
Nola yang diremehkan oleh Jaley Scott tidak marah sama sekali. Dia hendak mendekati tepi danau untuk menggunakan kemampuannya menangkap ikan. Sedangkan Halbert melihat jika api unggun sama sekali belum dibuat, mau tidak mau mengerutkan kening.
"Di mana api unggun nya?" tanyanya pada dua pria tua itu.
"Belum dibuat. Nak, kamu buat api unggun nya." Kakek Jefford memerintah cucunya untuk tidak menganggur.
Halbert mencibir diam-diam. Keduanya benar-benar tidak bisa melakukan apapun. Kakeknya telah duduk di posisi ketua selama ini tapi tidak terlalu pintar dalam bertahan hidup di alam liar. Ini hanya kebun halaman belakang tapi masih melupakan hal penting.
Meski demikian, Halbert tidak membantah. Dia mengumpulkan kayu bakar dan membuat api unggun.
"Di mana Butler Flir? Kenapa dia tidak ada di rumah?" tanyanya.
"Oh? Dia belum kembali?" Kakek Jefford juga tidak tahu tentang hal ini.
Namun tampaknya Jaley Scott mengerutkan kening saat mengingat seseorang. "Pria itu sudah aku urus. Kamu tidak perlu khawatir, dia akan kembali besok."
Kakek Jefford dan Halbert memandangnya dengan curiga.
"Kamu kenal Flir Hudson?" tanya Halbert.
"Huh! Anak keluarga Hudson yang tersisa itu? Tentu saja aku tahu. Jangan lihat betapa mudanya dia selama ini, hidupnya sudah sangat lama dan tua. Dia bukan orang baik. Kenapa kalian masih mempertahankan orang itu di rumah ini?" Jaley Scott terlihat meremehkannya.
Kakek Jefford menghela napas. "Siapa yang menduga jika kamu akan mengenalnya."
"Ini bukan kenalan serius. Tapi karena keluarga Scott jarang terlihat selama ini, dia mungkin tidak mengenalku."
"Lalu bagaimana kamu mengurusnya?" Kakek Jefford penasaran.
"Oh, saat aku dalam perjalanan ke sini, aku melihatnya keluar dari toko. Mengetahui bahwa dia adalah Flir Hudson yang telah lama tak terlihat, aku diam-diam menendangnya dan memasukkan orang itu ke lubang pembuangan air."
Suasananya tiba-tiba menjadi sunyi untuk sementara waktu. Jaley Scott membicarakannya seolah-olah mengarang sebuah cerita. Tapi Halbert dan Nola tahu jika itu nyata.
"Dia tidak tahu?" Halbert menaikkan sebelah alisnya.
"Tentu saja tidak. Satu kali tendangan sudut cukup membuatnya pingsan. Dia tidak sekuat yang kamu bayangkan. Meski dia masih membunuh orangtuamu di masa lalu, itu karena keluarga Jefford telah banyak menurun sebelumnya. Tidak heran mudah dibersihkan olehnya. Jika Flir Hudson tahu bahwa kamu telah membangkitkan aura supernatural, mungkin dia akan muntah darah sampai mati."
__ADS_1
Lagi pula tidak sulit bagi Jaley Scott mengetahui cerita di masa lalu. Belum lagi tentang hidup Halbert yang sama sekali bukan rahasia besar.
Awalnya Jaley Scott ingin membunuhnya tapi urusan keluarga Jefford bukan pekerjaannya.
"Oke, tidak perlu khawatir dengan pelayan itu. Ketika dia bangun di tempat bau itu, mungkin tidak akan ingat apa-apa. Aku masih tidak bertindak secara gegabah." Jaley Scott menenangkan mereka.
Di saat mereka mengobrol, Nola sudah mendapatkan ikannya. Gadis itu kembali dengan ember yang sebelumnya digunakan untuk menaruh ikan oleh Kakek Jefford.
"Apakah ini cukup?" tanyanya seraya meletakkan ember di depan mereka.
Karena api unggun sudah dibuat, tempat sekitar menjadi lebih terang. Jaley Scott melihat dua ikan besar yang mungkin masing-masing beratnya lebih dari dua kilo itu pun terkejut. Kakek Jefford tidak terlalu terkejut. Sebelumnya saat Nola datang ke rumah, gadis itu juga pernah menangkap ikan besar.
Jaley Scott ingin berteriak ketidakadilan. Tapi dia malu sebagai pria tua.
"Nak, katakan padaku. Cara apa yang kamu buat untuk menangkap ikan ini? Kenapa mereka bisa tertipu olehmu?" tanyanya.
"Ini hanya keberuntungan." Nola menjawab dengan jujur.
"..." Kemampuan supernatural yang satu ini memang meresahkan, batinnya.
Mereka pun akhirnya mengobrol sambil membicarakan masalah yang cukup serius. Terutama tentang Organisasi Supernatural Dunia dan Geng Kalajengking Hitam. Kedua kelompok ini semakin aktif akhir-akhir ini.
"Aku sudah dengar dari kakek mu bahwa Organisasi Supernatural Dunia telah mengirim pasukan merah. Benar-benar kerja keras. Tapi untungnya masih ada pelindung keluarga mu yang lebih kuat. Jadi, di mana orang yang bernama Elvada itu? Aku ingin bertemu dengannya untuk adu kekuatan. Mungkin dia lebih kuat dari Solachen Heiyu itu."
"Sepertinya Elvada lebih kuat daripada ayahku," kata Nola.
Elvada tinggal di luar. Halbert telah membeli sebuah rumah untuknya ditinggali. Dengan begitu, dia bisa menjalani kehidupannya dengan tenang.
"Tidak ada di sini. Aku akan mengantarmu besok." Halbert tidak keberatan.
Jaley Scott menatap Nola. "Ayahmu belum mengirim pesan lagi?"
Gadis itu menggelengkan kepala. "Paman juga tidak mengirim pesan. Keduanya diburu oleh Organisasi Supernatural Dunia, jadi tidak terlalu baik jika sering menghubungiku."
"Bukankah ayahmu kembali ke negara S?"
__ADS_1
"Ya. Tapi aku tidak tahu paman di mana."
"Huh! Pamanmu ini meski tidak memiliki kemampuan hebat tapi darahnya berguna. Tidak heran pemimpin organisasi memburunya."
Jaley Scott tidak terlalu menganggap serius semua masalah itu. Tapi bukan berarti tidak peduli. Hanya saja belum waktunya dia bertindak. Karena pasukan merah telah dikerahkan, itu artinya sudah waktunya bagi dia untuk ikut campur.
"Ketika pasukan merah datang lagi, pancing mereka ke wilayahku. Kebetulan aku memiliki tambang batu bara di negara lain. Aku kekurangan pekerja."
"Bukankah ilegal mempekerjakan orang-orang tanpa surat izin?" Nola sedikit kasihan pada mereka.
"Lebih ilegal lagi jika membunuh orang."
Ya, itu juga benar.
Setelah makan bersama kedua pria tua itu, Halbert dan Nola kembali ke rumah. Nola mulai mengantuk setelah makan jadi Halbert menggendongnya.
Pada keesokan paginya, Butler Flir ternyata sudah kembali sebelum matahari terbit. Dan ekspresi wajahnya kurang baik. Untungnya dia segera membersihkan diri ketika tiba sehingga pelayan tidak ada yang tahu tentang kepulangannya.
"Butler Flir, jam berapa kamu pulang?" Nola menuruni tangga dengan hati-hati. Dia juga membawa tongkat putihnya.
"Maaf, Nyonya Muda, aku kembali dini hari tadi. Ada sedikit masalah saat perjalanan pulang."
Memikirkan apa yang terjadi semalam, Butler Flir sangat marah. Dia tidak tahu siapa yang memiliki kemampuan yang begitu besar hingga berani menendangnya. Masalah lain, dia juga dimasukan dalam saluran pembuangan air. Sangat tidak tahu malu.
Untungnya dia jatuh di tempat yang kering sehingga tidak terlalu kotor dan bau ketika kembali.
"Nyonya Muda, sarapan sudah siap."
"Ya." Nola menggunakan tongkat putihnya untuk berjalan.
Butler Flir membantunya agar tidak tersandung. "Nyonya Muda harusnya sudah terbiasa tidak memakai tongkat. Kenapa tiba-tiba memakai tongkat putih lagi hari ini?" Dia menyipitkan mata.
"Bukan apa-apa. Aku sudah lama tidak jalan-jalan dan ingin mengunjungi makam ibuku hari ini. Aku sedikit lelah jika tidak memakai tongkat ini."
Halbert ternyata sudah menunggu di ruang makan dan berbicara dengan Kakek Jefford. Mereka sarapan dengan santai tapi Nola tidak banyak makan karena masih sedikit kenyang. Ikan panggang semalam sangat enak.
__ADS_1
Setelah sarapan, Halbert dan Nola pergi untuk membeli bunga sebelum pergi ke makam ibunya.