Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Haruskah Aku Memastikannya?


__ADS_3

Di toilet perusahaan Jefford Corp, seorang wanita mencuci tangannya di wastafel. Tidak ada orang lain di sana selain dirinya sendiri. Jika Nola ada di sini, dia pasti akan langsung mengenalinya sebagai salah satu karyawan yang ada di elevator bersamanya.


Wanita itu bernama Juliana, seorang karyawan baru sebulan yang lalu. Dia mampu menyelesaikan pekerjaan dengan rapi hingga nyaris tanpa ada kesalahan sedikitpun sehingga atasannya juga puas dengan hasilnya.


Setelah mencuci tangan, dia tersenyum di cermin wastafel. Tapi tiba-tiba saja senyumnya perlahan memudar setelah meraba-raba tubuhnya.


"Tidak mungkin?! Ke mana kalajengking itu pergi?" gumamnya.


Juliana mencoba untuk menggunakan aura supernatural nya untuk mengetahui keberadaan kalajengking hitam. Tapi dia sama sekali tidak mampu merasakan keberadaannya.


Dia segera berwajah pucat. Bukankah tadi masih ada? Mungkinkah kalajengking hitam itu melarikan diri?


Rasanya tidak mungkin sama sekali.


"Tanpa kalajengking hitam itu, aku tidak bisa bekerja dengan baik di sini. Rencana bos tidak boleh gagal!" gumamnya.


Juliana segera menghubungi seseorang dan berbicara dengan suara pelan di salah satu bilik toilet. Dia khawatir ada kamera tersembunyi jadi sangat berhati-hati dalam semua tindakannya.


Setelah berdebat dengan pihak lain selama beberapa menit, Juliana menutup telepon dan keluar bilik toilet dengan perasaan kesal.


"Benar-benar merepotkan! Kalajengking hitam ini sangat tidak berguna. Kenapa aku harus setuju membesarkannya di masa lalu?" gumamnya lagi.


Dia sama sekali tidak curiga pada Nola saat ini. Setelah menyesuaikan suasana hatinya, Juliana kembali ke tempat kerjanya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


Selepas kepergiannya, sosok Nola yang bersembunyi di sisi lain segera keluar. Dia datang ke toilet untuk buang air kecil. Tapi sebenarnya hanya alasan saja. Jika tidak, Halbert tidak akan mengizinkannya pergi tanpa alasan yang pasti.


Namun Nola masih masuk ke toilet dan mencuci sekitar wastafel dengan hati-hati menggunakan sabun cuci tangan yang disediakan.


"Wanita dengan racun kalajengking?" bisiknya pada diri sendiri.


Tiba-tiba saja seekor kalajengking hitam muncul di baju Nola dan berdesis ringan, seolah-olah memberi tahunya sesuatu.


"Jangan gegabah. Tetap di sisi ku. Apakah kamu mengerti?" Nola menyentuh capitnya.


Kalajengking hitam itu tampaknya mengerti lalu tiba-tiba menghilang dari pandangannya. Jika Halbert melihat ini, dia pasti akan terkejut.


Tepat ketika Nola mengeringkan tangannya, Halbert tiba-tiba saja datang untuk mengecek.

__ADS_1


"Apakah kamu sudah selesai buang air kecil?" tanyanya.


Nola tampak terkejut. Punggungnya sedikit berkeringat dingin. Dia segera menoleh. "Halbert ... Kenapa ke sini? Ini ... Ini toilet wanita kan?" tanyanya gugup.


Halbert sama sekali tidak mengubah ekspresi datar dan acuh tak acuhnya. "Perusahaan ku sendiri, terserah padaku. Lagi pula kamu selalu mencurigakan di setiap kesempatan. Jangan membuat kejadian yang aneh-aneh. Bukankah aku sudah mengatakan ini sebelumnya?"


"Aku tahu. Aku hanya buang air kecil."


Halbert menyipitkan mata. Dia baru saja melihat Juliana meninggalkan toilet. Sementara Nola pergi ke toilet tak lama sebelumnya. Dari ekspresi Juliana, jelas tidak melihat Nola sama sekali di toilet. Jadi dia penasaran.


Harusnya Juliana dan Nola berpapasan di toilet bukan?


Halbert mendekatinya perlahan dan memojokkannya di wastafel. "Oh, apakah kamu benar-benar buang air kecil?" tanyanya sedikit curiga. "Haruskah aku memastikannya?"


"Apa maksudmu?" Nola terkejut. Mau tidak mau jantungnya berdetak kencang.


Tiba-tiba saja Nola berteriak kaget dan merapatkan kedua kakinya. Wajahnya memerah. Dia sama sekali tidak menyangka jika Halbert benar-benar akan memastikannya sendiri. Bahkan jika harus menyentuh tubuh bawahnya seperti sekarang.


Tangan pria itu menyusup ke bawah gaunnya. Nola mencoba untuk menghentikannya.


"Halbert, jangan!" bisiknya tidak nyaman.


Terkadang Halbert ingin marah padanya. Membuat alasan untuk berbohong, dia tidak menyukainya. Dia sudah berulang kali berkata pada Nola untuk tidak mengkhawatirkan masalah Juliana dan kalajengking hitam itu. Tapi Nola tidak mau mendengarkan.


Mungkin dia harus menghukumnya kali ini.


Nola membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu. Tapi tidak ada adalah yang cocok untuk masalahnya saat ini. Jika tidak, Halbert akan marah lagi padanya.


Dia bergerak tidak nyaman dan ingin mendorong Halbert menjauh. Namun Halbert semakin memojokkannya. Pria itu mencium bibirnya dengan penuh gairah untuk sementara waktu.


Merasakan jika suasananya semakin tidak benar, Nola langsung melepaskan ciumannya dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria itu.


"Jangan ... Jangan di sini. Orang lain bisa datang ke sini. Ini tidak baik," gumamnya.


Halbert menjilat bibir bawahnya, mengatur napasnya yang sedikit tidak beraturan. Dia terkekeh dan memeluknya.


"Apa yang istriku pikirkan? Pikirkanlah adegan selanjutnya?" godanya.

__ADS_1


Nola tidak menjawab. Dia malu saat ini.


Halbert berkata lagi. "Ayo kembali dan lanjutkan di kantorku. Jangan membuat alasan lagi. Kamu harus dihukum sekarang," bisik nya.


Ketika keduanya kembali ke kantor, pintu ditutup cukup keras hingga Asisten Jae yang ada di dekat pintu langsung terkejut. Apakah bos marah saat ini atau karena terlalu antusias?


Asisten Jae melihat Halbert yang tergesa-gesa menggandeng Nola sebelumnya, sepertinya bukan karena marah atau sesuatu yang lain.


Tak lama setelah itu, Sekretaris Eli datang sambil membawa beberapa dokumen. Dia baru saja hendak mengetuk pintu kantor Halbert tapi dicegah oleh Asisten Jae.


"Ada apa?" Sekretaris Eli kebingungan. "Ada beberapa dokumen yang harus ditandatangani bos. Jangan menunda waktu."


"Ini bukan masalah menunda waktu tapi ..." Asisten Jae menceritakan kisah lengkapnya.


Kemudian Sekretaris Eli terkejut. "Benarkah? Kalau begitu, aku akan mencoba mengetuk pintu."


Wanita itu membenarkan dandanan rambutnya agar lebih rapi lalu mengetuk pintu kantor Halbert beberapa kali. Tak lama setelah itu, terdengar suara barang dibanting ke pintu dari dalam.


Asisten Jae dan Sekretaris Eli terkejut. Semua dokumen yang dipeluk wanita itu langsung tersebar di lantai.


"Jangan ada yang masuk sebelum aku menerima perintah! Apakah kalian mengerti?!" Suara Halbert dari dalam kantor langsung membuat asisten dan sekretaris mengangguk tanpa sadar.


"Bos, kami mengerti! Jangan khawatir!" Sekretaris Eli spontan menjawab dengan penuh pengertian. Lalu dia membereskan semua dokumen yang berantakan di lantai.


Asisten Jae ingin mengatakan sesuatu pada Halbert tapi Sekretaris Eli mencegahnya.


"Jangan bodoh! Jangan mengganggu kesenangan bos!" bisiknya.


Sudut mulut Asisten Jae berkedut. "Memangnya kamu tahu apa yang dilakukan bos saat ini?"


"Ini rahasia wanita. Bos tidak mengizinkan orang lain masuk saat ini, tentu saja pasti sedang bermesraan dengan nyonya bos! Ini saja kamu tidak tahu!" Sekretaris Eli memelototinya.


Asisten Jae batuk tidak wajar. "Kamu tahu banyak soal ini?" tanyanya curiga.


"Tentu saja. Aku sering menonton film dan membaca novel Casanova sebelumnya."


"..." Apakah kamu menyamakan bos dengan seorang Casanova?

__ADS_1


Yang jelas, Halbert bukan seorang Casanova.


__ADS_2