Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Efek Samping


__ADS_3

Halbert ingin membantah dan mencari alasan lain. Tapi ekspresi gadis itu terlihat tenang di matanya. Halbert menelan kembali apa yang ingin diucapkannya.


Dengan ekspresi wajah kaku, Halbert akhirnya menjawab. "Ya. Kamu istriku, tentu saja tidak mungkin seenaknya diganggu."


Nola tidak menyangka jika Halbert akan memberikan jawaban seperti itu. Biasanya menurut temperamen Halbert, alasan yang cocok pasti menyangkut keluarga Jefford.


Meski Nola tidak tahu apa saja yang dilakukan Halbert selama beberapa hari terakhir, tapi Asisten Jae sesekali datang mengantarkan makanan. Asisten Jae akan bercerita tentang aktivitas Halbert, sesekali bercanda.


Halbert menjadi lebih sibuk setelah Nola masuk rumah sakit. Tidak ada pihak lain yang mengganggunya, Nola merasa kedamaian di hatinya selama beberapa hati terakhir.


Akhirnya, Nola tersenyum. "Terima kasih karena sudah peduli padaku," katanya.


Melihat senyum yang murni itu, Halbert sedikit tertegun. Daun telinganya memerah karena malu. Untungnya Nola tidak mampu melihatnya jadi Halbert sedikit santai.


"Bukan apa-apa. Setelah ini aku sibuk hingga siang dan datang lagi setelah rapat. Jika kamu bosan, nontonlah televisi saja dulu."


"Kapan aku bisa keluar dari sini?"


"Tunggu luka-lukamu sedikit mengering. Dokter berkata kamu boleh pulang dalam beberapa hari lagi. Lagi pula Clive mungkin akan terkejut karena kamu masih hidup dengan baik saat ini."


"Aku tahu."


Nola tidak terlalu peduli dengan Clive. Dia sudah berpikir selama beberapa hari terakhir, mungkin apa yang dikatakan Halbert benar. Dia terlalu berangan-angan untuk mendapatkan cinta keluarga.


"Halbert, apakah kamu berpikir ... aku sakit selama ini?" tanyanya tenang.


"Kamu sedang sakit sekarang." Halbert masih belum mengerti apa maksudnya.


"Maksudku, kondisi mentalku tidak baik sejak lama. Mungkin aku harus pergi ke psikiater," katanya.


"Tidak." Halbert langsung berkata. "Kamu tidak sakit. Menginginkan cinta keluarga adalah keinginan semua orang."


Halbert tidak bisa membiarkan Nola tahu tentang penyakitnya sendiri. Gadis itu mungkin tidak tahu. Alasan kenapa Halbert dapat mengetahui penyakit Fear of Abandonment yang dimiliki Nola, sepenuhnya karena kontribusi Kakek Jefford.


Kakek Jefford sudah mengetahuinya sejak lama karena Nola pernah diperiksa oleh psikiater di masa lalu. Dikarenakan Nola buta, tentu saja tidak bisa membedakan apakah dokter di depannya itu ahli jantung atau ahli paru-paru.

__ADS_1


Khawatir Nola curiga, Halbert menambahkan lagi. "Orangtuaku meninggal ketika usiaku lima belas tahun. Saat itu, aku hanya memiliki kakek sebagai pendukung. Aku juga tahu bagaimana rasanya menginginkan cinta keluarga tapi sudah tidak ada harapan lagi."


"Oh, aku baru ingat tentang ini. Apakah orangtuamu meninggal karena kecelakaan?"


"Tidak, mereka dibunuh oleh musuh keluarga Jefford."


Tiba-tiba saja suasana sedikit hening saat ini. Nola sama sekali tidak mengetahui jika orang tua Halbert meninggalkan karena musuh keluarga Jefford. Meski Kakek Jefford memberi tahu Nola bahwa orang tua Halbert meninggal di tangan musuh, dia pikir hanya kecelakaan tak disengaja.


Halbert melihatnya seperti ingin mengatakan sesuatu, lalu berkata lagi. "Jangan mengasihani ku. Alasan kenapa aku menjadi tidak berperasaan pada siapapun bahkan pada wanita, karena masalah ini. Sejak saat itu aku berpikir bahwa menjadi kuat akan membuatku bertahan. Jadi Nola, jangan tumbuh terlalu naif. Di dunia ini, segala sesuatu bisa terjadi tapi hati seseorang yang sudah dipenuhi kebencian dan dibutakan kekuasaan sejak lama tidak mungkin untuk bertobat sebelum mendapatkan pembalasan," tuturnya.


Nola sedikit canggung dan sepertinya ada sesuatu yang menggaruk hatinya saat ini. "Aku tahu," gumamnya.


Halbert tidak ingin mengungkit masalah ini lagi. "Istirahatlah yang baik agar kamu bisa keluar rumah sakit lebih awal."


"Ya." Nola tidak lagi terjerat dengan pengalaman hidup Halbert. "Apakah kamu memiliki nomor telepon pamanku?"


"Tentu saja. Kamu ingin menghubunginya?"


"Aku hanya ... ingin memastikan paman baik-baik saja," jawabnya.


Dia yakin Nola mampu menggunakan ponsel dengan baik tanpa bantuan asisten virtual ponsel.


"Aku akan kembali lagi sore nanti untuk memberimu ponsel baru." Halbert memutuskan.


"Terima kasih." Nola tampak sopan.


"Tidak masalah ...."


Tiba-tiba saja Nola yang terlihat tenang langsung berwajah pucat dan kepalanya mendadak pusing. Halbert tertegun dan menanyakan apakah ada yang salah dengan dirinya.


Nola hanya menggelengkan kepala. Tapi cairan hangat keluar dari salah satu hidungnya. Ketika Halbert melihatnya mimisan, hatinya sedikit tidak nyaman.


Kakeknya berkata jika apa yang dilakukan Nola untuk memberikan keberuntungan atau memberikan kerugian pada pihak lain, pasti menimbulkan efek samping.


Nola telah membantunya selama beberapa bulan terakhir. Mungkin tanpa disadari, Nola selalu menyembunyikan ini darinya.

__ADS_1


"Kamu mimisan. Apakah tubuhku merasa sakit? Kepala pusing atau mual?" Halbert mengambil tisu dan menyeka darah yang terus keluar dari hidung Nola.


"Aku hanya pusing. Mungkin karena terlalu memikirkan banyak hal. Semuanya akan baik-baik saja setelah beristirahat. Kamu bisa sibuk sendiri," jawab Nola masih tenang.


Tapi Tuhan tahu jika ketenangannya saat ini tidak bisa dipertahankan lebih lama. Tubuhnya jelas mulai sakit ketika disentuh. Kepalanya yang pusing membuat dia ingin berbaring dan memejamkan mata saat ini.


Wajah pucat Nola tidak bisa disembunyikan hingga Halbert yakin jika kondisinya serius. Dia sedikit marah dan tidak berdaya.


"Nola, kamu masih tidak bisa mengandalkanku 'kan? Kamu menyembunyikan banyak hal dariku."


"Maaf," gumam Nola. "Tapi aku baik-baik saja."


"Baik-baik saja katamu? Lihat kondisimu sekarang? Mimisan yang tidak ada henti-hentinya, wajah pucat seperti hantu, kulitmu kusam dan ..." Halbert melihat beberapa helai rambutnya rontok, hatinya lebih dingin lagi. "Rambutmu rontok," imbuhnya pelan.


Kali ini Nola juga terkejut. Dia meraih rambut panjangnya dan benar saja, beberapa helai rambut tersangkut di jari jemarinya. Tubuhnya gemetar kali ini.


Pertahankan psikologis nya runtuh. Kondisi tubuhnya seburuk ini?


"Aku—" Nola bingung saat ini. Tapi dia masih tidak mau bicara.


"Nola, kamu sengaja ingin membuatku merasa bersalah padamu bukan?" tanya Halbert dengan suara menusuk.


"Tidak! Sama sekali tidak." Nola menggelengkan kepala. "Apa pun yang terjadi padaku, ini tidak ada hubungannya denganmu. Ini semua karena ulahku sendiri."


Halbert sangat marah karena Nola masih tidak mau terbuka dengannya. Dia bahkan membanting gelas ke lantai hingga pecah. Suara nyaring membuat perawat di luar ruangan terkejut dan segera masuk.


"Maaf, apakah ada masalah?" tanyanya. "Mohon untuk tidak mengganggu istirahat pasien," kata perawat sopan.


Nola tidak mengatakan apa-apa. Pupil mata abu-abunya menyusut dan dia takut dengan kemarahan Halbert.


Pria itu tidak berkata apa-apa dan meninggalkan ruangan dengan langkah lebar. Nola tidak pernah membayangkan jika plotnya akan berkembang ke arah pertengkaran lagi.


Dia menggigit bibirnya. "Halbert ... Halbert!" panggilnya.


Perawat yang bersiap membersihkan pecahan gelas menatap Nola dengan ekspresi kasihan. "Maaf, Nona, Tuan Halbert sudah meninggalkan ruangan."

__ADS_1


Nola juga tahu itu. Dia hanya berpikir jika Halbert masih ada di luar ruangan saat ini.


__ADS_2