
Di rumah sakit.
Semua dokter dan perawat sibuk untuk mengurus orang-orang yang mengalami keracunan massal. Walaupun kondisi mereka sedikit buruk, tapi tidak ada orang yang meninggal. Mereka tidak tahu jika Nola telah memberikan keberuntungan hidup pada orang-orang yang teracuni.
Di sana, Nola bertemu lagi dengan Dokter Visco yang memang sedang melakukan transfer kerja rumah sakit. Dokter Visco menyambut Nola seperti pada umumnya dokter memperlakukan orang lain dengan baik.
"Apakah semuanya baik-baik saja?" tanya Nola.
"Orang-orang yang diracuni secara alami koma tapi mereka tidak lagi dalam bahaya besar." Dokter Visco terkejut saat mendiagnosis tubuh mereka sebelumnya.
Ada racun mematikan dari sejenis kalajengking. Tapi racunnya aneh. Untungnya para pasien tidak mengalami gejala lain selain pusing, sakit seluruh badan dan muntah darah hitam sebelumnya.
Namun Dokter Visco yakin jika Nola ada hubungannya dengan keselamatan mereka.
"Terima kasih," kata Dokter Visco. "Saya pikir tidak akan bertemu dengan Anda lagi," imbuhnya. Dia tak sengaja melihat anting salib perak yang dikenakan di telinga kanan Nola, diam-diam menghela napas.
Nola ingat jika Dokter Visco adalah orang yang memberinya anting salib perak serta surat untuknya dulu. Mungkin Dokter Visco ada hubungannya dengan Noria—ibunya Nola di masa lalu. Tapi saat ini Nola tidak ingin mengungkit masa lalu.
"Bisakah aku memanggilmu Paman?" pintanya.
Dokter Visco terkejut tapi ada arus hangat di hatinya. "Tentu saja ...."
Keduanya memiliki pemahaman masing-masing hingga akhirnya Dokter Visco harus kembali bertugas dan meninggalkan pasangan itu sementara waktu.
Halbert menepuk bahu Nola. Sepertinya gadis itu ingin membuat pendekatan dengan Dokter Visco karena mendiang Noria.
"Apakah kamu membantu semua pasien lagi?"
"Ya. Tidak ada salahnya membantu orang-orang yang hidupnya belum berakhir dengan baik," jawabnya.
"Selama kamu tidak menyakiti diri sendiri."
"Cari tempat untuk bersembunyi. Aku ingin tahu siapa yang mendatangi Juliana nanti." Nola menentukan tempat yang bagus di rumah sakit saat ini.
"Apakah kamu melakukan sesuatu padanya?"
"Hanya hadiah kecil."
......................
__ADS_1
Di bangsal lain, Juliana yang awalnya hanya pura-pura keracunan tiba-tiba saja merasa tenggorokannya sakit. Ekspresi wajahnya berubah dari tenang menjadi panik. Bukan hanya itu, dia bahkan muntah darah dan tubuhnya kesakitan. Memikirkan semua gejala ini, bukankah dia juga keracunan?
Tapi bagaimana bisa? Dia jelas tidak mengambil racun sama sekali atau memakan sesuatu yang diracun oleh dirinya sendiri. Dia hanya pura-pura diracuni untuk lolos dari kecurigaan.
Kemudian seekor kalajengking hitam muncul di atas selimutnya.
"Katakan padaku, kenapa aku keracunan?! Jelas aku adalah tuanmu, tidak mungkin terkena racun!" bisiknya agar orang yang ada di bilik sebelah tidak mendengar apapun.
Untungnya semua pasien keracunan saat ini koma sehingga Juliana menjadi lebih nyaman.
Kalajengking hitam sama sekali tidak menjawab dan kebingungan sendiri. Dia juga tidak mengerti. Mengetahui ini, Juliana ingin mengutuk di hatinya.
Tepat sebelum dia memanggil dokter, tirai bilik terbuka dan seorang pria berjaket hitam muncul dengan mengenakan masker medis.
"Sin, kamu akhirnya di sini," katanya.
Sin mencibir di balik maskernya. "Setiap kali aku datang, kondisimu selalu tidak baik!"
"Ini bukan keinginanku. Katakan, apa yang terjadi padaku?"
"Tentu saja kamu terkena racun kalajengking supernatural. Memangnya apa lagi?"
"Lalu bagaimana ini bisa terjadi?"
Yang lebih mengejutkan nya lagi, semua orang yang terkena racun kalajengking hitam supernatural di restoran tidak ada yang meninggal atau pun. Semuanya selamat, hanya masih koma saja.
Sin meragukan sesuatu. Sepertinya ada orang lain yang menyelamatkan mereka dari bayang-bayang.
Kejadian ini sama dengan meledakkan hotel dekat bandara beberapa hari yang lalu. Tidak ada atau pun korban yang meninggal meski tertimbun reruntuhan. Kali ini kejadiannya hampir sama.
Siapa kira-kira orang yang memiliki kemampuan ini?
"Lupakan saja. Kamu hanya bisa menanggungnya untuk sementara waktu. Lagi pula kamu tidak bisa mati, bukan?"
"Kamu—" Juliana menggertakkan gigi tapi lagi-lagi dia muntah darah.
Sin segera pergi untuk memanggil dokter dan setelah itu meninggalkan tempat tersebut tanpa berpikir panjang lagi. Dia khawatir seseorang akan mengenalinya.
"Benar-benar tidak berguna," gumamnya.
__ADS_1
Kepergian Sin diketahui oleh Nola dan Halbert. Sayangnya pihak lain tidak menunjuk wajah sehingga Nola tidak tahu seperti apa rupanya. Tapi Halbert melihat tato kalajengking hitam di punggung tangan kirinya.
"Anggota Geng Kalajengking Hitam." Halbert seratus persen yakin.
"Apakah mereka yang menjadi anggota memiliki tato ini?" tanya Nola penasaran.
"Ya."
Keduanya berada di salah satu bilik tirai pasien lain di bangsal yang sama dengan Juliana. Keberadaan keduanya cukup jauh dan hampir tak mengeluarkan suara dari awal hingga akhir. Untuk mencegah Sin mengetahui keberadaan keduanya, Nola menggunakan kemampuannya untuk menyembunyikan napas.
Terkadang, Halbert cemburu padanya karena tidak bisa melakukan apa-apa.
Nola segera mengeluarkan kalajengking hitam. Siapa tahu bahwa Juliana akan memiliki kalajengking hitam lainnya. Tapi itu tidak masalah.
Kalajengking hitam itu ada di telapak tangan Nola saat ini. Halbert masih belum terbiasa dengan binatang beracun ini.
"Apakah kamu ingin menjadi raja kalajengking?" tanya Nola ada bintang kecil beracun itu.
Kalajengking hitam supernatural mendesis kecil ke arahnya seolah-olah mengerti. Nola tersenyum dan menyentuh capitnya.
"Aku bisa menjadikanmu raja kalajengking di masa depan tapi tentu saja aku ingin menggunakan mu untuk membunuh pria bernama Sin itu."
Kalajengking hitam itu tahu jika Sin adalah tuannya. Tapi dia tidak terlalu setia pada yang namanya tuan.
"Apa yang ingin kamu lakukan dengan menjadikannya raja kalajengking?" Halbert mengerutkan kening. Gadis itu masih bisa melakukan hal-hal in?
Tampaknya setelah menggabungkan jiwa dan hatinya, Nola menjadi orang yang penuh kemisteriusan.
"Pria bernama Sin itu tidak mudah. Kalajengking hitam ini berasal darinya. Dia mungkin harus menjadi seorang pengendali kalajengking atau sebagainya."
"Ternyata Geng Kalajengking Hitam memiliki kemampuan seperti ini," gumam Halbert. Tidak heran dia selalu merasa jika Geng Kalajengking Hitam memiliki sesuatu yang berbeda bahkan tidak takut dengan dirinya.
Belum lagi ... mereka adalah orang-orang yang membunuh orangtuanya. Tanpa sadar, Halbert mengepalkan kedua tangannya.
Di saat keheningan terjadi, ponsel Halbert berbunyi. Untungnya dokter sudah datang dan berbicara dengan Juliana sehingga getaran ponsel tidak terdengar selain oleh keduanya.
"Kakek, apakah ada sesuatu?" tanyanya.
"Pulanglah dan berbicara. Makan malam di sini," jawab Kakek Jefford dari seberang telepon.
__ADS_1
Halbert melirik Nola yang sengaja menguping pembicaraan mereka. "Baiklah. Kami akan pulang nanti."
Setelah mengakhiri sambungan telepon, Halbert dan Nola meninggalkan rumah sakit. Urusan karyawan yang keracunan diserahkan pada Asisten Jae.