Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Tanpa Sadar Jatuh Cinta


__ADS_3

Ketika ledakan terjadi, mantra ilusi bunga tidur juga langsung hilang. Di saat itulah semua orang yang baru saja terbangun menjerit ketakutan karena gedung hotel yang bergetar retak di mana-mana. Belum lagi ada ledakan.


Mereka mengira jika hotel telah diserang oleh sekelompok penjahat. Mereka berlari keluar untuk menyelamatkan diri. Mereka menuju tangga darurat dengan tergesa-gesa dan saling dorong mendorong.


Namun tidak banyak yang berhasil keluar karena hampir hotel mewah yang memiliki fondasi yang kokoh selama bertahun-tahun seketika ambruk.


Sirene polisi langsung terdengar di kejauhan dan menuju lokasi ledakan terjadi. Kecepatan penerimaan berita begitu akurat sehingga polisi langsung bergerak bersama tim penyelamat.


Halbert berdiri kaku di depan hotel yang telah ambruk sepenuhnya. Matanya sedikit memerah dan kedua tangannya mengepal. Dia harus yakin jika Nola akan selamat.


Gadis itu hilang bahwa dirinya tak bisa mati bahkan jika mencoba untuk bunuh diri. Dia juga ingat, gadis itu melompat ke jurang yang cukup tinggi tanpa mengalami patah tulang sedikit pun.


Di belakangnya, Asisten Jae baru saja terbangun dan kepalanya pusing. Dia tidak tahu apa yang terjadi. Namun melihat hotel mewah yang kini ambruk karena ledakan, dia terkejut setengah mati.


"Bos!!" Asisten Jae melihat Halbert berdiri tak bergerak seraya memandang hotel, dia tahu ... Nyonya bos masih di dalam!


Asisten Jae memeras keringat dingin di tubuhnya. Dia takut Halbert akan kehilangan kendali dan melakukan sesuatu yang melanggar hukum. Jika identitas bosnya sebagai mafia sampai terendus oleh pemerintah pusat, semuanya sulit diselesaikan.


Namun untuknya Halbert masih menahan diri meski pikirannya kacau dan jantungnya berdegup kencang. Pria itu linglung. Perasaan ini tidak pernah dimilikinya sama sekali. Tapi ketika mengetahui Nola masih ada di dalam, dia seketika panik.


Perasaan inilah yang membuat Halbert tidak suka. Dia tersenyum dingin. Ternyata dia jatuh cinta pada gadis itu tanpa disadari. Awalnya hanya ingin melindunginya karena telah banyak membantunya serta riwayat hidupnya yang menyedihkan.


Tapi kali ini, dia ingin melindunginya karena sebenarnya cinta itu tumbuh di hatinya.


"Apa yang harus kulakukan?" gumamnya.


Bagi Halbert, cinta adalah penghalangnya. Perasaan itu hanya akan membuatnya mati konyol di masa depan. Mati demi wanita, apakah sepadan?


Seperti orang tuanya yang dibunuh musuh. Ayahnya memilih untuk tetap bersama ibu alih-alih melarikan diri. Bahkan jika memiliki kemampuan, ayahnya tidak menginginkannya. Justru malah meminta Halbert untuk pergi dan menyelamatkan nyawanya.

__ADS_1


Saat ini para petugas penyelamat mencoba untuk mencari korban yang tertimbun oleh reruntuhan hotel. Ada banyak tamu yang terjebak tentunya. Tidak tahu berapa banyak yang korban yang meninggal kali ini.


Alat berat dikerahkan untuk menyingkirkan pecahan beton atau material lainnya yang menumpuk.


Halbert ingin mencari Nola sendiri. Dia hentikan oleh salah satu polisi yang sedang bertugas juga.


"Tuan, Anda tidak bisa mendekat, terlalu berbahaya. Yakinkan kami akan segera mencari anggota keluarga," katanya.


Halbert menatap polisi paruh baya itu dengan tatapan dingin. "Minggir! Aku akan mencari istriku sendiri!" geramnya.


"Tuan, Anda tidak bisa—" Polisi itu sedikit tercengang awalnya dan masih ingin melarangnya. Namun Halbert terlalu dingin dan menakutkan. Dia hanya bisa menyingkir.


Satu persatu, petugas penyelamat segera mengeluarkan orang-orang yang terjebak di dalam reruntuhan. Awalnya berpikir jika korban-korban itu akan memiliki tubuh penuh luka atau meninggal dengan tubuh hancur. Namun merasa terkejut karena korban yang tertimbun itu masih hidup dan luka luar yang tak terlalu parah.


Keanehan ini awalnya hanya dianggap kebetulan. Tapi semakin banyak korban yang ditemukan masih hidup dan tidak ada lunak yang terlalu serius, mereka mulai meragukan sesuatu.


Apakah Tuhan melindungi mereka saat ini? Adalah keajaiban seperti itu di dunia ini?


"Bos, mereka baik-baik saja. Mungkin nyonya juga baik-baik saja," kata Asisten Jae segera menyenangkannya.


"Ya." Halbert terlihat tenang kembali.


"..." Asisten Jae semakin khawatir saya ini. Di khawatir bosnya terlalu terpukul hingga jiwanya bermasalah.


Jika Halbert mengetahui apa yang dipikirkan Asisten Jae, mungkin akan segera dipecat pada hari yang sama.


Tidak ada yang memperhatikan Halbert saat ini karena banyak orang yang juga mencoba untuk membantu. Halbert pergi ke beberapa titik untuk menemukan sosok Nola.


Hingga Halbert melihat sepatu high heels milik Nola. Sepatu itu hanya sebelah. Halbert mengambilnya dan memperhatikan jika high heels itu memang milik Nola. Dia sendiri yang membelikan sepatu itu untuknya. Dia tahu ukuran kaki gadis itu.

__ADS_1


"Nola," gumamnya.


Mungkin Nola ada di sekitarnya saat ini dan tertimbun. Pada akhirnya dia juga melihat potongan gaun milik Nola. Perasaan Halbert semakin yakin. Dia segera mencoba untuk menyingkirkan pecahan beton dan dinding di sekitarnya.


"Bos ..." Asisten Jae merasa tertekan ketika melihat bosnya berperilaku seperti ini. Dia segera pergi untuk meminta bantuan alat berat.


Pada akhirnya, alat berat segera dikerahkan ke tempat di mana Halbert sedang mencari orang. Setelah menyingkirkan beberapa puing cukup lama, Halbert bisa melihat sosok Nola tergeletak tak sadarkan diri.


Halbert berjalan cepat ke arahnya dan meraih tubuhnya yang kotor oleh sisa ledakan. Gadis itu memegang pistol yang diketahui milik dua bodyguard Halbert. Masih ada jejak darah juga di wajahnya tapi bukan milik gadis itu.


Walaupun banyak luka lecet di tubuh Nola, tidak ada luka serius. Sama seperti korban ledakan lainnya. Halbert sedikit gemetar saat memeluk gadis itu.


"Nola, jangan membuatku takut," gumamnya.


Halbert merapikan poni rambut Nola yang agak berantakan. Lalu menyingkirkan debu ledakan yang membuat wajahnya kotor. Bulu mata gadis itu bergetar lembut dan akhirnya membuka matanya.


Nola merasakan tubuhnya sakit saat ini karena tertimbun puing-puing. Mata abu abu nya menangkap sosok Halbert yang tengah memperhatikannya. Aroma parfum pria itu membangunkannya.


Walaupun Nola terluka, dia tidak lagi mengalami serangan balik. Jadi kali ini dia murni kelelahan karena mengonsumsi banyak energi supernatural untuk menyelamatkan semua orang di hotel tersebut, kecuali sekelompok pria berjubah hitam dari Organisasi Supernatural Dunia.


Nola tersenyum lemah. "Sudah kubilang, aku tidak bisa mati. Kenapa kamu panik?"


Tatapan Halbert dingin dan terlihat tidak memiliki belas kasihan sama sekali. Tapi dia meneteskan air mata saat ini. Air matanya jatuh ke wajah gadis itu.


Nola tertegun merasakan cairan hangat jatuh ke pipinya. Halbert ... ternyata masih bisa menangis di depannya.


"Halbert, kamu—"


Sebelum Nola berbicara, pria itu mencium bibirnya dengan lembut. Setelah ciuman lembut itu berakhir, keduanya saling bertatap muka.

__ADS_1


Nola tidak bisa menggerakkan tubuhnya saat ini dan hanya bisa menatapnya. Dia merasa jika Halbert berbeda saat ini. Pria itu menyentuh wajahnya dan tidak peduli, apakah dia menumpahkan air mata atau tidak. Dia hanya bisa yakin bahwa gadis itu tidak bisa mati. Halbert tidak ingin lagi kehilangan orang yang penting baginya.


__ADS_2