Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Sin Berniat Turun Tangan


__ADS_3

Nola dan Halbert tidak tahu jika Butler Flir yang selalu tersenyum ramah dan sopan sepanjang waktu, suatu hari nanti akan menunjukkan sisi lainnya. Saat ini, keduanya telah tiba di perusahaan dan disambut oleh para karyawan di sana. Tak terkecuali oleh Juliana.


Juliana yang telah menjadi mata-mata di sana selama ini sedikit kesal di hatinya. Istri Halbert jarang datang ke perusahaan sehingga dia tak bisa melakukan apa-apa. Namun pagi ini, Tuhan mungkin mendengar suara hatinya dan mengirim orangnya langsung ke pintu.


Halbert membawa Nola ke kantornya.


Juliana memiliki waktu untuk menelepon Sin di kamar mandi. Tapi tidak menyangka jika pria itu akan datang sendiri yang entah datang dari mana.


"Kamu di sini." Juliana sedikit terkejut saat melihatnya. "Apakah ada perubahan rencana?" tanyanya agak bingung.


Sin tidak pernah berkata bahwa dirinya akan datang sendiri kali ini. Pria itu mengangguk ringan. Dia baru saja mendapatkan informasi dari atasannya jika masalah ini akan diselesaikan hari ini. Apapun yang terjadi, Nola dan Halbert harus mengalami kecelakaan.


Tidak peduli apa caranya, buat keduanya mengalami kecelakaan. Terutama semenjak raja kalajengking hitam telah mati dan tidak tahu kalajengking supernatural mana yang menggantikannya, Sin selalu agak tersinggung di setiap kesempatan.


"Tidak peduli apa caranya, pokoknya hari ini, semuanya harus selesai! Bos hanya menginginkan hasilnya, prosesnya tidak masalah!" Sin berkata dengan dingin. "Kamu akan pergi ke ruangannya dan berpura-pura mengantar dokumen. Lalu serang istrinya."


"Menyerang Nola? Kenapa dia? Tidakkah musuh bosmu adalah Halbert?" tanya Juliana akan kebingungan lagi.


"Karena wanita itu adalah kelemahannya." Tatapan Sin menjadi lebih dingin. Menunda pekerjaan ini, dia hampir saja dimarahi oleh bos di belakang layar. Kali ini, dia turun tangan sendiri.


Juliana tak bisa berkata-kata. Ia tak bisa melawan pria di depannya dan hanya mengangguk ringan. Dia juga telah kehilangan kalajengking hitam supernatural nya kala itu. Sampai sekarang, ia tidak tahu di mana keberadaannya. Ini sangat aneh.

__ADS_1


......................


Pada sore harinya.


Halbert pergi ke ruang rapat untuk membahas beberapa pekerjaannya yang tertunda selama ini. Dia menjadi orang yang gila kerja hari ini sehingga tidak ada yang berani melawan perintahnya.


Baik di kantor atau di luar kantor, Halbert seperti memiliki aura sendiri sehingga mereka enggan untuk protes atau mengatakan keluhannya.


Dan ketika Halbert gila kerja, karyawan tak ada yang bisa bersantai. Jika tidak, mereka akan dipecat pada detik berikutnya.


"Nyonya, bos mungkin akan keluar dari ruang rapat sebelum waktu makan malam. Apakah Nyonya Muda ingin makan sesuatu?" tanya Asisten Jae.


Nola yang sedikit bosan hanya bisa mengangguk. Halbert sepertinya akan bekerja lembur hari ini. Bahkan karyawan tidak ada yang berani pulang lebih awal sebelum bosnya meninggalkan perusahaan.


Tak lama kemudian, pintu kantor diketuk oleh seseorang. Asisten Jae mengerutkan kening dan melihat siapa yang mengetuk pintu. Dia terkejut setelah melihat Juliana di luar.


"Apakah ada masalah?" tanyanya dengan sikap profesional seperti biasanya.


"Asisten Jae, ada beberapa dokumen penting harus ditandatangani oleh bos." Juliana tersenyum ramah padanya tapi tidak berlebihan.


Karena Nola tak keluar kantor sepanjang waktu, ia hanya bisa mengambil inisiatif. Terlebih, Sin tak bisa menunggu lama. Maksimal sebelum pagi keesokan harinya, semuanya harus diselesaikan.

__ADS_1


Juliana sedikit gelisah di hatinya hingga menyebabkan ekspresinya agak linglung sejenak. Asisten Jae tidak tahu apa yang terjadi padanya dan hanya mengangguk.


"Bos sedang rapat saat ini. Kamu berikan saja dokumennya padaku dan akan kusampaikan nanti. Atau kamu bisa datang lagi nanti," katanya.


Juliana tahu jika kali ini mungkin tidak berhasil. Mau tidak mau mengambil kembali dokumennya.


"Kalau begitu saya akan kembali lagi nanti," ujarnya.


Juliana sekilas melihat Nola duduk di sofa kantor Halbert. Entah sengaja atau tidak, gadis itu tersenyum padanya dan mengangguk. Juliana sedikit tertegun. Tidak tahu apakah itu ilusinya atau bukan, Nola seperti orang yang mampu melihat pikiran orang lain?


Tapi ini tidak mungkin. Nola hanyalah gadis buta. Apa yang bisa dilakukan gadis itu?


Hingga saat Juliana kembali menemui Sin, dia berkeringat dingin.


"Gagal lagi?" Sin bertanya dengan nada dingin. Dia mencengkeram leher Juliana sekuat tenaga hingga hampir membuat wanita itu kehabisan napas.


Di detik-detik napasnya kan hilang, Sin melepaskannya. "Aku sudah berkata, apapun yang terjadi, kamu harus mencelakai Nola. Tugas kecil ini saja bahkan tidak bisa! Apakah kamu ingin mati di tangan bos?"


Juliana berwajah pucat dan menyentuh lehernya yang kesakitan. Dia tidak tahu bahwa amarah Sin sangat besar di hari kerja, jadi mau tidak mau bingung harus berkata apa.


"Sudah cukup lama kamu bekerja di sini dan belum ada kemajuan! Kamu mungkin akan mati besok! Bos tidak pernah menyimpan pemalas!" kata Sin lagi berhasil membuat Juliana ketakutan. Pria itu akhirnya mencibir dan mengepalkan kedua tangannya.

__ADS_1


Juliana ini tak bisa diandalkan di tempat pertama, maka dia sendiri yang akan bertindak sebelum malam tiba. Tanpa sadar, ada kegelapan di matanya yang siap menelan orang kapan saja.


__ADS_2