
Kembali ke sisi Halbert yang masih dikejar oleh mobil sedan hitam bersenjata laras panjang. Kali ini tidak mungkin bagi Halbert menyetir terlalu lama. Nola memikirkan cara. Mau tidak mau, mereka hanya bisa membunuh dari jarak dekat.
Karena itu, ketika mobil Halbert berhenti, mobil di belakangnya langsung memblokir jalan dan keluar dengan senjata api. Ada empat orang yang keluar, masing-masing memiliki pistol dan senjata api laras panjang.
Halbert meminta Nola untuk tetap berada di mobil. Namun gadis itu juga mampu untuk menembak saat ini sehingga Halbert hanya bisa mempercayainya sekali.
“Aku tidak bisa mati bahkan jika ditembak di kepala. Apa yang kamu khawatirkan? Halbert, bukankah kamu bilang aku tidak cocok bersamamu sebelumnya karena lemah dan menjadi kelemahanmu? Maka kini kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan menjadi beban untukmu,” jelasnya.
Halbert merasa tidak nyaman di hatinya. Dulu dia merasa seperti itu, tapi sekarang semuanya berbeda. dia sudah memiliki pikiran yang berbeda lagi. Nola adalah istrinya. Dia jatuh cinta padanya. Tidak mungkin untuk membiarkannya dalam bahaya.
Tapi Nola bukan gadis biasa. Dia lebih kuat darinya mungkin. Terkadang Halbert merasa tidak berdaya untuk melindunginya dari bahaya. Bukan hanya bahaya Organisasi Supernatural Dunia saja, melainkan Geng Kalajengking Hitam yang ingin keluarga Jefford binasa.
Di saat Nola keluar mobil sebelum disusul Halbert, salah satu dari keempat pria berpakaian hitam itu menembaknya.
Dor! Dor!
Sayangnya semua tembakan itu melesat, bahkan tidak mengenai Nola sama sekali. Kebingungan dengan apa yang terjadi, mereka mencoba untuk menembak Nola kembali. Tapi sayangnya tembakan lainnya juga melesat.
Namun saat Nola menodongkan pistolnya dan menembak salah satu dari mereka, langsung tepat sasaran.
“Apa yang terjadi sebenarnya?!” Salah satu dari ketiganya melihat jika rekan mereka sudah mati karena ditembak di bagian kepala.
Di saat keduanya kebingungan, Halbert muncul dan menembak mereka tanpa ampun. Mereka terkejut dan langsung berguling untuk menghindari tembakan. Lalu kembali melakukan serangan balik. Namun siapa Halbert? Bos mafia yang telah berkecimpung di dunia kejahatan saat remaja, keahlian menembaknya tidak buruk.
Mereka menghadapi tembakan beruntun, tentu saja lebih berhati-hati. Ketiganya sepakat untuk membunuh Nola lebih dulu. Tapi tampaknya istri Halbert ini tidak biasa. Tidak tahu apa alasan tembakan mereka meleset saat menembak Nola, namun kali ini mereka berjuang.
__ADS_1
“Brengs*k! Pergilah ke neraka!” Salah satu dari mereka menggertakkan gigi, mengarahkan pistol tepat ke jantung Nola.
Dor!!
Nola terkejut dan mundur selangkah saat merasa panas di dada kirinya. Darah merembes dan menodai gaunnya. Ketiganya mengira jika Nola akan langsung jatuh dan mati, lalu Halbert akan panik dan berusaha menyelamatkannya. Sayangnya mereka salah. Halbert sama sekali tidak peduli meski tangannya mengepal ketika melihat Nola tertembak tepat di jantung.
Wajah Nola memang sedikit pucat. Untuk sementara waktu, dia seperti kehilangan napas. Rasa sakit di dadanya disertai sesak napas sempat membuat Nola terkejut. Tak lama setelah itu, ada rasa gatal di dadanya. Dia tahu jika aura supernatural di tubuhnya mulai bekerja.
Melihat keadaan Nola yang semakin pucat, salah satu dari mereka menembak lagi dan kali ini mengenai perut gadis itu.
“Halbert, apakah kamu akan menyaksikan istrimu mati begitu saja? Kenapa kamu tidak mengikutinya ke neraka untuk bertemu keluargamu yang lain?” Salah satu dari mereka tertawa dan mulai berani untuk menodongkan pistol ke arah Halbert yang tertegun di tempat hingga wajahnya terdistorsi.
Nola yang mendapatkan tembakan lain di perutnya, mau tidak mau jatuh berlutut dan mengerang kesakitan. Dia seperti akan kehilangan nyawanya kapan saja. Di saat hendak tak sadarkan diri, tiba-tiba saja Nola mengencangkan pegangannya pada pistol dan menembak dua di antara ketiganya. salah satunya adalah pria yang hendak menembak Halbert.
Suara dua tembakan itu mengejutkan ketiganya. Pihak lain yang sebelumnya menembak Nola dua kali terkejut, menatap tak percaya dengan mata melebar. Pria itu menatap Nola yang masih memiliki tenaga untuk menembak, bahkan tidak tewas di tempat.
Sebelum menyadari dirinya tertembak, sosoknya langsung tumbang dan mati seketika. Sementara yang satunya lagi ditembak di bagian perutnya, sama seperti posisi di mana Nola tertembak sebelumnya.
“Tidak mungkin! Bagaimana mungkin kamu …” Pria yang tertembak di perutnya itu menyaksikan Nola bangkit perlahan tanpa tanda akan mati sedikit pun. “Kamu jelas tertembak di jantung. Bagaimana bisa … masih hidup?”
Rekannya yang ada di sampingnya juga tertegun. Tidak mungkin untuk melawan Halbert begitu saja. Dia langsung mengarahkan senjata api laras panjangnya ke arah Halbert untuk membunuhnya. Sayangnya Halbert lebih dulu menembaknya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Orang itu langsung tewas seketika. Sementara pria yang terluka di perutnya langsung berwajah pucat. Dia masih tidak percaya jika orang yang tertembak masih bisa bertahan hidup. Nola tidak terlihat seperti orang yang sekarat.
Gadis itu tersenyum. “Sayangnya kamu tidak akan mendapatkan jawabannya.”
__ADS_1
Pada akhirnya, pria terakhir itu juga mati setelah Halbert menembaknya beberapa kali. Halbert tidak memedulikan mereka. Dia segera menghampiri Nola dan memeriksa lukanya. Luka tembak itu jelas tampak dalam. Darahnya masih belum berhenti mengalir.
Kali ini Nola tidak menyembunyikan rasa sakitnya lagi dan tumbang ke tubuh Halbert. “Aku baik-baik saja,” katanya.
Halbert memegang bahu Nola sedikit erat. “Bodoh,” gumamnya.
Pria itu segera membawanya ke alam mobil dan meninggalkan tempat tersebut tanpa memedulikan keempat mayat yang tergeletak di dekat mobil. Hanya berselang setengah jam setelah Halbert dan Nola pergi, kelompok pertama yang ban mobilnya tertembak sebelumnya tiba. Mereka memeriksa semua mayatnya.
“Mati!” Wanita bertopeng yang memeriksa denyut nadi mereka mendengkus kesal.
“Tidak menyangka, Halbert mampu menyelesaikan Keempatnya.”
“Mungkin gadis itu juga berpartisipasi dalam penembakkan ini.”
“Kamu benar. Mungkin saja.”
Tidak mungkin untuk menyusul Halbert saat ini. Mereka mungkin akan bernasib sama dengan keempat rekannya. Lebih baik kembali dulu dan melaporkan semuanya pada bos. Dia merasa setelah menelepon bos sebelumnya, amarahnya tidak bisa dibendung.
“Pergi setelah mengurus mayat keempatnya. Jangan biarkan orang lain tahu ini, apa lagi jika polisi curiga.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, Nola yang terluka menahan rasa sakitnya sepanjang perjalanan. Halbert tidak berani berhenti dan terus berkendara menuju ke tempat yang dituju. Mungkin sesampainya di sana, Nola bisa mengobati luka-lukanya.
Setelah menempuh perjalanan yang jauh hingga bensin hampir habis, akhirnya mereka tiba di tepi jalan yang sisi kanan dan kirinya merupakan hutan yang sepi. Halbert menyetir tanpa henti hingga kedua tangannya agak kebas dan wajahnya kelelahan.
__ADS_1
Hari ternyata sudah mulai sore. Melihat Nola yang masih sama seperti sebelumnya, Halbert merasa tertekan. Gaun Nola sudah dipenuhi oleh darah saat ini walaupun pendarahannya tidak lagi separah sebelumnya. Tapi wajahnya sepucat kertas.
“Tunggu di sini,” kata Halbert seraya memegang kartu alamat yang sebelumnya diberikan Nola padanya.