Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Keluar Dari Rumah Sakit


__ADS_3

Pertengkaran suami dan istri itu langsung membuat perawat yang lewat di luar ruangan segera menenangkan keduanya. Tidak boleh ada keributan di rumah sakit. Karena Tuan Neilson adalah pasien, Nyonya Neilson mau tidak mau diminta keluar untuk membiarkan pasien berisitirahat.


Adapun Tuan Neilson yang muntah darah lagi, dokter hanya bisa menggantung infus.


Akhirnya suasana menjadi tenang saat ini. Tuan Neilson linglung selama seharian di rumah sakit.


Adapun Nyonya Neilson yang kembali ke rumah, berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Lagi pula, masih ada putranya di rumah. Dia yakin Tuan Neilson tidak akan menceraikannya demi putra mereka yang menjanjikan saat ini.


"Bu, kamu sudah kembali. Di mana Ayah?" tanya Clive seraya menuruni anak tangga. Wajahnya sedikit pucat.


Dia sebenarnya sudah tahu jika ayahnya berada di rumah sakit saat ini. Ibunya juga di sana. Keduanya bertengkar dan semuanya sudah terbongkar. Tapi Clive masih berpura-pura tidak tahu agar ibumu tenang. Belum lagi, ayahnya memergoki ibunya selingkuh dengan pria lain di hotel.


"Ayahmu ada di rumah sakit. Dia tiba-tiba tidak enak badan setelah mencari Ibu. Nak, apakah kamu tidak belajar? Bagaimana dengan kuliahmu?"


"Tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja."


Nyonya Neilson menghela napas lega. "Sudahkah kamu menghubungi adikmu? Bagaimana keadaannya?"


"Chelsea baik-baik saja." Tenggorokan Clive sedikit tercekat saat mengingat Chelsea. Apa yang dilakukan Chelsea pada Nola hanya dia dan orang-orangnya saja yang tahu.


Jika ibunya tahu bahwa Chelsea menusuk Nola beulang kali hingga sekarat, mungkin akan menamparnya hingga mati. Jadi Clive berniat untuk tidak memberi tahunya. Belum lagi Halbert belum bergerak saat ini. Dia sedikit yakin.


Halbert tidak mungkin menanggung semua luka yang ada pada tubuh Nola kecuali ... Nola tidak diinginkan oleh keluarga Jefford lagi. Tapi dia tahu Nola ada di rumah sakit sekarang dan Halbert selalu menjenguknya.


"Baguslah jika adikmu baik-baik saja. Tiba-tiba saja dia ingin belajar di Negara S. Ibu pikir ada sesuatu yang salah." Nyonya Neilson mungkin terlalu curiga saat ini.


Jantung Clive berdetak cukup kencang. "Bu, semuanya baik-baik saja. Ini juga baik untuk Chelsea agar tidak terlalu memikirkan Halbert lagi."


"Kamu benar." Nyonya Neilson sebelumnya sudah sakit kepala sejak melihat Chelsea yang tergila-gila dengan Halbert. "Kalau begitu Ibu akan ke kamar dulu. Ayahmu mungkin akan kembali nanti malam."


"Tidakkah Ibu akan menjemput Ayah nanti?"


"Tentu saja. Kenapa tidak. Kamu juga ikut Ibu nanti."


Nada bicara Nyonya Neilson biasa seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Lalu dia pergi ke lantai dua dan menuju kamarnya sendiri. Lalu menelepon Lerdy dengan suara kecil.

__ADS_1


Lerdy tentunya sudah menunggu telepon dari Nyonya Neilson. Keduanya tampak bicara cukup serius.


"Sayang, apakah kamu tidak apa-apa?" bisiknya.


......................


Di seberang telepon, Lerdy yang duduk di sofa dengan banyak luka lebah di tubuhnya sedikit meringis ketika kompres es menyentuh kulitnya.


"Darla, aku tidak apa-apa. Ini hanya pukulan kecil anak buah suamimu. Lagi pula demi putri kita, tidak apa-apa," jawab Lerdy.


"..." Nyonya Neilson masih sangat mengkhawatirkannya. Dia ingin melihatnya saat ini tapi tidak berdaya. Suaminya pasti sudah meminta anak buahnya untuk mengawasi.


"Tidak perlu datang. Kita akan bertemu lagi setelah situasinya sedikit membaik." Lerdy tersenyum meski Nyonya Neilson tidak bisa melihatnya.


Setelah ibu, percakapan berakhir. Lerdy meringis lagi. Seorang wanita cantik dan seksi yang mengobati luka-lukanya tampak cemberut. Dia memiliki rambut bergelombang yang indah, wajah halus dengan riasan yang pas. Aroma parfum menguar di ruangan.


Saat ini, Lerdy berada di sebuah vila yang pernah dibeli Nyonya Neilson khusus untuknya.


"Apakah wanita tua itu begitu perhatian padamu?" tanya wanita seksi itu.


"Oh, rubah tua," goda wanita seksi itu lagi. Dia memiliki mata yang sangat indah hingga Lerdy tak sabar untuk menelanjanginya.


Lerdy hanya tersenyum tidak berdaya. Nyonya Neilson bahkan tidak tahu jika dirinya punya simpanan selama ini. Tapi apa salahnya? Dia tidak pernah menikah dan uang mengalir dari Nyonya Neilson. Uang-uang itu dia gunakan untuk membesarkan wanita simpanannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Beberapa hari kemudian, Nola diizinkan pulang untuk melakukan perawatan berjalan. Beberapa luka tusukan masih diperban, termasuk dahinya. Sementara beberapa memar sudah memudar dan hilang.


Selama beberapa hari terakhir, Nola dan Halbert sedikit canggung saat bicara. Nola tidak tahu harus berkata apa. Dia khawatir menyinggung Halbert lagi. Sedangkan Halbert juga tidak memiliki topik pembicaraan yang pas. Jadi keduanya diam sepanjang perjalanan pulang.


Namun sebelum sampai rumah, Halbert menghentikan mobilnya dulu tak jauh dari toko es krim.


"Apakah kamu mau es krim?" tanyanya lembut.


"Aku ingin makanan pedas," jawab Nola agak sedih.

__ADS_1


"Dokter berkata kamu tidak bisa makan makanan pedas selama pemulihan. Tunggu luka-lukamu sembuh." Halbert tidak berdaya. Nola sudah meminta ini selama beberapa hari terakhir. "Ada es krim stroberi. Kamu bisa mencobanya nanti. "


Halbert keluar mobil dan memesan kotak kecil es krim stroberi. Ketika kembali, dia menyerahkannya pada Nola.


"Cobalah" katanya. Lalu dia melanjutkan perjalanan.


Nola tidak mau es krim tapi mencium aroma stroberi, dia mengerutkan kening. Dia memegang sendok es krim dan mencicipinya sedikit. Rasa stroberinya cukup kuat. Bahkan ada potongan buahnya juga dalam es krimnya.


"Ini enak," katanya.


Halbert hanya tersenyum.


Sesampainya di rumah, Nola disambut oleh kepala pelayan serta pelayan lainnya yang telah menunggu kepulangan keduanya. Nola yang dipenuhi perban di tubuhnya membuat mereka terkejut. Namun tatapan Halbert membuat mereka tidak berani bertanya. Kecuali kepala pelayan yang telah mengenal Halbert di masa lalu.


"Kamu istirahat dan jangan berlarian. Pelayan akan menjagamu jadi jangan mencoba untuk pergi tanpa sepengetahuanku," kata Halbert.


"Aku tahu." Nola hanya bisa mematuhinya. Dia diantar oleh pelayan menuju kamarnya.


Halbert sendiri pergi ke ruang belajar untuk mengurus sesuatu. Dia menghubungi beberapa bawahannya untuk mulai bergerak. Tak disangka, Frangky justru melaporkan masalah lain.


"Bos, Geng Kalajengking Hitam sudah mulai bergerak," lapor Frangky di seberang telepon.


Gerakan tangan Halbert saat menulis terhenti. "Geng Kalajengking Hitam?" gumamnya dengan wajah gelap. "Apa yang mereka lakukan kali ini?"


"Mereka membuat kekacauan atas nama kelompok kita."


Halbert mengerutkan kening. Menurutnya, Geng Kalajengking Hitam tidak akan berani melakukan sesuatu seperti itu. Apa lagi menyinggung kelompok mafianya.


"Apakah ada orang lain di belakang mereka?" tanyanya.


"Kami tidak tahu. Masalah ini harus dicari lebih dalam lagi. Tapi bos, Geng Kalajengking Hitam ini bukan hanya bertindak kriminal atas nama kelompok kita tapi juga mulai menyerang kita dan berpura-pura ingin menjadi pihak yang menghentikan kejahatan," tutur Frangky kesal. Halbert sendiri bisa mendengar dengkusannya di telepon.


Halbert mencibir. "Kamu bisa menahan mereka sementara waktu."


"Ya, bos!"

__ADS_1


Percakapan akhirnya berakhir.


__ADS_2