Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Kehilangan Kendali


__ADS_3

Nola menggelengkan kepala. Dia mencium bau darah di udara dan dia tahu Wickson terluka. Dia tak bisa melarikan diri dan menyaksikan pamannya mati di tangan mereka daripada dibawa pergi.


Karena Nola muncul, mereka tak perlu repot-repot untuk mencarinya lagi.


"Cepat tangkap gadis itu juga!" Salah satu dari mereka langsung memberikan perintah.


Nola menggerakan mata abu-abunya dengan bingung dan dia mundur sedikit. Wickson yang salah satu betisnya tertembak tak bisa membiarkan Nola dibawa oleh mereka. Jadi dia segera bergerak cepat untuk membunuh pihak lain.


"Aku tidak akan membiarkanmu menangkap nya!"


Salah satu dari pria berpakaian serba hitam itu kesal dan langsung melawan Wickson.


"Cari kematian!"


Beberapa keributan terjadi dan Wickson terpaksa melawan mereka dengan sebelah kakinya yang terluka. Beberapa vas pecah terdengar nyaring, omelan hingga suara tembakan di beberapa tempat membuat Nola sakit kepala.


Gadis itu berwajah pucat dan telinganya berdengung. Dia menutupi kedua telinganya dengan telapak tangan, memblokir semua suara yang membuatnya tidak nyaman.


Tepat di saat Wickson yang telah babak belur ditekan ke lantai oleh mereka, ekspresi gadis itu akhirnya berubah.


"DIAAMM!!" teriaknya menggema di vila tersebut.


Karena suara nyaringnya, mereka yang ada di sekitar Nola tertegun. Tanpa sengaja, mereka melihat Nola sudah berwajah kemerahan karena menahan amarah.


Wickson memuntahkan seteguk darah dan kali ini dia mengira semuanya sudah berakhir. Ini benar-benar berakhir. Gadis itu marah dan konsekuensinya tidak terbayangkan.

__ADS_1


"Nola ..." Wickson berkata lemah dan tidak memiliki tenaga untuk berjalan ke sisinya. "Jangan ... Jangan marah," gumamnya.


Pandangan pria itu sedikit kabur saat ini karena kehilangan banyak darah. Dia hanya melihat sekilas jika gadis itu sudah bergerak dengan lincah. Tapi pada saat itu juga, Wickson yang ingin mempertahan kesadarannya tak sanggup lagi untuk melihat semuanya. Kemudian pingsan.


Sementara itu, Nola yang sudah kehilangan akalnya berlari sangat cepat ke arah salah satu pria berpakaian serba hitam dan mencekik lehernya sekuat tenaga.


Mata abu-abu Nola sudah lama berubah menjadi putih. Sekilas, dia terlihat menakutkan di mata orang lain.


"Ka-kamu—" Pria yang dicekik oleh Nola tampak tidak berdaya.


Meski tinggi badan Nola tidak terlalu baik untuk gadis seusianya, tapi dia masih bisa meraih leher pria itu tanpa kesulitan.


Pria yang dicekik sebenarnya bisa meriah Nola dan menyingkirkan nya jika mau. Tapi tidak tahu apa yang terjadi, dia kaku saat ini.


Nola melepaskan cengkeramannya dan pria mati itu langsung jatuh dengan keras ke lantai. Tatapannya menyapu orang-orang yang tersisa.


"Manusia lemah!" gumamnya.


Mereka waspada dan mundur sedikit. Salah satu dari mereka langsung mengarahkan pistol padanya.


"Sial! Apa yang terjadi? Cepat lumpuhkan dia untukku! Cepat!"


Mereka mulai panik dan langsung menembak Nola secara acak. Kali ini mereka tidak lagi mementingkan apakah Nola hidup atau mati. Gadis itu hilang kendali, ini merepotkan. Jelas, lebih banyak ketakutan daripada keegoisan.


Sayangnya, semua tembakan yang mereka lakukan tidak mengenai Nola sama sekali. Gadis itu menghindar dengan sangat baik dan bahkan mampu melompat ke meja tanpa kesulitan.

__ADS_1


Ekspresi Nola sangat dingin dan terasing saat ini. Dia bergegas ke arah mereka dan kuku-kuku tangan kanannya yang meruncing segera menusuk dada kiri mereka dan hancurkan jantungnya.


Serangkaian peristiwa itu berlalu sangat cepat dan mereka tidak memiliki ruang untuk melawan. Tubuh mereka seperti dikendalikan sesuatu dan menjadi ikan di talenan—menunggu giliran untuk dipotong.


Darah menggenang dan terciprat ke mana-mana hingga tubuh gadis itu juga ternoda banyak darah. Terutama tangan kanannya yang berkuku runcing, meneteskan darah ke lantai.


Dalam sekejap, semua pria berpakaian serba hitam itu tergeletak tak bernyawa di lantai dengan dada kiri berlubang.


Namun semuanya belum berakhir. Beberapa pria berpakaian serba hitam di luar vila juga masuk untuk melihat situasi. Saat melihat jika ada yang salah, mereka bahkan terkejut.


Di luar vila, Halbert telah melawan orang-orang itu sendirian. Dia juga menghubungi anak buahnya untuk datang dan mengurus semua mayatnya.


Namun ketika mendengar suara tembakan, dia bergegas masuk setelah membunuh sisanya.


"Nola!" Halbert teringat dengan teriakan gadis itu sebelumnya.


Namun saat dia masuk sambil memegang pistolnya erat-erat, pemandangan yang tersaji di depan langsung membuatnya menegang.


Wajah gadis itu terciprat darah dan baru saja menarik tangan kanannya yang menembus jantung lawan. Karena gadis itu memakai gaun putih selutut, darah yang menodai gaunnya terlihat mengerikan.


Ada banyak mayat di ruangan tersebut. Cara kematian mereka sama. Dan Nola menjadi satu-satunya yang berdiri di antara genangan darah saat ini.


Halbert akhirnya pulih dari apa yang baru saja dilihat. Dia teringat dengan apa yang dikatakan kakeknya saat itu. Jangan pernah membuat gadis itu marah karena konsekuensinya serius. Jika tidak, maka hanya bisa menyesalinya.


Mungkinkah ini yang dimaksud Kakek Jefford?

__ADS_1


__ADS_2