
"Ada apa?" Yujin melihat Sakie seperti orang yang baru saja mengalami bencana besar dalam hidupnya, mau tidak mau bertanya lebih jauh.
Sakie tidak menjawab. Dia tidak ingin membongkar penyamarannya di depan mereka saat ini. Dia hanya bisa menggelengkan kepala dan mencoba untuk menyentuh dahi anak itu lagi. Tapi kali ini bahkan efeknya lebih luar biasa.
Sakie yang baru saja menyentuh dahi Hiiro bukan hanya merasakan panas namun juga kaku di tempat. Dalam keadaan seperti itu, dia bisa melihat bayangan tinggi besar keluar dari tubuh Hiiro. Sakie mendongak, memperhatikan sosok hitam yang baru saja membentuk seorang pria berpakaian layaknya seorang samurai pada zaman dulu.
Sosok itu transparan, dikelilingi cahaya merah dan biru, menatap Sakie dengan tajam. Ketika sosok seorang samurai itu mengeluarkan katana dari sarungnya, Sakie sudah berwajah pucat.
"Dasar penyihir! Keberadaan kalian selalu menjadi noda sejak zaman dulu!" Suara sosok itu menggelegar seperti jenderal agung pada masanya.
Sakie yang berkeringat dingin akhirnya mendapatkan kepala kebebasannya. Dia menarik tangannya dari dahi Hiiro dan menatapnya seolah-olah dia adalah bencana.
"Ada apa? Ada apa dengan putraku?" Nyonya Rin menghapus air mata dan mengharapkan sesuatu dari Sakie.
Saat ini, Saiko yang tersenyum kaku kehilangan semua yang direncanakannya. Bukan hanya gagal menukar tumbal tapi juga memperburuknya. Siapa yang bisa memberitahu dirinya bahwa Hiiro dijaga oleh sosok yang agung itu? Dari mana anak itu mendapatkan jimat pelindung?
"Sakie ..." Yujin memperingatkan.
__ADS_1
Sakie kesal saat yujin terus mendesaknya. Ternyata Yujin juga melihat makhluk yang keluar dari tubuh Hiiro. Kini bersiap untuk mengayunkan pedang pada mereka.
Yujin sangat bingung. Dia tidak bisa menggunakan Kekuatannya saat ini, seolah-olah ada sesuatu yang menahannya. Tak lama kemudian, seorang pria berjubah hitam dengan Topeng anonymous tiba-tiba muncul begitu saja dan menari Hiiro dari tempat semu.
Nyonya Rin yang mengetahui putranya tiba-tiba saja dibawa oleh orang lain, mau tidak mau terkejut. Hiiro belum sadarkan diri saat ini, dia memiliki cara untuk membangunkannya.
"Siapa kamu?" Yujin waspada terhadap pria berjubah hitam dengan topeng anonymous itu.
Pria berjubah hitam itu tidak menjawab dan langsung pergi dengan anak Hiiro yang masih dalam keadaan tidak baik. Nyonya Rin akhirnya pingsan saat ini, menyisakan wanita tua Kei yang kebingungan.
Wanita tua Kei masih tidak mengetahui bahwa Sakie sama sekali bukan lawan dari bayangan pria samurai yang menjaga Hiiro selama ini.
Sakie yang sudah lama menahan diri akhirnya marah pada wanita tua Kei. Dia menyalahkannya karena tidak mengetahui apapun tentang cucunya sendiri. Jika dia tahu Hiiro memiliki jimat pelindung, sejak awal pasti akan dibuang lebih dulu agar tidak terjadi masalah
Tapi sekarang sudah terlambat. Tidak asa jalan untuk kembali. Hiiro tidak bisa lagi dijadikan tumbal jadi wanita tua Kei masih harus mencarinya sendiri.
"Putramu akan mati dalam kurun waktu tiga hari lagi. Jika kamu ingin mencari tumbal, maka carilah dengan cepat! Aku tidak peduli dengan prosesnya. Aku hanya ingin hasilnya. Jika kamu main-main dengan klan penyihir, bersiaplah untuk pembalasan!"
__ADS_1
Sakie mengucapkan kata-kata itu dan langsung pergi dengan Yujin. Wanita tua Kei tercengang. Dan untuk pertama kalinya, dia kesal dengan cucunya sendiri saat ini.
Nyonya Rin masih pingsan. Wanita tua Kei menendangnya untuk membuatkan wanita itu bangun.
"Bangun! Bangun untukku!" teriaknya marah.
Nyonya Rin yang siuman karena merasakan sakit di tubuhnya akibat tendangan wanita tua Kei. Ketiak dia bangun dengan wajah sembab dan basah air mata, wanita tua Kei memandangnya dengan jijik. Dulu dia merasa tidak apa-apa jika putranya memiliki kamar luar untuk membesarkan seorang istri simpanannya. Tapi ia tidak menyangka semuanya akan menjadi kacau seperti ini.
Nyonya Rin kembali menangis dan menanyakan keberadaan putranya. Wanita tua Kei tidak tahan dan ingin menamparnya saat ini.
"Lihatlah anak yang kamu lahirkan! Apakah dia akan membawa bencana bagi keluarga Kei ku?! Apakah begitu sulit untuk patuh dan minum teh dengan baik untuk kesembuhan putraku? Semuanya berantakan sekarang! Apakah kamu sengaja memasang jimat perdamaian pada putraku dan berpikir aku akan menyakitinya?" Suara wanita tua Kei hampir menjadi lebih serak saat memarahinya.
Nyonya Rin bahkan lebih bingung. "Bu, apa maksudmu dengan jimat perdamaian? Bagaimana Hiiro bisa memilikinya? Aku bahkan tidak pernah melihat biksu manapun memberinya jimat perdamaian saat pergi ke kuil di hari-hari biasa," jelasnya.
Menurut nyonya Rin, tidak ada yang salah dengan jimat perdamaian. Oleh karena itu, reaksi waniat tua Kei sangat aneh. Jimat perdamaian bagus untuk ketenangan diri dan menjauhkan hal-hal yang buruk. Kenapa wanita tua Kei mengira cucunya sendiri tidak ingin ayahnya sembuh.
Belum lagi, Nyonya Rin juga sangat bingung dan linglung di tempat. Dari mana putranya memiliki jimat perdamaian? Anak itu baru saja memasuki masa remaja dan mungkin seseorang akan memberinya benda-benda seperti itu.
__ADS_1