Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Budak Istri


__ADS_3

Solachen dan Nola mengobrol cukup lama hingga tidak mengetahui bahwa Kakek Jefford menguping di luar pintu.


Setelah mendengar Solachen akan membujuk Nola untuk tinggal di negara S, Kakek Jefford panik. Dia pergi ke lantai bawah untuk menemukan cucunya yang baik.


Jaley Scott sudah pergi di hari pertama kembali dari hutan misterius. Dia harus mengurus surat kelegalan dari dua anak macan tutul supernatural. Adapun Elvada, dia menunggu Solachen keluar sebelum melihat keadaan Nola secara pribadi.


Kakek Jefford melihat Halbert sedang membuat bubur ayam, lalu menghampiri diam-diam.


"Halbert!" ucapnya pelan.


Halbert menoleh dan melihat kakeknya sedikit khawatir. "Kakek, ada apa?"


"Halbert, kamu harus memperlakukan istrimu lebih baik lagi di masa depan. Jika tidak, Solachen akan membujuk putrinya untuk pergi dengannya ke negara S. Untungnya Nola sangat mencintaimu hingga menolak ajakan itu. Apapun yang terjadi, aku tidak ingin kehilangan cucu menantu. Apakah kamu tahu?"


Kakek Jefford tidak perlu bicara terlalu lembut dan hati-hati. Cucunya sendiri, ia tahu yang terbaik. Halbert pasti akan mengerti.


Garis keturunan keluarga Jefford belum lahir, bagaimana mungkin dia tidak cemas?


Halbert mendengarkan dengan sabar penjelasan kakeknya lalu mengangguk serius. "Kakek tidak perlu khawatir, aku tahu apa yang harus dilakukan."


Ia menyipitkan mata. Geng Kalajengking Hitam sudah seperti isi yang kehilangan cangkangnya saat ini. Butler Flir sudah mati, mudah untuk mengacaukan mereka.


Namun Geng Kalajengking Hitam tidak kecil. Ada banyak cabang dan markas utama yang hampir setara dengan kelompok mafianya.


Secara normal, geng kriminal bawah tanah itu bukan lawan kelompok mafia. Tapi kedua belah pihak sama-sama kejam dan bersenjata.


Ketika Butler Flir mati, harusnya kalajengking hitam yang dibesarkan mereka tidak lagi dalam kendali penuh.


Kakek Jefford merasa lega dan menepuk bahu cucunya sedikit kuat. "Kakek akan serahkan urusan ini padamu." Setelah itu dia meninggalkan dapur.


Kini Halbert memasak bubur ayam dengan hati-hati dan penuh perasaan. Ia harus membuat Nola terkesan dengan masakannya. Jika Solachen bisa memasak, ia juga harusnya bisa.


Halbert terbiasa memegang senjata api dan pisau tapi tidak dengan panci dan wajan! Ini masalah.


Omong-omong, Takahiro Ren dan Hiiro sudah pergi ke area pembangunan Organisasi Fortuna milik Nola. Pria itu sudah sembuh dari kakinya yang dipatil ikan lele. Namun karena ini jugalah, dia enggan untuk mendekati danau di belakang rumah.

__ADS_1


Hiiro belajar banyak kata bahasa negara A. Usianya masih muda sehingga mudah menangkap dan memahami apa yang dipelajari. Nyonya Rin juga sesekali akan melakukan video call pada putranya untuk mematikan anak itu baik-baik saja di negeri asing.


Setelah bubur ayam selesai, Halbert melihat mangkuk dengan puas. Ia menghiasi bubur ayam dengan berbagai pelengkap.


Saat pergi ke kamar, Nola sedang mengobrol dengan Wickson—pamannya Nola yang baru saja kembali.


Melihat Halbert datang, Wickson tidak ingin mengganggu keduanya. "Kalau begitu, Paman akan keluar dulu. Kamu perhatikan tubuhmu dengan baik," ucapnya.


Nola mengangguk. "Paman, apakah kamu akan tinggal lebih lama kali ini?"


Sayangnya Wickson menggelengkan kepala. "Aku dan ayahmu memiliki sesuatu untuk diurus. Aku sendiri akan pergi setelah urusan di sini selesai. Karena kamu baik-baik saja, Paman bisa tenang. Paman akan mengunjungimu lagi lain kali."


Wickson juga enggan untuk pergi. Tapi dia diincar oleh Organisasi Supernatural Dunia tanpa henti. Jika terlalu lama di sini, organisasi itu akan menargetkan keluarga Jefford. Dia tidak menginginkan hal itu terjadi.


Setelah Wickson keluar kamar, Halbert menghampiri Nola dengan memegang nampar berisi bubur ayam dan segelas susu.


Aroma bubur ayam membuat Nola teralihkan kembali. Dia mencium aroma yang sangat harum, pasti rasanya sangat enak.


Melihat keingintahuan dan harapan di mata gadis itu, Halbert merasa sedikit bangga di hatinya. Ia yakin rasanya tidak akan buruk.


"Cobalah, aku akan menyuapimu." Halbert mulai menyendok bubur.


Nola sudah seminggu tidak makan dan hanya mengandalkan larutan nutrisi yang dalam infus. Sekarang infus itu belum dicabut dari punggung tangannya.


"Bagaimana rasanya?" tanya Halbert sedikit gugup.


Nola menyipitkan mata, memperhatikan suasan hati Halbert yang gugup. Lalu tersenyum sedikit aneh.


"Sedikit asin tapi tidak apa-apa. Mungkin ada yang salah dengan lidahku," jawabnya.


Halbert mengerutkan kening. Ia mencobanya tadi dan rasanya pas. Lalu dia mencobanya lagi sekarang, rasanya masih sama.


Setelah Nola memakannya lagi dan memastikan, rasanya agak terlalu asin tapi masih bisa diterima. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Mungkinkah indera pengecapnya menjadi sensitif setelah siuman?


"Biarkan dokter keluarga datang nanti untuk memeriksa lidahmu. Tidak ada yang salah dengan rasa buburnya." Halbert berkata dengan jujur.

__ADS_1


Jika benar indera pengecap Nola menjadi lebih sensitif, itu artinya semua jenis makanan asin, pedas, manis atau asam, takarannya harus dikurangi.


Halbert ingin membuat yang baru tapi Nola menolak. Ia sudah lapar, tidak masalah dengan rasa bubur yang agak asin.


Setelah menghabiskan semangkuk bubur, Nola meminum segelas susu. Rasa susunya tawar karena memang asli susu sapi segar yang sering dikirim pengantar susu harian.


"Aku ingin mandi," katanya.


"Tubuhmu masih lemah. Istirahat saja sampai kondisimu membaik. Lagi pula selama kamu koma, aku sering mengelap tubuhmu dengan air hangat. Jadi tidak kotor," jelas Halbert.


Nola merasa malu. Tidak heran tubuhnya merasa bersih saat ini, ternyata pria itu memandikannya.


Tidak ada yang perlu disembunyikan antara suami dan istri.


Setelah memasak dan memberi makan istrinya, Halbert membersihkan diri. Kemudian dia berbaring di samping istrinya, mengucapkan banyak kata-kata perhatian.


"Nola, jangan pernah meninggalkanku sendiri. Aku tidak ingin lagi kesepian," ucap Halbert seraya membereskan poni gadis itu.


Karena Nola memiliki rambut panjang, Halbert selalu berhati-hati saat mengurusnya. Ia menyukai rambut panjang gadis itu.


Nola memeluknya, menghirup aroma mint yang selalu ada pada tubuh Halbert. "Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku justru takut kamu meninggalkanku."


"Itu tidak akan pernah terjadi kecuali aku mati."


"Kamu tidak akan mati selama aku hidup!" Nola menegaskan. "Kita juga belum punya anak."


"Ya, ya, aku tahu." Halbert berhasil dibujuk. "Apakah kamu ingin punya anak?"


Nola terdiam sebentar lalu menjawab. "Aku ... Aku hanya takut."


Halbert memeluknya sedikit lebih erat. "Tidak ada yang perlu ditakutkan, aku ada di sini."


Tidak apa-apa untuk memiliki anak lebih awal. Mungkin dengan kehadiran seorang anak di antara mereka, hubungan suami-istri akan menjadi lebih baik.


Nola tertidur setelah mengobrol dengan Halbert. Dia masih membutuhkan waktu istirahat agar tubuhnya bisa pulih lebih cepat. Setelah memastikan jika Nola tidur nyenyak, Halbert mencoba bangkit perlahan.

__ADS_1


Tapi gerakannya terhenti. Halbert melihat jika tangan Nola mencengkeram kemejanya dengan erat. Mau tidak mau, dia mencoba melepaskannya sedikit demi sedikit agar tidak membangunkannya.


"Aku mencintaimu, sayang," bisik Halbert dan mengecup keningnya.


__ADS_2