
Paman Sumin yang mendengar pertanyaan Takahiro Ren akhirnya menjawab. "Aku tahu sedikit keterampilan medis. Apakah kamu ingin memeriksa pasien?" tanyanya menggunakan bahasa negara C.
Suyue menerjemahkan apa yang dikatakan pamannya itu dan Takahiro Ren menunjuk ke arah Nola yang kini jatuh pingsan. Akhirnya, Paman Sumin mencoba mendapatkan denyut nadi Nola. Halbert tidak menghentikannya meski tahu kondisi Nola tak bisa sembuh dengan obat-obatan.
Selama pemeriksaan itu, Paman Sumin mengerutkan kening. Paman Suchang sebagai sang kakak juga mengerutkan kening. Dia tahu betul jika adiknya menunjukkan ekspresi tersebut, pasti hasilnya rumit.
“Bagaimana dengannya?’ Elvada bertanya.
Paman Sumin menggelengkan kepala. “Tidak ada yang salah dengan tubuhnya. Napasnya stabil seperti orang tidur.”
Setelah Suyue menerjemahkan beberapa percakapan Paman Sumin dengan mereka, ia juga bertanya dengan rasa ingin tahu.
“Paman, apakah kamu yakin dia baik-baik saja? Hanya tidur?”
Bukankah ini aneh?
Kenapa tiba-tiba kondisi fisik gadis itu mendadak seperti orang yang bangun tidur?
Mereka jelas melihat Nola berwajah pucat, kedinginan dan terlihat sangat menderita. Halbert memeluknya dengan hati-hati, memberikan kehangatan pada tubuh Nola.
Jaley Scott tidak sebingung mereka, bahkan Halbert tidak banyak bicara. Jadi Elvada yang bertanggung jawab memecahkan kebingungan mereka.
“Mungkinkah ini ada hubungannya dengan racun yang sebelumnya berada di tubuh kita? Racun itu tiba-tiba saja menghilang begitu saja dan Nyonya Muda pingsan. Apakah ada yang tidak kuketahui?”
Elvada tidak terlalu jelas tentang kemampuan memindahkan rasa sakit pada diri sendiri. Ini terlalu berbahaya baginya.
Tentu saja Halbert juga tahu itu berbahaya. Dia sudah berulang kali meminta Nola untuk tidak melakukan hal seperti itu. Terutama menyembuhkan sakit dan melukai diri sendiri. Semakin sering dilakukan, tubuhnya tidak akan tahan.
Tapi sekarang sudah terlambat. Dan Nola melakukan semua itu tanpa disadari, bukan keinginan tersendiri. Halbert tidak mau menjawab pertanyaan Elvada.
“Pergi dari sini dan cari tempat aman. Masalah ini, lebih baik tidak bahas,” kata pria itu.
__ADS_1
Elvada mengerti. Sepertinya ada cerita di dalamnya. Suyue dan kedua pamannya bukan orang usil sehingga berhenti bertanya. Racun bunga karnivora sudah hilang dari tubuh mereka, ini sudah lebih dari cukup.
Mereka mencari tempat yang aman untuk beristirahat. Elvada dan Jaley Scott telah menghapus jejak mereka sepanjang jalan agar tidak diketahui siapapun. Kedua anak macan tutul tertidur di dalam keranjang bambu.
Setelah menemukan tempat yang cocok untuk beristirahat, Halbert melihat isi tas Nola dan menemukan selimut kecil berbulu. Meski tipis tapi sangat hangat karena ada bulu-bulu halus yang sangat nyaman. Halbert menggunakan selimut tersebut untuk menutupi tubuh gadis itu agar tetap hangat.
“Berapa lama dia akan seperti itu?” tanya Jaley Scott.
Halbert menggelengkan kepala. “Lihat saja kondisinya secara berkala, jika masih tidak membaik, kita mungkin harus bermalam di sini,” jawabnya lemah.
Suyue dan kedua pamannya memilih membuat api unggun. Ketiganya sangat lelah setelah bertarung dengan bunga karnivora itu. Omong-omong, mereka belum mengenalkan diri. Untuk formalitas, Suyue dan kedua pamannya saling berkenalan dengan kelompok Nola.
“Jadi tempat ini juga terhubung dengan negara kalian? Sangat jauh?” Suyue terkejut setelah mendengar cerita Elvada.
Elvada mengangguk. “Mungkin ada beberapa pintu lagi yang tidak diketahui. Sebelumnya kami tidak tahu jika tempat ini merupakan pulau milik Organisasi Supernatural Dunia.”
Suyue menyembunyikan kebenciannya pada organisasi itu. “Benar, memang ada beberapa pintu di luar sana. Kami juga masuk dari sebuah gua.”
Takahiro Ren mengamati mereka dan menyimpulkan sesuatu. “Kalian sepertinya sangat benci dengan organisasi itu. apa yang kalian lakukan di sini?”
Awalnya mereka ingin menemukan jalan keluar setelah memanen beberapa tanaman dan buah herbal supernatural. Tapi siapa yang tahu jika mereka akan menemukan banyak binatang supernatural yang kuat.
Oleh karena itu, perjalanan mereka menemukan pintu keluar terhambat lagi dan lagi.
“Kalau begitu, apa tujuan kalian datang ke sini?”
Kali ini giliran Suyue yang bertanya pada mereka. Api unggun menghangatkan sekitar terutama untuk membiarkan tubuh Nola membaik.
“Kami datang memburu seseorang yang datang ke sini bersama anak buahnya. Apakah kamu pernah bertemu dengannya selama di hutan ini?’
Suyue menggelengkan kepala. “Tidak. Pada dasarnya, kami menjauhi siapapun untuk berjaga-jaga.”
__ADS_1
Suyue dan kedua pamannya datang dari arah yang berlawanan dengan kelompok Nola, jadi harusnya wajar saja jika tidak menemukan siapapun.
Tanpa sadar, hari sudah mulai sore lagi dan ini waktunya untuk menghangatkan diri lebih banyak. Cuaca di hutan tidak menentu. Siapa tahu akan turun hujan di malam hari.
Pada malam harinya, Nola yang sudah lama pingsan karena sakit perlahan membuka matanya. Tubuhnya sangat hangat dan nyaman. Tanpa diduga, Halbert selalu menunggu di sisinya.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya pria itu.
Nola mengangguk ringan. Wajahnya masih sedikit pucat. “Aku baik-baik saja.”
Melihat jika Nola sudah siuman, Suyue serta yang lainnya juga menghela napas. Akhirnya gadis itu bangun dan mereka tidak perlu khawatir dengan apa yang baru saja terjadi sebelumnya.
Orange yang menunggu bosan di dekat api unggun segera menghampiri Nola dan mengeong padanya. Dia juga mengkhawatirkan tuannya.
“Orange!” Nola senang saat merasakan aura kucing itu baik-baik saja sekarang.
Sayangnya keinginan Nola memeluk Orange terhalang. Halbert yang melihat kucing itu ingin dipeluk Nola, segera menyingkirkannya ke samping. Tatapannya tak bisa dikatakan lagi, tentu saja sangat dingin.
“Patuhlah di samping dan jangan membuat masalah. Kamu bahkan tak secerdas anak macan tutul yang baru berusia tiga bulan!”
“.…”
Orange yang diejek bodoh oleh Halbert mau tidak mau mengeong keras kepadanya. Manusia ini sungguh menyebalkan. Kenapa tuannya yang cantik bisa memiliki penjahat yang tercela ini?! Orange mengumpat di pikirannya.
Melihat Orange yang tersingkir, Nola sedikit kasihan. “Halbert, apa yang kamu lakukan? Ini terlalu kasar. Aku ingin melihat dari dekat, apakah Orange-ku baik-baik saja,” ucapnya tidak puas,
Halbert masih terlihat acuh tak acuh, jelas cemburu. “Jangan khawatir, paman Suyue memastikan jika kucing itu sehat dan bisa melompat ke jurang tanpa mengkhawatirkan apapun.”
“...” Suyue lebih tahu dari apapun jika pamannya tidak memeriksa kucing itu sama sekali.
Halbert hanya mencari alasan untuk menenangkan Nola. Untungnya Paman Sumin tidak terlalu paham dengan perkataan Halbert sehingga tidak menyangkal sama sekali. Seluruh bulu kucing jingga itu berdiri, sangat marah!
__ADS_1
Pria itu bukan hanya berbohong pada tuanya tapi juga menuduhnya tidak patuh. Jika dia bisa bicara, pasti akan memakinya ribuan kali.
Nola belum pulih sama sekali dan hanya merasa jauh lebih baik. Tapi dia lapar dan ingin makan sesuatu. Setidaknya mie instan. Sayangnya Halbert tidak mengizinkannya makan mie instan. Bubur ayam lebih baik.