
Lagi-lagi Tuan Neilson mencambuk Nyonya Neilson tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Nola masih putri kandungnya, tidak sebanding dengan anak liar dari pria selingkuhan.
Clive tahu ayahnya membenci Chelsea saat ini jadi tidak berani untuk membela. Dia hanya perlu menyelamatkan diri sendiri.
Karena itu saat ibunya dicambuk oleh ayahnya karena berani mengutuk Nola, dia tetap diam.
Nyonya Neilson akhirnya pecah dari kesedihan menjadi kemarahan yang tak ada habisnya.
"Kenapa kamu memukulku demi gadis yang lahir dari wanita buta itu? Dia hanya anak buta yang tidak bisa sembuh! Dia buta dan tidak berguna selain memiliki keajaiban untuk memberikan keberuntungan. Sekarang dia pergi, keluarga ini hancur dan keberuntungan hilang. Kamu menyesal dan ingin membelainya bukan?" cibir Nyonya Neilson, mengabaikan rasa sakit di tubuhnya.
"Darla, diam untukku!" geram Tuan Neilson menahan diri untuk tidak langsung menembak kepalanya.
"Kenapa aku harus diam? Chelsea adalah putriku, lebih baik dari gadis buta itu! Semua ini gara-gara gadis buta itu! Aku pasti akan membunuhnya!"
Clive melihat ayahnya sudah tidak sabar dan dia mau tidak mau menatap ibunya untuk memperingati.
"Bu, kumohon tenang dulu ..." Suaranya lembut dan penuh kekhawatiran.
Nyonya Neilson menatap putranya yang memberinya tatapan berarti, akhirnya dia tenang. Demi putranya, dia memilih untuk menahan diri saat ini. Yang terpenting dia harus menyelamatkan putrinya dari balas dendam keluarga Jefford.
Setelah Nyonya Neilson tenang, Clive akhirnya menghela napas lega. Jika ayahnya terus marah karena ibunya memaki Nola lebih jauh lagi, mungkin pistol yang dibawa ayahnya akan segera digunakan.
“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Nyonya Neilson pelan.
“Apa lagi? Tentu saja gadis itu tidak bisa kembali ke Negara A saat ini. Apakah kamu ingin dia dihukum atas percobaan pembunuhan oleh keluarga Jefford?!” Tuan Neilson ingin menstabilkan keadaan keluarga lebih dulu.
Tanpa diduga, ponselnya berdering berulang kali dan hampir semua kerabat keluarga Neilson mencoba menghubunginya untuk masalah tersebut. Tuan Neilson sakit kepala dan dia juga menyalahkan putranya atas kejadian ini.
Untuk sekarang, apapun yang terjadi, lebih baik bersikap low profile lebih dulu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bandara Internasional Negara S.
__ADS_1
Nola dan Halbert baru saja tiba di bandara pada sore hari. Asisten Jae segera memesankan kamar hotel terbaik untuk keduanya. Cuaca di Negara S tidak berbeda jauh dengan Negara A, tapi suhunya memang sedikit lebih panas.
Kedatangan Nola ke hotel membuat beberapa tamu lainnya sedikit penasaran. Gadis itu memakai kacamata gelap yang tidak bisa diketahui seperti apa sorot matanya. Rambut panjang bergelombangnya digerai dan poni menghalangi sedikit bekas sayatan pisau di dahinya.
Meski Nola tidak memiliki tubuh tinggi seperti kebanyakan wanita lain, dia tampak manis dan cantik. Kulit putih bersihnya jarang dimiliki oleh wanita lain yang suka perawatan mahal.
Halbert sudah terbiasa melihat wanita cantik dan seksi menjadi pusat perhatian. Tapi ketika melihat istrinya sendiri yang menjadi pusat perhatian, dia tidak suka.
Segera, dia meraih pinggang gadis itu dan melakukan check in. Beberapa pria muda yang sempat ingin berkenalan dengan Nola akhirnya terlihat kusam.
"Ternyata sudah punya pacar, sayang sekali," bisik salah satu pria tak jauh dari mereka. Dia adalah warga lokal Negara S.
Teman pria itu menyenggol lengannya dengan sedikit senyum menggoda. "Itu hanya pacar, apa yang kamu sayangkan? Tapi pria itu sangat tampan dan mahal. Kamu bukan tandingannya."
"Ck! Menyebalkan!"
Setelah melakukan check in, Halbert mengambil kunci kamar hotel. Sebelum pergi menuju elevator, dia menoleh pada dua pria yang baru saja membicarakannya.
"Dia istriku, terima kasih," ujarnya. Setelah itu membawa Nola pergi.
Di elevator, Nola terlihat keheranan dengan tindakan Halbert sebelumnya. Namun karena Halbert tidak keberatan dengan status suami istri saat ini, dia tidak banyak berkomentar.
Tanpa diduga, Halbert sedikit meremas pinggangnya. "Ternyata istriku begitu diminati banyak pria lain," katanya.
"Bukankah banyak wanita cantik di sini?" Nola belum pernah datang ke Negara S sehingga tidak tahu budaya dan kebiasaan orang-orangnya.
"Ya. Tapi justru karena itulah mereka semakin menyukai wanita cantik. Negara ini cukup bebas dalam pergaulan."
Meski Negara A merupakan negara liberal tapi tidak ada yang separah Negara S. Wanita dan pria yang menjadi teman ranjang secara terang-terangan sudah biasa di negara ini.
Ketika elevator tiba di lantai yang dituju, keduanya keluar. Tapi pada saat yang bersamaan, dua pria lainnya masuk. Kedua pria itu memakai setelan jas hitam dan berpakaian rapi seperti orang kantoran kebanyakan.
Salah satu pria memakai kacamata hitam dan rambut kecokelatannya disisir rapi ke belakang. Tubuhnya tegap dan kulitnya terlihat segar meski usia tidak lagi terlihat muda. Dia juga memiliki anting salib perak di telinga kirinya.
__ADS_1
Saat masuk elevator, pria itu terkejut dan tiba-tiba menoleh ke belakang. Dia melihat seorang gadis bergaun selutut berdampingan dengan seorang pria. Karena rambut gadis itu tergerai, dia tak bisa mengintip sisi wajahnya.
Setelah elevator tertutup, akhirnya sang asisten yang berdiri di belakangnya bertanya.
"Tuan, apakah melihat kenalan?"
Solachen melepas kacamata hitamnya. Sepasang mata agak sipit menonjolkan ekspresi wajahnya yang selalu dingin dan pelit senyum.
"Tidak, mungkin salah lihat," jawabnya pelan. Tapi tidak tahu kenapa hatinya terlihat gelisah saat ini.
Saat elevator tiba di lantai utama, Solachen kembali memakai kacamatanya agar tidak terlalu dikenali oleh orang yang mungkin tahu dirinya. Sebagai seorang ahli supernatural yang sempat dicari oleh Organisasi Supernatural Dunia, dia bersembunyi dengan baik selama bertahun-tahun.
Meninggalkan hotel, Solachen memasuki mobil, duduk di belakang dan meletakkan tas yang dibawanya. Tiba-tiba saja dia batuk darah hingga wajahnya sedikit pucat.
Asistennya yang menyetir terlihat khawatir dengan kesehatannya. "Tuan, haruskah kita pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan?"
Solachen menggelengkan kepala, mengeluarkan sapu tangan dari saku jas bagian dalam. "Tidak perlu. Kembali ke mansion dulu."
Dia tahu tentang tubuhnya sendiri lebih dari siapapun. Kesehatannya telah menurun sejak bertahun-tahun lamanya karena kesalahan yang sengaja diperbuat. Tapi meski begitu, dia tak pernah menyesali semuanya.
Hanya saja Solachen terlihat bingung saat ini. Hatinya yang tak nyaman kini bertambah penasaran.
Siapa gadis yang datang ke hotel tadi? Kenapa rasanya dia cukup akrab?
Mungkinkah wanita itu? Rasanya tidak mungkin.
Solachen mengeluarkan dompetnya dan mengambil selembar foto kecil yang cukup usang. Dalam foto tersebut terdapat seorang wanita yang mirip dengan ibunya Nola.
"Jika waktu bisa diputar kembali, aku tak akan melepaskanmu lagi, Noria ...," gumamnya.
Penyesalan terdalam yang dia lakukan selama ini adalah tidak menjaga wanita itu dengan baik. Karena rasa takut dan inferioritas yang dimilikinya, dia benar-benar kehilangan wanita yang dicintainya.
...****************...
__ADS_1
NB: Apakah kalian sudah melihat gambaran kasar tentang hubungan Solachen dengan ibunya Nola?