
Halbert dan Mark menyusul cukup tergesa-gesa namun masih tidak menemukan keduanya. Mark berteriak memanggil keduanya tapi tidak ada jawaban. Hingga akhirnya Halbert pergi ke satu arah yang membuatnya yakin.
Karena dia sudah lama tidak menelusuri perkebunan, masih ada beberapa lokasi yang mulai terlupakan.
"Tunggu aku!" Mark segera mengikutinya.
Tak lama kemudian, Halbert berhenti. Dia memegang ponselnya dan menyoroti sekitar. Mark hampir saja menabraknya.
"Ada apa? Kenapa berhenti?" Mark mengerutkan kening.
"Mereka di sini," jawab Halbert.
"Apa?"
Mark melihat apa yang sedang diperhatikan Halbert saat ini. Ada lubang bertembok di depan mereka. Tidak terlalu besar tapi cukup dalam.
"Harusnya sedalam lima meter. Apakah keluarga Jefford mu memiliki lubang ini untuk penampungan air sebelumnya?" Mark menebak.
"Tidak."
Halbert memikirkan hal lain. Melihat jika pintu besi berkarat telah dibuka, hatinya tidak nyaman. Dia tidak tahu ada tempat seperti ini di kebun keluarga Jefford. Mau tidak mau, Halbert menelepon kakeknya lebih dulu.
"Ada apa?" Suara Kakek Jefford di telepon terdengar santai.
"Kakek, sejak kapan keluarga kita memiliki memiliki pintu besi menuju jalan bawah tanah?" tanya Halbert langsung ke inti.
Hening seketika. Kakek Jefford tidak segera menjawabnya dan tampak berpikir untuk mengingat seberapa luas halaman rumahnya.
“Di mana itu?” tanyanya dari seberang telepon.
“Di kebun dekat danau.”
“Tunggu di sana. Kakek akan segera datang.”
Tidak menunggu Halbert mengatakan sesuatu, panggilan telepon sudah terputus. Halbert dan Mark hanya bisa menunggu pria tua itu untuk datang. Seperempat jam kemudian, Kakek Jefford datang membawa kepala pelayan yang memegang lentera untuknya.
__ADS_1
Halbert sudah memegang pistol untuk berjaga-jaga. Namun tampaknya Kakek Jefford tidak panik atau merasa aneh dengan keberadaan lubang bertembok di depannya.
“Kenapa kalian datang ke sini? Bukankah kalian berkemah di dekat danau? Lalu di mana Nola dan Solachen?” tanya pria tua itu.
“Mereka mungkin masuk ke sini,” jawabnya.
“Apa?!”
Kakek Jefford melihat lubang bertembok di depannya. pintu besi berkarat itu ternyata sudah tidak terkunci lagi sejak lama karena isinya memang terowongan bawah tanah biasa. Belum lagi juga merupakan saluran air bawah tanah yang menghubungkan ke hulu sungai yang merupakan gua di bawah air terjun sebuah hutan.
Sudah lama sekali tempat ini tidak dipakai semenjak putra dan menantunya meninggal. Dia sibuk mengurus Halbert yang masih sangat muda saat ini. Jadi dia tidak terlalu peduli dengan tempat ini. Dia mengajak keduanya untuk turun dan mengeceknya seraya mencari Nola.
Kepala pelayan tidak ikut dan tetap di luar untuk menjaga sekitar. Beberapa bodyguard ditambahkan untuk berjaga-jaga. Jadi, urusan membawa lentera diserahkan pada Mark.
Saat memasuki terowongan bawah tanah, ternyata luas terowongannya tidak lebih dari satu meter dengan ketinggian dua setengah meter. Mereka bahkan bisa menyentuh langit-langit terowongan yang agak basah dan sesekali meneteskan air.
“Dulu, ayahmu sering pergi meninggalkan rumah melewati tempat ini. Dan dia akan muncul di gua air terjun di hutan. Tapi kakek tidak tahu pasti apa yang tersembunyi di sini,” jelas Kakek Jefford.
“Siapa yang membangun tempat ini?” tanya Mark.
“Kita berjalan cukup jauh tapi belum menemukan keberadaan tuanku dan nyonya muda,” kata Mark.
Ada beberapa cabang di terowongan tersebut tapi semuanya hanyalah ruangan biasa. Namun menurut Kakek Jefford ada satu tempat lagi yang tidak bisa dibuka sejak dulu. Karena tempat itu agak lembap, Halbert memutuskan untuk mengikuti jejak sepatu kecil yang diperkirakan milik istrinya.
Tak lama kemudian, mereka berhenti di sebuah cabang terowongan yang di depannya langsung dihadapkan dengan pintu besi. Pintu besi itu juga sudah dibuka oleh seseorang dan mereka menebak siapa orang itu.
“Apa yang ada di dalam sini?” Mark mencoba untuk membuka lebih lebar pintu besi yang berkarat tersebut tapi tidak bisa.
Di saat Kakek Jefford yang membukanya, pintu besi berkarat itu terbuka tanpa kesulitan sedikit pun. Mark sedikit membelalakkan mata dan hatinya canggung. Apakah dia kalah dari seorang kakek? Jika orang lain tahu ini, mungkin akan menertawakannya bukan?
Terdengar derit yang cukup membuat gigi ngilu. Saat pintu dibuka lebih lebar, mereka menemukan Solachen dengan cahaya senter ponsel.
“Tuan!” Mark akhirnya menghela napas lega saat mengetahui dia baik-baik saja.
“Akhirnya kalian menyusul,” kata Solachen.
__ADS_1
“Di mana istriku?” Halbert langsung menanyakan Intinya.
“Di sana.”
Solachen menunjuk ke satu sisi seraya menyoroti sekitar. Nola tampak bersila seraya menutup matanya sehingga tidak menyadari kedatangan Halbert. Kalajengking hitam supernatural tidak tahu ada di mana. Namun semenjak Nola dan Solachen masuk, kalajengking itu menghilang.
Kakek Jefford tidak berani mengganggu. Dia berjalan ke arah dinding ruang terowongan. Ada beberapa rak berjajar berisi buku usang yang tersusun rapi. Semua buku terlihat berdebu dan tidak terawat.
“Ini perpustakaan rahasia?” Mark menebak lagi dan dia mencoba untuk membaca salah satu buku.
Lentera diletakkan di tempat yang lebih mudah untuk memberikan pencahayaan yang cukup di sekitar rak buku.
Kakek Jefford tidak menjawab. Dia sepertinya sedang berpikir lebih jauh lagi tentang sejarah keluarga Jefford di masa dulu.
“Buku-buku ini tidak ada tulisannya,” kata Mark.
Semua halaman buku yang dibacanya hanyalah lembaran kertas usang kotor tanpa tulisan sama sekali. Kakek Jefford juga tidak menemukan tulisan apapun. Namun anehnya, Halbert bisa membaca isi buku tersebut.
“Nak, apakah kamu bisa melihat apa yang tertulis di sini?” tanya kakeknya.
“Ya.”
“Katakan, buku apa ini?” Mark penasaran.
“Bukan buku yang rahasia.”
Buku yang dipegang Mark hanya berisi tentang langkah-langkah kuno untuk membuat patung dan kaligrafi. Sama sekali bukan hal yang menyenangkan baginya. Alasan kenapa buku tersebut bisa tidak bisa dilihat orang biasa, Halbert juga masih belum tahu.
“Jika hanya kamu yang mampu melihatnya, berarti ini adalah warisan keluarga,” kata Solachen seraya melirik mereka sebentar sebelum akhirnya terfokus pada Nola yang masih bersila dan memejamkan.
“Jika ini benar warisan keluarga, berarti …” Mark menduga jika keluarga Jefford mungkin ada hubungannya dengan keluarga supernatural di masa lalu.
"Aku tidak tahu tentang ini," kata Halbert menjawab yang sebenarnya.
Dia hanya tahu bahwa keluarga Jefford telah berkecimpung di dunia bawah tanah sejak zaman dahulu. Setiap generasi keturunannya pasti akan menjadi bos mafia berikutnya. Halbert merupakan generasi baru saat ini tentu tidak akan tahu apakah keluarga Jefford pernah menyentuh dunia supernatural atau tidak.
__ADS_1
Kakek Jefford juga tidak pernah memeriksa tempat ini di masa lalu. "Lupakan saja. Kita tunggu Nola selesai bermeditasi. Mungkin dia memiliki sesuatu yang penting," katanya.