Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Kebenaran yang Sangat Rahasia


__ADS_3

Halbert juga belum tahu tentang alasannya saat ini. Tapi dia yakin jika Dokter Visco memiliki niat baik untuk kebaikan gadis itu. Dia hanya menyarankan Nola untuk memakai anting itu. Meski anting itu hanya sebelah, tetap terlihat cantik saat memakainya.


"Aku akan memakaikannya untukmu," katanya.


Nola menyerahkan anting itu pada Halbert. Anting yang selalu dipakai Nola dilepas. Dia memainkan di bagian telinga kanan.


Anting salib perak sedikit berat saat dipakai. Nola tidak terbiasa, selalu merasa jika daun telinga nya akan sobek kapan saja.


"Jangan khawatir, setelah terbiasa, semuanya baik-baik saja," kata Halbert menghiburnya. Dia menyentuh anting salib perak yang tampaknya cocok dipakai gadis itu.


"Ini cantik. Istriku terlihat lebih pemberani saat memakai ini."


"Benarkah?"


"Ya."


"Kalau begitu aku akan memakainya." Nola akhirnya menghela napas. Dia pikir anting itu akan terlihat aneh saat dipakai, jadi sedikit tidak percaya diri.


Tapi dia lupa jika Halbert bukan pria biasa. Bagaimana bisa memandang wanita dengan kata cantik dan pemberani dalam satu kalimat yang sama?


"Kalau begitu aku akan kembali dulu dan melihatnya di cermin," kata Nola.


"Jangan memaksakan diri saat menggunakan kemampuan matamu." Halbert memperingatinya.


"Jangan khawatir. Aku tahu."

__ADS_1


Nola segera meninggalkan ruang kerja Halbert saat ini. Setelah pintu ruang belajar ditutup lembut oleh Nola, suasana kembali hening.


Halbert menyipitkan mata. Dia tidak mengatakan semua benda yang dikirim oleh Dokter Visco. Karena dalam kotak itu, masih ada sepucuk surat yang ditujukan untuk Halbert.


Surat itu bertuliskan "Untuk Halbert Jefford" dari "Dokter Visco".


Kemudian ada selembar foto yang terawat dengan baik. Dalam foto tersebut berlatar pantai musim panas atau musim semi. Sekelompok anak remaja tersenyum ke arah kamera.


Lalu pandangan Halbert tertuju pada seorang remaja laki-laki berekspresi dingin. Laki-laki dalam foto itu berdiri di belakang seorang gadis berambut bergelombang yang memiliki mata abu-abu. Tampaknya laki-laki tersebut memakai anting salib perak. Persis sama dengan anting yang dipakai Nola beberapa waktu lalu.


Halbert mengerutkan kening. Laki-laki berkemeja hitam tersebut memiliki aura yang berbeda dari anak remaja lain di sekitarnya.


Di balik foto tersebut ternyata ada dua nama yang tertulis. Salah satunya adalah nama Noria. Lalu Dokter Visco juga menulis nama pria di samping nama ibunya Nola.


Mungkinkan pria beranting salib perak itu?


Halbert akhirnya membaca surat yang ditujukan padanya. Ternyata isinya sangat singkat. Hanya satu kalimat saja tapi sudah cukup membuat Halbert tertegun cukup lama.


Dia buru-buru membakar surat itu seolah-olah tidak ada apa-apa. Dia akhirnya memperhatikan foto itu lagi dan sorot matanya terlihat dalam.


"Sepertinya kebenaran ini sungguh dirahasiakan selama dua puluh tahun terakhir. Jika Nola tahu, apakah dia akan senang atau sedih?" gumamnya.


Dia akhirnya menyimpan foto tersebut di tempat yang sangat tersembunyi agar tidak ditemukan orang lain bahkan oleh Nola sendiri. Setelah itu Halbert menyalakan sebatang rokok dan mulai menyesapnya hingga habis.


Halbert terkekeh setelah berpikir lama. Dia membuang puntung rokok ke asbak. Ruang belajar dipenuhi bau rokok saat ini.

__ADS_1


Halbert menelepon Asisten Jae saat ini.


"Aku ingin kamu memeriksa seseorang untukku ...."


......................


Di kamar tidur, Nola melihat dirinya sendiri di cermin. Bayangan dirinya di cermin sekilas terlihat sangat bagus. Meski begitu, Nola tidak melihatnya terlalu lama karena matanya akan terasa sakit. Terakhir kali, dia mimisan.


"Anting ini memang bagus," gumamnya. Dia menyentuh anting salib perak di telinga kanannya.


Lalu Nola membuka lemari dan menarik sebuah koper yang cukup besar. Koper itu berisi barang-barang yang pernah disimpan oleh ibunya. Nola membuka koper dan mengacak-ngacak beberapa barang.


Barang yang dicari akhirnya ditemukan. Nola memegang lipatan kertas yang cukup tebal. Saat lipatan kertas dibuka, sebuah gambar kasar yang bisa ditebak gambaran kasarnya langsung terbayang di pikiran Nola.


Dia mengelus permukaan kertas yang tampak kasar. Permukaan yang kasar membentuk sebuah gambar. Nola menghitungnya dengan akurat. Tampaknya gambar salib.


"Kenapa ibu menyimpan gambar salib ini?" gumamnya.


Memperhatikan gambar salib hitam putih di kertas yang cukup tebal, mau tidak mau dia memiliki banyak kecurigaan. Apa hubungannya anting salib perak yang dia pakai dengan gambar salib yang sama seperti dalam kertas usang?


Nola meletakkan kembali kertas bergambar itu ke dalam koper, membereskan semuanya seperti sedia kala. Untuk saat ini, Nola hanya bisa menekan rasa ingin tahunya. Mungkin cepat atau lambat semuanya akan terkuak.


Lagi pula Nola sangat yakin jika Dokter Visco sangat baik dia bisa merasakan rasa rindu yang dalam saat berbincang dengan Dokter Visco. Karena inilah, Nola sangat ingin tahu tentang ibunya di masa lalu.


Ibunya pasti memiliki teman juga bukan? Dokter Visco adalah salah satunya. Lalu kenapa tiba-tiba harus setuju menikah dengan keluarga Neilson? Pasti bukan hanya untuk mencari perlindungan.

__ADS_1


__ADS_2