Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Bos Dan Anak Buah Berkumpul


__ADS_3

Nola dan Halbert pergi ke lantai bawah, menemukan Butler Cello untuk mengatur makan bagi mereka. Tentu saja Butler Cello tidak lupa tentang ini. Semuanya sedang diatur.


Untuk makan malam Halbert dan Nola sendiri, sudah disiapkan di atas meja.


"Nyonya Muda, apakah sup nya ingin dihangatkan lagi?" Butler Cello merasa kehangatan sup ayamnya mulai suam-suam kuku.


Gadis itu menggelengkan kepala. "Tidak perlu. Lebih mudah dimakan tanpa harus menunggunya dingin lebih dulu. Kamu siapkan saja makanan yang lain."


Butler Cello sedikit membungkuk padanya. "Kalau begitu aku akan ke belakang dulu. Jika butuh sesuatu, panggil saja."


"Ya." Nola mengangguk.


Butler Cello pergi ke dapur, menyiapkan segala jenis hidangan untuk Sean serta anak buahnya. Kecuali makanan pedas, semuanya baik-baik saja.


Para pelayan yang bertugas langsung membawa makanan di ruang tamu. Lebih nyaman bagi mereka untuk makan di lantai.


Bukan karena tidak diizinkan makan di meja makan bersama Halbert, mereka tidak mau satu meja bersama tuannya. Di mata anak buah Halbert, makan satu meja dengan tuannya sama saja tidak sopan.


Melihat makanan yang tersaji, perut Sean juga akhirnya berbunyi. “Hei, beri aku semangkuk. Cepat!”


“Bagaimana kamu akan makan? Mau aku suapi?” tawar Frangky baik hati.


Sean memelototinya. “Disuapi olehmu? Jangan bermimpi!”


Dia seorang pria besar disuapi oleh Frangky? Malu! Jika yang menyuapinya adalah seorang wanita cantik, ia masih mau.


“Kenapa tidak? Aku juga saudara besarmu. Sebagai saudara yang baik, menyuapi saudaranya juga bukan sesuatu yang ilegal.”


Kamu pikir kita saudara kandung??! Sean membatin keras. Dia sangat keras kepala.


“Tidak, jangan berharap! Biarkan pelayan cantik datang untuk membantuku makan!”


Frangky sama sekali tidak menuruti keinginannya. Si playboy itu masih berharap disuapi pelayan cantik. Bukankah kamu pada tuannya di ruang makan?


Oleh karena itu, Frangky mengambil semangkuk makanan untuk Sean dan menyuapinya dengan paksa. Sean sempat menolak tapi sendok berisi makanan yang dibawa Frangky mengenai hidungnya.


“Brengs*ek! Frangky, apakah kamu sengaja?! Sudah kubilang biarkan pelayan cantik menyuapiku. Apakah kamu dengar apa yang kukatakan?”


“Aku tahu, aku tahu. Jadi cepatlah makan!”

__ADS_1


Untuk menanggapi seorang playboy seperti Sean, jangan anggap serius kata-katanya. Jika lapar, mulutnya akan terbuka juga, tak peduli siapa yang memberinya makan.


“…” Sean makan sesuap demi sesuap. Kamu menganggap kata-kataku sebagai udara!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, Asisten Jae dan Sekretaris Eli datang untuk menjenguk keadaan Halbert serta anak buahnya. Nola baik-baik saja dan kini tengah mengoleskan obat di tubuh pria itu. Oleh karena itu, Sekretaris Eli dan Asisten Jae memilih melihat keadaan Frangky dan Sean lebih dulu.


“Frangky, Sean, apakah kalian baik-baik saja? Kenapa tidak memberi tahu berita sebesar ini semalam?” tanya Sekretaris Eli kesal.


Sean yang masih diperban seperti mumi juga tidak ingin usil. “Kalian pasangan yang baru menikah. Kenapa kami harus mengganggu waktu senang kalian? Ini hanya luka ringan. Kami belum mati.”


“Ini yang kamu katakan luka ringan? Lalu kenapa tubuhmu seperti mumi?!” Sekretaris Eli menepuk agak keras kaki Sean yang diberi gips.


Sean berteriak kesakitan. “Ahh! Jangan sentuh! Sakit!”


Frangky menggelengkan kepala. “Patah lengan dan kaki. Jangan khawatir, aku pasti akan menelepon kalian jika dia sekarat.”


“…” Sean mengutuk Frangky di hatinya.


Sekretaris Elis mendengkus. “Jarang sekali penipu wanita sepertimu terluka parah. Ini memang pantas!”


Pasangan itu saling menatap. Tentu saja tidak berani menunda perintah Halbert. Keduanya mengangguk pada Butler Cello. Sebelum meninggalkan kamar tamu, keduanya mengucapkan beberapa patah kata pada Sean. Lalu pergi menemui Halbert.


Di ruang belajar, Halbert memakai kemeja hitam yang terlihat mahal. Dua kancing bagian atasnya sengaja tidak dipakai sehingga tulang selangkanya sedikit terlihat.


"Bos!" Keduanya menyapa saat masuk ruangannya.


Halbert melirik mereka dan mengangguk. "Dalam beberapa hari ke depan, aku mungkin akan tinggal di rumah dan mengurus pekerjaan kantor dari sini. Kalian bawa semua berkas dan dokumen yang harus kutandatangani."


"Ya, kami mengerti, Bos." Asisten Jae juga sudah terbiasa membawa barang penting dari kantor me rumah Jefford.


Kemudian Halbert menatap Sekretaris Eli. "Kamu sedang hamil, ingatlah untuk tidak memaksa diri. Suaminya masih mampu membiayai hidup. Mintalah cuti jika sudah merasa tidak nyaman di masa depan," jelasnya.


Cuti hamil lebih panjang daripada cuti liburan. Halbert tidak pernah pelit memberi cuti hamil dan cuti melahirkan pada karyawan wanita di perusahaannya.


Setidaknya tiga bulan setelah melahirkan, mereka harus kembali bekerja seperti biasanya.


Sekretaris Eli mengangguk dan tahu peraturan itu. "Jangan khawatir, Bos. Kondisiku baik-baik saja saat ini."

__ADS_1


Nola datang tak lama kemudian, mengantarkan secangkir kopi untuk Halbert.


"Kalian di sini. Apakah kalian sudah sarapan?" tanyanya.


Keduanya datang cukup pagi. Halbert sudah memakan roti panggang sebelumnya dan belum terlalu lapar.


Asisten Jae tersenyum sopan pada Nola. "Kami sudah makan sebelum datang."


Nola ingat jika Sekretaris Eli sedang hamil saat ini. "Sekretaris Eli, apakah kamu ingin makan acar? Butler Cello baru saja mengeluarkan acar yang diasamkan sebelumnya. Rasanya sangat enak. Aku baru saja memakannya."


"Benarkah? Kebetulan aku sedang ingin makan sesuatu yang asam. Kalau begitu, Nyonya Muda, aku tidak akan sopan." Sekretaris Eli tanpa sadar menelan salivanya. Rasanya pasti segar.


"..." Wanita hamil memang berbeda, batin Asisten Jae.


Nola mengajak Sekretaris Eli ke lantai bawah. Dia menatap Halbert. "Aku akan keluar dulu. Kalian mengobrol."


"Ya." Halbert mengangguk. Dia masih sedikit iri dengan Asisten Jae saat ini.


Dia menatap Asisten Jae dengan penuh makna. "Sudah lama kita tidak berkumpul dan mengobrol bersama dengan yang lain. Ayo temui yang lain."


Asisten Jae mengikutinya keluar ruang belajar. Anak buah Halbert masih bisa berjalan dan makan dengan baik. Kecuali luka kecil di sekujur tubuh, sisanya baik-baik saja.


Mungkin hanya Sean saja, butuh kursi roda.


Halbert mengajak mereka ke halaman belakang. Halaman terbuka sangat nyaman untuk bersantai. Apa lagi saat hari cerah.


Orange berkeliaran di halaman belakang, sesekali akan pergi ke danau untuk mengintip ikan.


"Manusia, kenapa kamu tidak memancing ikan untukku?" Orange meminta Halbert yang kebetulan ada di halaman belakang.


Halbert memasukkan kedua tangan ke saku celana, menatap Orange dan Raja Kalajengking Hitam supernatural.


"Apa yang kalian lakukan di sini?"


"Oh, kami berniat menangkap ikan tapi tidak ada satu pun yang kami tangkap."


"Hanya kamu? Menangkap ikan? Bercanda!" Sean didorong oleh Frangky ke halaman belakang.


"Manusia mumi!" Orange kesal dengannya.

__ADS_1


"..." Sean ingin tersedak sesuatu. Bisakah dia melepaskan semua perban di tubuhnya, kecuali gips?!


__ADS_2