Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Nola's Cruel Side (Sisi Kejam Nola) 2


__ADS_3

Chelsea tentu saja tahu jika omongannya ini hanyalah untuk melarikan diri dan menemukan orang untuk menolongnya. Tapi pihak lain berkata jika tidak ada siapapun di depan.


Mereka tak bisa melihat apa yang dilihat Chelsea saat ini. Sepertinya ada sesuatu yang janggal. Nola adalah manusia! Jika dia hantu, wujudnya tak akan sepadat itu di matanya.


Penghuni apartemen yang sempat dicegah pergi oleh Chelsea masih bingung. Ekspresi Chelsea menunjukkan rasa takut yang kuat, tapi tidak ada bukti. Penghuni apartemen itu melihat ekspresi Chelsea, lagi-lagi mencoba untuk melihat sekeliling.


Tidak ada yang salah.


Gadis di depannya ini mungkin sakit jiwa?


"Tidak ada siapapun. Nona, apakah kamu berhalusinasi?" Penghuni apartemen itu seperti sedang menyaksikan orang gila. Dia akhirnya meninggalkan tempat itu dan menggelengkan kepala.


Lupakan saja. Tidak ada siapapun di sekitarnya Selain Chelsea saat ini.


"Tidak, jangan pergi! Jangan pergi!" Chelsea ingin menghentikan mereka. Di benar-benar takut pada Nola saat ini.


Tapi sayangnya penghuni apartemen lain yang juga lewat menganggap jika Chelsea ini sakit jiwa. Jadi dia mereka segera menghubungi pihak rumah sakit jiwa untuk membawa Chelsea. Gadis itu masih muda dan sayang jika harus terkena penyakit jiwa begitu dini.


Chelsea tidak peduli apakah mereka menganggap nya gila atau tidak. Dia hanya ingin menghindari Nola.


Sementara itu, Nola melihat Chelsea yang tak mendapatkan bantuan siapapun, tampaknya tidak terburu-buru.


"Tidak ada gunanya. Mereka tidak bisa melihatku? Apakah kamu yakin kamu tidak gila?" Nola tersenyum. Mata abu-abunya terlihat misterius.


Noda darah di pipinya masih ada. Bahkan mata kirinya sedikit sakit saat ini. Namun Nola mengabaikannya.


Chelsea menggelengkan beberapa kali. Tidak mau mengakuinya. Dia tidak gila sama sekali! Dia tahu Nola pasti mencoba untuk menakutinya.


"Tidak! Aku tidak gila!" Chelsea berteriak.


Setiap kali ini Nola melangkah, Chelsea akan mundur. Dia akhirnya berlari keluar gedung apartemen dan mencoba untuk meminta bantuan orang lain. Dia tidak percaya jika mereka tidak melihat Nola sama sekali.

__ADS_1


Jelas Sean bicara dengan Nola sebelumnya. Gadis itu nyata dan menapak di tanah.


Chelsea yang ketakutan dan terlihat seperti orang gila yang melarikan diri, akhirnya menyeberang jalan tanpa berpikir panjang. Kepalanya terasa kosong saat ini. Satu-satunya yang ingin dia lakukan hanyalah menjauh dari Nola.


Suara klakson mobil yang keras langsung menyadarkan pikiran Chelsea. Gadis itu tersentak dan melihat ke arah di mana sebuah mobil melaju kencang. Mobil tak sempat mengerem tepat waktu dan Chelsea sudah lemas, lupa untuk menghindar. Akhirnya kecelakaan tak terhindar.


Mobil itu langsung menabraknya dan banting stir ke sisi lain. Sementara Chelsea langsung terbaring berlumuran darah tapi kesadarannya masih ada. Kedua matanya agak kabur saat ini namun dia masih dengan jelas melihat keberadaan Nola di pinggir jalan.


Banyak orang yang berlalu-lalang langsung berteriak ketakutan dan terkejut. Mereka sibuk menghubungi polisi dan rumah sakit untuk segera mengevakuasi Chelsea yang kemungkinan besar sekarat saat ini.


"Apa yang terjadi?" Sean yang baru saja menyusul Nola akhirnya melihat kecelakaan di jalan. Dia terkejut. Chelsea tertabrak mobil?


Mau tidak mau Sean melihat Nola yang tidak memiliki ekspresi apapun. Tapi darah segar lagi-lagi mengalir dari mata kirinya.


"Nyonya Bos, matamu ..." Sean khawatir.


Nola mengusap darah di pipinya. "Bukan masalah besar."


Nada bicaranya tenang tapi kepalanya sakit saat ini. Tubuhnya sedikit gemetar. Seketika, wajahnya pucat. Apakah dia terlalu kejam saat ini?


Chelsea tertabrak mobil saat berlari ke jalan dengan linglung. Orang-orang berkumpul di sisi jalan untuk melihat kejadian itu sebelum akhirnya bubar.


Halbert melihat keberadaan Nola saat ini. Dia berada di sisi Sean, memandang jalan tanpa berkedip. Sean terlihat khawatir. Orang-orang tidak terlalu memperhatikannya. Entah karena mereka tidak melihatnya atau mungkin tidak peduli.


Aneh rasanya jika mereka tak melihat Nola saat ini. Tapi gadis itu memang menggunakan kemampuannya untuk menghalangi pandangan orang-orang yang dipilihnya agar tidak mampu melihat nya.


"Nola ..." Halbert memanggilnya.


Nola menahan rasa sakit di tubuhnya. Dia pusing dan sakit kepala tapi masih bertahan agar tidak tumbang. Dia tidak berani untuk melangkah atau membuat gerakan lain saat ini. Tubuh nya melemah.


Halbert melihat kelainan di tubuh gadis itu, mau tidak mau membopongnya. Dia marah tapi tidak cocok untuk melampiaskannya saat ini.

__ADS_1


"Bos," sapa Sean.


Halbert mengangguk. "Urus sisanya."


"Ya." Sean mengangguk.


Sean dan Halbert berpisah. Halbert membawa gadis itu kembali ke hotel tempat di mana keduanya menginap.


Nola dibaringkan di tempat tidur putih. Wajahnya pucat. Nola menyadari jika dirinya saat ini telah melanggar kepercayaan pria itu lagi.


"Halbert ...," panggilnya lemah.


Halbert tidak menyahut. Dia mengabaikan gadis itu dan duduk di sofa, mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya. Segera, asap rokok mengepul. Hanya dengan merokok dia bisa menenangkan dirinya untuk sementara waktu.


Sepertinya Nola mencoba untuk bangun. Tapi anggota tubuhnya sangat sakit dan tidak memiliki tenaga untuk bangun. Kepalanya juga sakit dan wajahnya yang pucat menjadi lebih buruk daripada sebelumnya.


"Halbert, di mana kamu? Di mana kamu?" gumam Nola, entah sadar atau tidak sadar.


Akhirnya Halbert mematikan puntung rokoknya dan bangkit menghampiri gadis itu. Dia melihat jika Nola terlihat salah dengan tubuhnya. Dia mencoba untuk mengusap sisa darah di pipi kirinya dengan tisu basah, tapi reaksi gadis itu sangat luar biasa.


Nola langsung gemetar dan mengerang seolah-olah ada sesuatu yang menggerogoti tubuhnya.


"Kamu suka sekali menyakiti tubuhmu," kata Halbert akhirnya buka suara. "Tidak mau mendengarkan ku bukan?"


Nola ingin memanggil Halbert lagi tapi tak ada suara yang bisa dikeluarkannya. Tenggorokannya sakit dan akhirnya dia pingsan setelah merasa kelelahan.


Di balik tenangnya Halbert, ada badai di pikirannya. Dia tahu gadis itu kesakitan dan terus memanggilnya beruang kali. Tapi Halbert mengabaikannya karena benar-benar marah. Dia masih belum terbiasa dengan apa yang dilakukan Nola.


"Ternyata kamu jauh lebih kejam daripada yang kubayangkan. Tapi ... Aku suka itu. Aku suka kamu yang seperti ini. Itu berarti kamu layak menjadi istri Halbert Jefford ku. Tapi aku tidak suka ... kamu menyakiti tubuhmu," gumamnya.


Memandangi Nola yang pingsan dengan wajah pucat, Halbert akhirnya menghubungi seseorang agar datang dan memeriksa kondisinya. Orang yang diundang Halbert untuk datang hanyalah dokter biasa.

__ADS_1


Ketika tubuh gadis itu diperiksa, dokter tidak memiliki banyak kata untuk menjelaskan gejalanya.


"Tuan, gadis itu hanya terlalu lelah dan kekurangan darah di tubuhnya. Kondisi tubuh yang kelelahan karena kekurangan darah akan berdampak pada kesehatannya di masa depan ..." Dokter itu agak ragu untuk bertanya lebih jauh tentang kondisi Nola.


__ADS_2