Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Nasib Sial Atau Kutukan? (2)


__ADS_3

Halbert sungguh sulit untuk ditaklukkan. Dia sudah menggunakan cara yang sama berulang kali selama sebulan tapi tetap saja tidak bisa. Belum lagi, ia hanya pergi empat kali saja. Walaupun hanya empat kali, Miyumi Kei merasa jika wajahnya semakin tidak enak dilihat.


Miyumi Kei mengalami gatal-gatal di wajahnya. Wajahnya dipenuhi ruam kemerahan. Walaupun tidak mencolok, Miyumi Kei merasa tidak nyaman. Dia hanya bisa menutupinya dengan make up. Tapi justru semakin parah. Ketika ditutupi alas bedak, gatal-gatal di wajahnya lebih merajalela.


Selama beberapa hari terakhir terakhir, Miyuki Kei memilih untuk berdiam diri di rumah. Ia tidak bisa pergi ke tempat Halbert.


"Ayah, aku curiga jika Halbert sengaja menggantung kita. Dia tidak pernah menandatangani kontrak kerja sama yang kita buat," jelas Miyumi kei.


"Benar. Ayah tahu itu."


"Lalu kenapa masih membiarkan ku untuk datang padanya?"


Matsuyama Kei menghela napas. "Meski kerja sama kita telah berakhir, namun jangan lupa, Halbert adalah bos mafia. Kamu pernah menjadi pacarnya di masa lalu meski itu hanyalah status pacar dalam tugas. Jika kita bisa bekerja sama dengan Halbert, maka beberapa pesaing perusahaan di negara J akan berhati-hati dengan kita."


Awalnya, Matsuyama Kei ingin membiarkan putrinya menjadi kekasih Halbert kemudian mengumumkan pada dunia bahwa keduanya menjadi pasangan. Sayangnya Halbert sudah menikah saat ini, sulit untuk memulai sebuah gosip. Jika tidak, putrinya akan dicap sebagai pihak ketiga yang merusak rumah tangga orang.


Maka satu-satunya cara agar keduanya bisa bersama, Miyumi Kei mendekati Halbert untuk memperdalam hubungan lagi. Mungkin dengan bertemu setiap hari, Halbert akan jatuh hati pada putrinya.


Sayangnya Halbert selalu keras dan tidak pernah melirik putrinya sama sekali. Ini membuatnya kesal tengah mati.

__ADS_1


"Apakah gelang yang diberikan nenekmu tidak berfungsi?" Matsuyama Kei curiga jika ibunya menipu putrinya sendiri.


Miyumi Kei menatap gelang buatan tangan di pergelangan tangan kirinya. Ia menyentuhnya dengan baik.


"Ini bekerja sebelumnya. Tapi tidak tahu kenapa, gelang ini tampak seperti gelang biasa. Mungkinkah kehilangan efektivitas nya?"


"Lalu bagaimana kata nenekmu?"


"Nenek bilang biarkan aku meneteskan darah pada gelang setiap kali ingin menggunakannya."


Jimat berupa gelang ini memang merepotkan. Mau tidak mau, Miyumi Kei harus menetes darahnya setiap kali akan menggunakan kemampuannya benda tersebut. Sebenarnya ini agak merepotkan. Lagi pula, dia harus melukai tangannya berulang kali.


"Baiklah, untuk saat ini, kamu istirahat sampai lukamu sembuh. Setelah membaik nanti, kita pikirkan cara. Jika cara yang memakai jimat tidak berhasil, kita pikirkan cara lain," jelasnya.


Ketika malam tiba, Miyumi Kei menelan obat tidur untuk membuatnya tidur nyenyak. Dia tidak mau bertemu dengan orang-orang aneh berlumuran darah dalam mimpinya.


Sayangnya hal itu tidak berguna sama sekali. Malam itu, dia kembali bermimpi buruk. Namun kali ini mimpi buruk itu bukan dikejar oleh sekelompok orang, melainkan terjebak di sebuah lorong gelap yang panjang.


Miyumi Kei mencoba mencari jalan keluar. Sayangnya setelah mencoba berulang kali, dia tadi bisa menemukannya sama sekali. Yang ada Miyumi Kei justru menangis dalam mimpinya.

__ADS_1


"Miyumi!" Matsuyama Kei sengaja tidak pergi ke kantor hari ini dan mengurus semua pekerjaan dari rumah.


Ia ingin tahu apa yang terjadi pada putrinya saat ini. Melihat jika Miyumi Kei berteriak dalam tidurnya, Matsuyama Kei ingin membangunkannya namun tidak ada cara yang berhasil.


Hasilnya, Matsuyama Kei harus mengundang seorang pendeta yang mahir dalam masalah ini. Untungnya, sebelum Matsuyama Kei mencapai kesepakatan dengan pendeta, Miyumi Kei terbangun dari mimpi buruknya.


"Putriku, akhirnya kamu bangun!" Matsuyama Kei menghela napas lega.


Miyumi Kei agak pucat. Jejak rasa lelah mengalir di wajahnya. Kali ini mimpinya bahkan lebih mengerikan daripada bertemu dengan orang-orang berwajah hancur yang mengejarnya.


Tersesat di lorong gelap dan berputar-putar tanap menemukan jalan keluar. Semua dengan seperti di film horor. Sayangnya Miyumi Kei tidak tahu jika semua itu merupakan hasil mahakarya Nola.


Nola melemparkan nasib sial padanya, tentu saja segala jenis hal sial pasti akan membereskannya.


"Ayah! Aku benar-benar tidak tahan lagi! Kali ini aku benar-benar ingin mati!" Miyumi Kei menangis di pelukan ayahnya.


Matsuyama Kei tampak tertekan. Dia memikirkan sesuatu yang lain namun sepertinya putrinya masih bisa berguna.


"Jangan khawatir, Ayah akan mencari solusi besok." Matsuyama Kei hanya bisa menenangkannya dalam beberapa patah kata.

__ADS_1


Karena Miyumi Kei meminum obat tidur sebelumnya, dia kembali tertidur lagi. Kali ini, wanita itu tidak lagi mengalami mimpi buruk.


Pada keesokan paginya, Miyumi Kei dan Matsuyama Kei pergi ke sebuah gereja yang ada di dekat tempat tinggalnya.


__ADS_2