
Elvada sesekali akan mengetuk lantai untuk memastikan bunyinya berbeda. Dia yakin jika pintu ruang bawah tanah ada di sini. Tapi ia sudah memastikan jika semua lantai tampaknya tidak berbeda jauh. Hal ini membuatnya sedikit bingung.
"Harusnya ada lantai yang berbeda di sini. Dulu aku ingat jika tuanku pernah membuat ruang bawah tanah rahasia di sini. Apakah tempat ini pernah direnovasi sebelumnya?" Elvada menebak beberapa kemungkinan.
"Ya, memang pernah ada renovasi. Aku tidak tahu persis tapi kakek pernah membicarakannya." Halbert mengangguk.
Elvada akhirnya menepuk dahinya. "Kalau begitu wajar saja. Pintunya mungkin sudah ditembok lagi. Aku harus membongkarnya."
Halbert meminta anak buahnya untuk pergi menemukan Richard dan meminjam alat pembongkaran. Meski lantai rumah lama keluarga Jefford sangat kokoh dan mahal, tidak sulit untuk dihancurkan.
Setelah berhasil meminjam alat, Elvada mulai menebak lantai mana yang dijadikan pintu rumah bawah tanah sebelumnya. Setidaknya bisa mengurangi sedikit kerusakan.
Halbert sendiri tidak peduli apakah lantainya akan rusak atau tidak. Baginya, tidak sulit mengeluarkan uang perbaikan.
Telah Elvada mengetuk lantai beberapa kali, akhirnya diputuskan untuk membongkar. Apa lagi dengan bantuan raja kalajengking hitam supernatural, semuanya lebih mudah.
Tidak sulit bagi Elvada untuk menghancurkan salah satu lantai dan semennya. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk melihat sebuah besi berkarat yang terkubur di bawah.
"Ini dia, memang benar ada di sini," kata Elvada langsung menghela napas lega.
Dia sedikit kelelahan sehingga menyerahkan sisanya pada anak buah Halbert. Lagi pula hanya tinggal membersihkan sisa-sisa semen yang menghalangi pintu besi menuju ruang bawah tanah.
Ketika selesai menggali, mereka mencoba untuk membuka pintu besi berkarat itu. Walaupun sudah lama tidak dibuka, besinya tetap kokoh dan tidak mudah hancur. Mungkin karena tebal juga.
Karena sudah lama tidak dibuka dan telah terkubur semen, mau tidak mau pintu hanya bisa dihancurkan. Toh, ini rumah lama keluarga Jefford, Halbert tidak keberatan sama sekali.
Saat pintu berhasil dibongkar, di dalam tampak sangat gelap. Elvada menggunakan lentera untuk turun. Dia turun lebih dulu sebelum akhirnya disusul oleh Nola dan Halbert.
Di dalam ruang bawah tanah, luasnya cukup bagus. Elvada mengecek beberapa lentera yang terpasang di bawah sana dan menyalakan semuanya.
"Sepertinya di sini masih sangat sederhana. Pencahayaan menggunakan lentera gantung," kata Nola saat mencium aroma minyak tanah di sekelilingnya.
Elvada mengangguk setuju. "Dulu berbeda dengan sekarang. Menggunakan lentera untuk suatu ruangan terkesan elegan dan hangat."
Ada banyak barang di dalam ruangan itu. Elvada mengeceknya satu persatu. Halbert juga melihat sekeliling.
__ADS_1
"Semua buku ini berhubungan dengan supernatural." Halbert mengambil salah satu buku dari rak dan membaca isinya sekilas.
Elvada menghampirinya. "Dulu keluarga Jefford sangat dihormati dan beberapa generasi muda optimis tentang kemampuan mereka. Sayangnya, masa jaya itu perlahan meredup dan hanya menyisakan kalian berdua."
"Bisakah ini semua dibawa ke atas?"
"Tentu saja harus dibawa dan simpan. Tempat ini tidak bisa dipertahankan."
Di saat keduanya mengobrol, Nola sendiri hanya mengandalkan penglihatan supernaturalnya untuk mengetahui tata letak ruangan. Ia juga mengambil beberapa barang untuk dilihat. Yang paling membuatnya penasaran adalah beberapa lukisan yang tergantung di dinding.
Semua lukisan mungkin terlihat biasa. Namun jika diperhatikan baik-baik, harusnya barang antik.
"Hei, lukisan ini harusnya sangat mahal jika dijual pada era ini bukan?" tebaknya.
Elvada akhirnya tertarik dengan lukisan. "Ya. Ini lukisan antik pada zamannya. Dan kini menjadi lebih antik lagi."
Halbert menaikkan sebelah alisnya. Dia bukan pecinta lukisan. Tapi kakeknya mungkin akan senang dengan keberadaan barang antik tersebut.
Melihat ruang bawah tanya yang terawat dipenuhi oleh debu, Nola melihat beberapa buku ditumpuk dalam sebuah kotak kardus.
Ketika melihat beberapa lembar isi buku tersebut, Nola terkejut hingga wajahnya panas. Ternyata ini buku seperti itu.
Tapi bagaimana bisa keluarga Jefford memiliki hal-hal ini.
"Istriku, apa yang kamu lihat?" Suara Halbert membangunkan pikiran Nola dari isi buku itu.
"Ini ... aku melihat buku ini." Suara gadis itu bercampur malu-malu.
Halbert curiga dan segera menghampirinya untuk melihat isi buku terkait. Ekspresinya bahkan lebih bermartabat lagi. Dia tidak seperti Nola yang malu-malu, melainkan berwajah gelap.
Elvada juga tampaknya mengenali buku itu dan mau tidak mau terbatuk yang disengaja. "Ehem! Ini buku-buku milik tuan lama sebelumnya. Karena tuan lama adalah pria dengan pribadi yang tak tertarik pada wanita, dia menggunakan ini untuk memahami beberapa hubungan. Aku tidak menyangka akan melihat ini lagi,” jelasnya dengan nada agak canggung.
Kemudian dia menatap pasangan itu dengan mata diam-diam. “Tanpa buku ini, aku tahu kalian berdua harusnya lebih panas,” gumamnya.
Baik Nola maupun Halbert bisa mendengar apa yang dikatakannya. Mau tidak mau telinga keduanya memerah. Namun Halbert tidak banyak bereaksi seperti Nola. Pria itu akhirnya menutup buku adegan dewasa dan melemparkannya ke kotak yang ada.
__ADS_1
“Buku berantakan, jangan dilihat,” katanya pada gadis itu.
“Aku tahu.” Nola menjawab seperti suara nyamuk dan pergi mengecek yang lain.
Halbert hanya tersenyum dan mengikutinya tanpa sadar.
“…” Elvada yang melihat interaksi keduanya mau tidak mau bergumam tidak jelas.
Ketiganya melupakan buku panas itu dan memeriksa yang lain. Ada banyak barang yang cukup penting di ruang bawah tanah tersebut, termasuk dokumen tentang supernatural. Halbert mengemasi semua barang dan meminta anak buahnya untuk membantu memindahkan.
Ketika semuanya selesai, waktu makan siang ternyata sudah lewat. Mereka akhirnya pergi ke rumah Richard untuk makan siang.
Rumah Richard tidak besar atau kecil. Semuanya penuh dengan nuansa elegan dan hangat. Ada beberapa barang antik serta barang lama yang sudah jarang dijual di pasaran. Setidaknya hampir mirip dengan tata letak rumah zaman dulu.
“Apa yang ingin dimakan oleh kalian?” tanya Richard yang siap pergi ke dapur.
“Buat saja sederhana. Aku tidak peduli.” Halbert tidak sopan mengatakannya.
“Tidak masalah.” Richard pergi ke dapur untuk menyiapkannya.
“Biarkan aku membantu.” Elvada pergi menyusulnya.
Seraya menunggu makan siang siap, Nola pergi ke halaman belakang untuk melihat halaman. Richard berkata bahwa dia suka berkebun dan menanam segala jenis bunga di sana. Sebagai seorang gadis, keingintahuannya sangat besar.
Halbert hanya mengikutinya karena bosan. Setelah memberikan beberapa arahan pada anak buahnya yang memindahkan barang ke mobil pickup Richard yang dipinjam olehnya, dia juga menyusul istrinya.
Gadis itu duduk di kursi rotan di teras belakang seraya menggoda seekor burung dalam sangkar yang diletakkan di atas meja. Tampaknya Richard sedang memberi makan burung sebelum mereka datang ke sini.
“Jika kamu suka burung, aku akan membelimu satu untuk dimainkan di rumah,” kata Halbert mulai duduk di sampingnya.
Kursi rotan cukup luas dan bisa diduduki dua orang.
Nola menggelengkan kepala. “Aku merasa kasihan melihat burung terkurung di sangkar. Akan lebih baik memelihara kucing.”
Kucing? Sepertinya Halbert mulai memikirkannya.
__ADS_1