
Di gereja, pasangan ayah dan anak perempuan itu bertemu dengan seorang pendeta paruh baya yang sangat rajin dengan ibadahnya. Karena setelah lama menimba ilmu keagamaan di gereja, pendeta yang satu ini juga memiliki kemampuan lain seperti mata batin.
Hari ini gereja sepi karena memang orang akan datang dan pergi setelah berdoa dan menenangkan diri. Miyumi Kei dan Matsuyama Kei menyapa pendeta yang bertanggung jawab di gereja tersebut.
"Apakah kalian datang untuk menemukan ketenangan dengan Tuhan?" tanya pendeta itu ramah. Melihat aura di tubuh Miyumi Kei, ia terkejut lalu tenang kembali seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.
Keduanya tidak menangkap tatapan aneh di mata pendeta yang terlihat agak sulit dijelaskan. Sebenernya, pendeta itu agak kasihan dengan kondisi Miyumi Kei.
Matsuyama Kei memikirkan kondisi putrinya dan menceritakan apa yang terjadi. Pendeta itu mendengarkan dengan tenang dan sesekali mengangguk.
"Pendeta, tolong bantu putriku untuk kembali seperti semula. Aku curiga dia mendapatkan sesuatu yang kotor ketika pergi ke perusahaan keluarga Jefford," jelasnya.
Pendeta paruh baya itu menggelengkan kepala. "Tuan Kei, ada banyak sesuatu di dunia ini yang tak bisa dilihat oleh mata biasa. Dan ada banyak sesuatu di dunia ini yang telah ditakdirkan. Nona Kei ini telah melakukan kesalahan pertama sejak awal dan karmanya telah tiba," tuturnya sopan.
Matsuyama Kei sedikit terkejut. "Kesalahan pertama ada pada pada putriku? Apa maksudnya?"
Pendeta itu tidak begitu sakti kan? Matsuyama Kei menebak-nebak. Dia hanya berpikir jika pendeta yang satu ini memiliki sedikit kemampuan untuk mengusir hal-hal jahat pada tubuh putrinya. Tapi seperti lebih dari itu? Tahu apa yang dilakukan?
Miyumi Kei segera mengatakan sesuatu sebelum pendeta paruh baya itu membuka suara. "Kesalahan apa yang kulakukan? Aku tidak melakukan kesalahan apapun. "
__ADS_1
Pendeta paruh baya itu sedikit tidak berdaya. Ia menunjuk ke pergelangan tangan Miyumi Kei. Lebih tepatnya pada gelang hasil buatan tangan. Miyumi Kei dan Matsuyama Kei juga memperhatikan gelang itu.
Apa ada yang salah dengan gelangnya?
"Ada apa dengan gelang yang kupakai?" Miyumi Kei sedikit tidak senang.
"Kalau boleh tahu, dari mana asal gelang ini?" tanya pendeta.
Miyumi Kei ingin menjawabnya dengan kasar namun dihentikan oleh ayahnya. Matsuyama Kei segera menjawab.
"Ini diberikan oleh nenek gadis ini."
"Meminta sesuatu apa gelang ini hanya akan berakhir dengan kematian. Putuskan kontrak lebih cepat untuk menghindari bencana," jelas pendeta itu.
Ekspresi ayah dan putri itu berubah tidak senang tapi juga terkejut. Mereka tidak tahu jika jimat yang diberikan wanita tua itu memiliki risiko yang begitu besar. Lagi pula, Miyumi Kei tidak pernah merasa ada yang salah selama memakai gelang ini.
"Kamu bicara omong kosong!" Miyumi Kei sedikit tidak tahan. "Apa yang aku lakukan sepertinya bukan urusanmu untuk mengatakannya. Lagi pula, bagaimana bisa gelang ini menyebabkan kematian? Aku telah memakainya lebih dari sebulan dan semuanya baik-baik saja."
Kali ini giliran ekspresi pendeta yang sedikit tak tertahankan. "Apakah Nona Kei selalu meminta sesuatu pada gelang ini?" tanyanya terburu-buru.
__ADS_1
"Ya, tentu saja. Pria mana pun bisa aku dapatkan! Tapi aku tidak bisa menaklukkan pria yang aku sukai. Gelang ini mungkin tidak berfungsi dengan baik saat aku mencoba untuk menaklukkan pria yang kuincar, jadi datang ke sini dan mintalah pembersihan. Mungkin istri dari pria yang kuincar adalah roh jahat sesungguhnya," tutur Miyumi Kei tanpa henti.
Kali ini pendeta paruh baya itu tidak tahu harus berkata apa saat tahu tujuan Miyumi Kei. Dia sendiri tidak bisa membersihkan hal-hal kotor yang ada pada Miyumi Kei. Bukannya dia tidak bisa tapi itu melanggar.
Seseorang yang lebih kuat darinya telah membuat wanita di dalamnya ini terikat dengan nasib sial. Selama gelang itu dipakai, pasti tidak ada hal baik yang akan terjadi.
Melihat gelombang asap hitam pekat di luar gereja yang terus berputar dan mencoba masuk, pendeta paruh baya itu tidak berdaya dan takut dalam hatinya. Ia memegang liontin kalung salib dengan erat.
Gelombang asap hitam pekat di luar sepertinya mengincar Miyumi Kei. Lihatlah aura gelap di tubuh wanita itu, pendeta tak berdaya.
"Nona Kei, saya sarankan Anda untuk melepas gelang ini dsn membuangnya. Anda telah berada di garis nasib sial yang dilemparkan orang lain. Selama Anda terhubung dengan gelang ini, nasib sial tak akan pernah berhenti datang," jelas si pendeta untuk yang terakhir kalinya.
"Kamu pendeta yang tidak masuk akal! Bagaimana bisa menjadi nasib sial? Bahkan jika itu kutukan, selama aku mendapati apa yang kuinginkan, semuanya sepadan!" Miyumi Kei berteriak dan segera meninggalkan gereja dengan langkah lebar.
Wajah pendeta akhirnya pucat dan dia duduk dengan keringat dingin di tubuhnya. Matsuyama Kei merasa jika kunjungannya saat ini sia-sia saja. Setelah mengucapkan selamat tinggal, dia mengejar putrinya.
Setelah Miyumi Kei meninggalkan gereja, aura kegelapan dari asap hitam pekat yang hanya bisa dilihat olehnya akhirnya menghilang.
"Keserakahan menghasilkan bencana," gumamnya.
__ADS_1