda Jefford."
"Benarkah? Kalau begitu ... duduklah."
Nola menaikkan sebelah alisnya dan makan spageti dengan anggun. Ia ingin tahu apa yang akan dilakukan Leon padanya. Pria itu tidak memberinya rasa bahaya. Tapi entah kenapa membuat perasaannya sangat tidak nyaman.
Nola tidak tahu saat keduanya makan di meja yang sama, seseorang mengambil foto di kejauhan. Ini masih definisi tinggi.
Keduanya mengobrol seputar apa yang terjadi di kota baru-baru ini. Leon juga mengungkapkan kecintaannya terhadap hewan peliharaan, terutama kucing.
Tapi Orange sangat tidak senang saat melihat Leon hingga ingin menggeram di tempat. Pria berbahaya meow! Pikiranku pusing, meow!
Sial! Saat Leon menatap Orange, pikiran kucing itu mulai kacau. Orange tidak berdaya dan berusaha untuk bertahan. Tampaknya Leon bisa mengendalikan pikirannya, mencuci otaknya.
__ADS_1
Orange tidak mau dikendalikan oleh pria itu. Dia segera berlari keluar, menjauhi Leon.
"Orange! Kamu mau ke mana?!" Nola terkejut melihat Orange melarikan diri begitu saja. Dia bangkit dan hendak mengejar.
Leon bangkit bersamaan dengannya dan meraih lengan gadis itu, sedikit menariknya.
Nola memakai high heels cukup tinggi. Saat Leon menahannya, ia sedikit kehilangan keseimbangan hingga jatuh ke pelukannya. Nola terkejut saat mencium aroma familiar dari tubuh Leon.
Kenapa ada aroma maskulin dan mint milik Halbert? Ini jelas bukan Halbert!
"Maaf, maaf. Aku kehilangan keseimbangan." Nola buru-buru meminta maaf.
"Tidak apa-apa. Harusnya aku yang minta maaf karena menarikmu tiba-tiba. Aku tidak bermaksud buruk. Hanya saja ada garpu jatuh di lantai. Khawatir kamu terpeleset ketika menginjaknya."
Nola tanpa sadar melihat lantai. Mata auranya melihat garpu tergeletak di lantai. Ia hampir saja menginjaknya. Sejak kapan sendok yang dipakainya tadi jatuh? Kenapa dia tidak menyadarinya?
"Sendok? Apakah sendok makanku jatuh?" tanyanya polos pada Leon.
"Iya, tidak apa-apa. Aku sudah mengambilnya." Leon memang mengambilnya, meletakkannya kembali di meja.
"Terima kasih." Nola tulus mengatakannya.
Ia mengambil tongkat putihnya, berniat mengejar Orange. Leon mengikuti untuk berjaga-jaga. Di belakang Nola, mata pria itu sedikit menyipit. Gadis ini lebih cantik dibandingkan dengan di foto.
Tampaknya Nola tidak berbahaya. Hanya saja kewaspadaannya cukup tinggi. Gadis itu mungkin bertanya-tanya tentang dirinya sendiri. Sialnya, kucing jingga tadi langsung lari saat dia mencoba mengambil alih pikirannya.
"Orange! Orange, kamu di mana?" Nola memperhatikan sekitar, mencari keberadaan kucingnya.
Ia bertanya pada orang di sekitar dan berkata jika kucing itu lari keluar restoran. Nola buru-buru keluar dan Butler Cello menghampirinya.
"Nyonya Muda, apakah ada sesuatu?" tanyanya langsung pada intinya. Dia menyipitkan mata pada Leon. "Pria ini ...."
Leon berinisiatif memperkenalkan dirinya. "Namaku Leon, orang yang baru saja tinggal ke daerah sini. Nyonya mudamu sedang mencari kucing jingga yang lari saat makan."
"Lari? Saat makan?" Butler Cello bingung.
Orange tidak akan pergi tanpa alasan.
"Kalau begitu ayo cari. Harusnya tidak jauh dari sini." Butler Cello yakin Orange tidak pergi jauh.
__ADS_1
Ketiganya mencari Orange bersama dan akhirnya menemukan kucing itu berada di dekat kolam air mancur.
Ketika Leon melihatnya, pupil matanya sedikit menyempit.