Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Sepuluh Tahun Kemudian


__ADS_3

Solachen menenangkan emosinya. Ia menatap Wickson yang sejak awal diam, antara marah dan tidah tahu harus berbuat apa. Matanya memerah, hanya duduk di tepian tempat tidur, menatap Nola yang pucat.


"Jiwanya lemah. Bahkan jika dia terbangun, kondisinya tidak bisa lagi seperti dulu." Wickson berbicara, mengingat kebiassan keluarga Whitemir di masa lalu. "Aku punya cara untuk memperbaiki jiwanya. Tapi ... bayarannya adalah nyawa sendiri."


"Menukar jiwa?" tebak Jaley Scott.


Wickson mengangguk. Tapi kemudian dia frustrasi lagi. "Hanya saja syarat dari penukaran jiwa ini, hanya kerabat yang mampu melakukannya."


Keluarga Whitemir sudah habis. Hanya menyisakan dirinya, Nola dan Lucas sebagai keturunan. Pengorbanan jiwa ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang terhubung dengan ikatan darah.


"Bukankah ikatkan darah? Biarkan aku saja yang melakukannya. Aku yang berhutang banyak pada Noria dan Nola selama ini. Maka biarkan aku membayarnya," kata Solachen tanpa ragu.


Semua orang menatap Solachen dengan tidak percaya. Cinta ayah memang luar biasa. Tapi mungkin sangat jarang yang seperti Solachen. Ini bukan pengorbanan darah lagi, tapi nyawa.


Menukar jiwa sendiri untuk memperbaiki jiwa Nola yang rusak, tentu saja sama saja dengan kematian.


Halbert mengepalkan kedua tangannya. Ia sangat tidak berguna di sini. Lalu apa gunanya semua kekuasaan yang dimiliknya selama ini. Pada akhirnya, ia tak bisa menyelamatkan istrinya sendiri.


Wickson menghampiri pengasuh dan mengambil alih Lucas yang masih menangis saat ini. Ini adalah keponakannya sendiri.


"Jangan menangis. Ibumu akan baik-baik saja di masa dapan," gumamnya.


Kemudian, Wickson menatap Solachen. "Siapkah segalanya. Kita harus memperbaiki jiwa gadis itu sebelum terlambat."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sepuluh tahun kemudian.


Suasana di keluarga Jefford sangat tenang seperti tahun-tahun sebelumnya. Halbert yang telah berusia 40 tahun, tampak muda seperti sepuluh tahun lalu karena aura supernatural di tubuhnya.


Namun Kakek Jefford sudah meninggal lima tahun lalu karena faktor usia dan penyakit. Jika Kakek Jefford mendalami aura supernatural, mungkin masih bisa hidup beberapa tahun lalu.


Walaupun Halbert masih terlihat muda seperti biasa, dia telah menjadi seorang ayah dari anak berusia sepuluh tahun. Sosoknya lebih dewasa dan tampak seperti tetua yang ketat.


"Ayah, Kakek, bukankah ini hari peringatan kematian paman? Kapan kita bisa pergi?" tanya Lucas saat menghampiri ayahnya yang tengah sarapan. Dia menggendong Orange yang sudah siuman sejak sepuluh tahun lalu.


Halbert memotong steak dan memakai kentang goreng. "Pergilah setelah sarapan," jawabnya datar.


"Apakah kamu sudah melihat ibumu?" tanya Solachen.


Lucas mengangguk. "Aku berharap ibu cepat siuman."

__ADS_1


Lucas telah tumbuh menjadi seorang anak pintar. Dia seperti salinan Halbert. Rambut ikalnya membuat sosok Lucas menjadi lebih tampan. Ada banyak anak perempuan di sekolah yang mengidamkannya.


Sepuluh tahun lalu, Solachen yang berniat mengorbankan diri untuk putrinya, justru gagal. Wickson sendiri yang berkorban demi gadis itu. Sekarang keturunan Whitemir telah diwariskan oleh Lucas. Wickson tidak memiliki keinginan apapun setelah Organisasi Supernatural Dunia hancur.


Nola hanya memiliki Wickson sebagai kerabat sebelumnya. Tapi sekarang ada suami dan anak. Keturunan Whitemir tidak akan terputus. Solachen hanya menghela napas tidak berdaya saat tahun-tahun itu berlalu.


Tidak tahu kapan putrinya akan bangun ....


Halbert sudah pensiun dari dunia mafianya dan kini digantikan oleh Lucas. Ia hanya menikmati kesehariannya di rumah dan menunggu istrinya bangun.


Setelah sarapan, mereka bertiga pergi ke makam Wickson. Solachen memiliki banyak kata tapi pada akhirnya tak ada satu pun yang terucap dari bibirnya. Lucas sendiri meletakkan bunga mawar putih di atas makam Wickson dan bercerita tentang ibunya selama ini.


"Paman ... Aku berharap ibu akan cepat bangun dan tidak menyia-nyiakan pengorbananmu."


Setelah mendatangi makam Wickson yang kini telah ditumbuhi rumput hijau, mereka pergi ke Organisasi Fortuna untuk mengunjungi yang lain.


Sean dan Suyue sudah menikah beberapa tahun lalu dan kini memiliki anak sendiri. Adapun Jiyan yang usianya sedikit tua dari Lucas, dilempar orangtuanya ke Organisasi Fortuna untuk mengasah bakat.


"Tuan Muda," sapa Jiyan yang tak kalah tampaknya dengan Asisten Jae.


"Saudara Jiyan." Lucas juga menyapa dan mengangguk padanya.


Keduanya sama-sama berwajah dingin tapi hubungan keduanya sangat baik. Halbert melihat interaksi keduanya, hanya tersenyum.


Halbert selalu menginginkan anak perempuan. Tapi Nola dalam keadaan koma setelah sepuluh tahun lamanya. Dia hanya bisa menyerah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di rumah Jefford, Nola terlihat seperti orang yang tidur biasa. Ia bernapas tenang dan damai. Tubuhnya selalu terawat dengan baik selama sepuluh tahun terakhir. Halbert yang mengurus semuanya.


Saat ini, jari jemari wanita itu bergerak sedikit. Pada akhirnya, Nola membuka matanya perlahan. Pencahayaan di dalam kamar selalu baik, tidak terlalu silau atau redup.


Saat pertama kali bangun, Nola bingung. Tubuhnya sedikit kaku dan agak tidak nyaman. Sudah berapa lama di koma?


"Halbert ...," gumamnya memanggil. Suaranya agak serak dan kering.


Pelayan yang menjaga Nola di luar tampak mendengar suara. Pelayan itu masuk dan melihat jika nyonya nya sudah bangun. Ia segera memberi tahu Butler Cello tentang hal ini, berbagi kegembiraan.


Butler Cello memastikan sendiri jika Nola memang sudah bangun. "Nyonya, apakah dan perasaan tidak nyaman?" tanyanya hati-hati.


Nola terlihat memperhatikan Butler Cello yang sedikit lebih tua dari sebelumnya. "Butler Cello? Di mana Halbert? Apakah Lucas nakal selama aku koma?"

__ADS_1


Butler Cello tampak bermata merah dan air matanya hampir turun. Syukurlah jika wanita itu baik-baik saja.


"Jangan khawatir, Nyonya. Aku akan segera menghubungi tuan." Butler Cello dengan panik menghubungi Halbert tentang Nola yang sudah siuman.


Setelah itu, Butler Cello membantu Nola untuk bersandar di tempat tidur, mengambilkan air minum dan menunggu tuannya kembali.


"Sudah berapa lama aku koma?" tanya wanita itu. Ia tampaknya sedikit lebih dewasa?


"Sudah sepuluh tahun, Nyonya. Kami menunggumu bangun selama sepuluh tahun lamanya," jawab Butler Cello tampak mengenang tahun-tahun sebelumnya.


Ia bercerita jika Kakek Jefford meninggal karena usianya. Sedangkan Wickson meninggal karena mengorbankan diri untuk memperbaiki jiwa Nola yang rusak tahun itu.


Ada banyak hal yang telah Nola lewatkan hingga tak tahu harus bereaksi seperti apa. Wickson adakah paman satu-satunya dan kini telah pergi.


Tak lama, Halbert kembali bersama Solachen dan Lucas. Dia tampak tergesa-gesa dan perlahan langkahnya melambat saat tiba di kamarnya.


"Nola," ujar Halbert agak serak.


Nola melihat Halbert yang tampaknya telah sepenuhnya dewasa. Bahkan pria itu juga menumbuhkan janggut yang rutin dicukur.


"Halbert!" Nola akhirnya bisa melihat pria itu lagi.


Halbert menghampiri dan memeluknya dengan erat. Wanita ini akhirnya kembali lagi ke sisinya. Lucas juga menangis dan memanggil Nola dengan nama ibu. Awalnya Nola agak canggung karena anak laki-laki itu sudah besar sekarang. Dulu masih berada di gendongannya.


"Lucas sudah dewasa sekarang," ucapnya seraya menyentuh wajah anak itu. "Maaf, Ibu melewatkan masa pertumbuhanmu selama ini."


Lucas menggelengkan kepala. "Tidak, Bu. Senang bisa bangun. Tapi Bu, kamu belum memberiku adik perempuan."


Nola tertegun dan ingat janjinya di masa lalu. Sepertinya tidak buruk untuk memiliki satu anak lagi tahun ini. Ia menatap Halbert sejenak dan wajahnya memerah.


Halbert menyipitkan mata. Anak laki-lakinya ini akhirnya sedikit lebih enak dipandang. Di belakang mereka, Solachen tersenyum lega dan tak bisa menahan air matanya.


"Ayah," ucap wanita itu saat melihat.


Solachen mengangguk. "Selamat datang kembali, putriku," katanya.


Keluarga ini akhirnya lengkap kembali.


Solachen memandang dedaunan musim semi di luar jendela. Banyak tahun yang berlalu dan akhirnya ia bisa melepaskan masa lalu.


Kehidupan damai di masa depan telah menanti. Meski ada yang datang dan pergi pada akhirnya, bukankah siklus kehidupan selalu sama?

__ADS_1


...TAMAT...


__ADS_2