Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Kalajengking Supernatural


__ADS_3

Halbert akhirnya tidak mengambil tindakan. Dia hanya berhati-hati agar kalajengking hitam itu tidak berani menyerang istrinya. Tapi Nola terlihat tenang dan berkata bahwa kalajengking hitam itu kini berada di bawah pengaruhnya.


Namun Halbert tidak percaya. Jika kalajengking itu menyengatnya, pasti sangat mengancam jiwa.


Hanya saja Nola bersikeras jika kalajengking hitam itu telah berada di bawah pengaruhnya.


"Halbert, ada satu hal yang mungkin aku belum beri tahu padamu. Aku bisa mengendalikan pikiran beberapa hewan dan binatang. Ini hanya kalajengking hitam dengan aura kecil, tidak masalah bagiku saat ini," jelasnya.


"Jangan main-main!" Halbert tetap tidak mau kehilangan kewaspadaannya.


Tiba-tiba saja Nola mengulurkan tangan dan kalajengking hitam itu bergerak menaiki telapak tangannya tanpa perlawanan. Halbert yang melihat ini sedikit dingin di hatinya.


Apakah istrinya ini suka memelihara binatang berbisa?


"Nola, apakah kamu begitu terobsesi dengan bintang beracun? Aku mungkin bisa yakin jika di masa depan kamu akan memelihara harimau dan ular atau buaya di ruang?" ejek Halbert kesal.


Nola sedikit canggung. Dia tidak bermaksud demikian. Tapi tampaknya Halbert tidak suka. "Aku ... Aku hanya—"


Aku hanya ingin menunjukkan padamu kemampuanku yang lain. Nola hanya bisa membatin tapi ragu untuk berterus terang.


Halbert tidak peka dengan isi pikirannya. Yang ada di pikirannya saat ini hanya satu, menjauhkannya binatang beracun ini dari tangan istrinya.


"Baiklah, jangan memegangnya lagi. Letakan kalajengking hitam itu di atas meja. Jika kamu menyentuh kucing atau anjing aku tidak peduli. Tapi tidak dengan kalajengking!"


Mau tidak mau Nola akhirnya menurut. Dia meletakkan kembali kalajengking itu di atas meja. Barulah setelah itu Halbert mengelap telapak tangannya dengan tisu.

__ADS_1


"Masalah ini, aku akan menanganinya. Jangan menggunakan kemampuanmu untuk masalah sepele ini. Apakah kamu tahu?"


"Apakah kamu akan memeriksa karyawan wanita itu?" tebak Nola.


"Tentu saja ini harus. Aku tidak bisa mempercayai kata-kata sepihakmu."


Kata-kata Halbert sedikit menusuk perasaan Nola. Tapi gadis itu tidak peduli. Selama Halbert berwaspada, dia sudah merasa lega.


Halbert segera memerintahkan Asisten Jae untuk mengumpulkan semua informasi tentang karyawan yang ada di elevator bersama Nola sebelumnya.


Ternyata salah satu dari keduanya adalah karyawan baru yang diterima sebulan lalu. Halbert menyipitkan mata. Dia mulai menganggap serius masalah ini.


"Tunggu di sini. Aku akan segera kembali. Ingat, jangan main-main dengan kalajengking ini. Jika tidak, aku akan membuatnya menjadi kalajengking bakar. Kebetulan kakek suka makan binatang seperti ini sebagai obat."


Mendengar hal ini, Nola tentunya sedikit takut. Dia mengangguk patuh. Barulah setelah Halbert meninggalkan ruangan, dia menghela napas lega.


"Jangan melukai Halbert. Apakah kamu mendengar ku?" bisiknya.


Kalajengking hitam itu sepertinya mengerti apa yang dikatakan Nola. Tapi sedikit tidak senang saat bertatapan dengan Halbert sebelumnya. Aura pria itu membawa ancaman baginya.


Nola kembali meletakkan kalajengking itu di atas meja. Kalajengking hitam tampak tidak puas tapi tidak berdaya. Dirinya sendiri tidak tahu bagaimana bisa jatuh ke tangan gadis ini sebelumnya?


Bukankah sejak di elevator, dia sengaja menakut-nakuti nya? Dia hanya merasa gadis itu mampu melihat sosoknya di elevator jadi sengaja ingin menakutinya.


Siapa yang tahu kalajengking hitam itu berakhir di tangannya.

__ADS_1


Sebagai kalajengking hitam supernatural, dia sedikit rendah diri sekarang.


......................


Di ruangan sebelah, Halbert sudah menelpon nomor asing yang diberikan Nola padanya. Awalnya tidak ada jawaban bahkan ditolak mentah-mentah. Tapi dia tidak menyerah dan menelponnya berulang kali hingga akhirnya pihak lain menjawab panggilan.


Tapi pihak lain sepertinya sudah tahu apa yang diinginkan Halbert. Bahkan mengetahui namanya dengan baik dan benar. Bahkan tahu jika nomor teleponnya diberikan oleh Nola.


Halbert tidak peduli dengan ocehannya. "Simpan ceramahmu untuk diri sendiri. Aku hanya ingin kamu datang ke perusahaanku untuk memastikan sesuatu," katanya.


Suara pria setengah baya di seberang telepon tampak lebih acuh tak acuh daripada Halbert sendiri.


"Nak, sebelum kamu memanggilku untuk datang, alangkah lebih baiknya jika kamu belajar tentang lingkungan sekitarmu. Apakah kamu tidak tahu pepatah? Ada pepatah yang mengatakan ... Jika ingin mencari tahu jawaban dari suatu keraguan, maka harus mencoba menerima keberadaan Tuhan," kata pihak lain sangat pihak.


Tiba-tiba saja Halbert berwajah gelap. Kenapa dia harus percaya Tuhan? Apanya Tuhan membantunya selama ini? Tidak bukan?


Pikiran Halbert berkecamuk saat ini. Pegangannya pada ponsel sedikit mengencang.


Dia berusaha untuk menenangkan pikirannya. "Pak tua, apakah kamu mencoba untuk menjadi seorang pemuka agama di depanku?"


Namun bukan jawaban yang didapatkan Halbert, melainkan suara telepon yang ditutup secara sepihak. Wajah Halbert tidak baik saat ini. Dia sangat kesal.


Jika pihak lain bukan seseorang yang direkomendasikan istrinya, dia tidak akan peduli sama sekali. Dia mencoba meneleponnya kembali tapi tidak diangkat.


Kali ini Halbert benar-benar tidak lagi peduli. "Percaya pada Tuhan?" cibirnya. "Lalu bagaimana dengan kehidupan orangtuaku di masa lalu? Tuhan sama sekali tidak datang untuk melindunginya," gumamnya.

__ADS_1


...****************...


NB: Halo readers, jika Author update nya terlalu malam berarti ketiduran sebelumnya. Karena biasanya Author bikinnya sambil tiduran jadi kadang tanpa sadar terlelap.


__ADS_2