
Jika Nola dan Halbert memiliki malam yang tak terlupakan, keluarga Neilson justru begitu suram. Sejak terakhir kali Chelsea menggangu pesta pernikahan keluarga Jefford, Tuan Neilson telah memberinya aturan ketat. Bahkan penjagaan dua kali lipat agar Chelsea tidak lagi menjadi iblis di luar.
Karena insiden terakhir kali, bisnis perusahaan Neilson turun cukup tajam. Ini membuat Tuan Neilson semakin tidak puas dengan putrinya.
"Di mana ibumu? Apakah dia belum kembali?" tanyanya seraya menggerakkan kursi roda untuk menghampiri putranya di ruang keluarga.
Clive menggelengkan kepala. "Ibu berkata dia mengurus salon kecantikannya."
Ia sudah memikirkan cara untuk balas dendam pada Nola dan Halbert tapi belum menemukan waktu yang tepat. Dia tidak terburu-buru saat ini.
Belum lagi, Chelsea yang selalu tidak puas dan hampir ketakutan setiap kali melihat cambuk, gangguan psikologis nya cukup berat.
Tuan Neilson yang hanya bisa duduk di kursi roda bahkan lebih kesal. "Hubungi ibumu dan minta dia untuk kembali. Dia tidak perlu repot bekerja keras di luar. Aku belum miskin dan masih bisa membiayai hidupnya!"
Clive menurutinya dan segera menghubungi ibunya. Panggilan pertama tidak diangkat. Tapi pada panggilan kedua, Nyonya Neilson menjawabnya.
Hanya saja ada percakapan singkat antara ibu dan putranya. Tidak ada yang aneh. Salon sedang dalam renovasi saat ini dan Nyonya Neilson harus lembur untuk menggambar desainnya sendiri.
"Ayah, ibu bilang dia lembur malam ini. Dan akan kembali sebelum jam tiga dini hari," katanya.
Tuan Neilson mendengkus. Tapi dia tidak memiliki kecurigaan terhadap perselingkuhan apapun. Dia dan Nyonya Neilson telah menikah lama dan dua anak sudah beranjak dewasa. Jadi dia tidak pernah meragukan kehidupan luarnya.
__ADS_1
Tapi mungkin Tuan Neilson dilahirkan untuk kecewa ....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di salon kecantikan sepi yang selalu ramai pejalan kaki, lampu sudah dimatikan. Tampak tidak ada orang sama sekali. Tapi di bagian dalam salon, dapur yang cukup luas memiliki cahaya remang-remang, menampilkan dua siluet pria dan wanita dalam posisi ambigu.
Wanita itu tak lain adalah Nyonya Neilson sendiri yang baru saja meletakkan ponselnya. Sementara pria yang bergerak maju mundur di belakangnya adalah pria asing lain.
"Apakah suamimu curiga?" tanya pria yang setidaknya hampir seusia dengan Tuan Neilson tapi sedikit lebih awet muda.
Keduanya tanpa busana dan saling menyatukan diri. Semua pakaian berserakan. Keduanya juga berkeringat. Betapa hebatnya permainan dua orang itu.
"Tidak. Dia hanya tidak suka aku lembur di salon," jawab Nyonya Neilson sedikit terengah-engah. Dia terbuai oleh kenikmatan yang diberikan pria itu.
Nyonya Neilson tampak sangat bahagia malam ini. "Tentu saja. Dia terlalu lemah. Baru dua ronde saja sudah lelah. Sama sekali tidak ada gairahnya. Tapi berbeda denganmu, Lerdy. Kamu selalu membuatku puas hingga hampir pingsan."
"Darla, seandainya kamu menikah denganku di masa lalu, aku pasti memuaskanmu. Sayangnya aku tidak kaya seperti Corvin Neilson. Aku hanya bisa merelakanmu menikah dengannya."
Lerdy memiliki tubuh berotot yang pas, tinggi dan sangat maskulin. Dia mengenal Nyonya Neilson lebih dulu. Sayangnya dia tidak memiliki ekonomi yang baik dan tidak ingin wanitanya hidup sudah. Dia tahu Nyonya Neilson berasal dari keluarga kaya. Dan keluarganya tidak akan pernah merestui hubungan keduanya.
Jadi dia mengusulkan untuk membiarkan Nyonya Neilson menikahi Tuan Neilson saat istri buta pria itu masih hidup. Tapi hubungan keduanya diam-diam terjalin di belakang.
__ADS_1
Nyonya Neilson selalu mengeluh tidak puas dengan permainan ranjang Tuan Neilson, membuat Lerdy merasa kasihan. Jadi dia sering datang untuk memuaskan hasratnya.
Apa lagi sekarang Tuan Neilson lumpuh, Nyonya Neilson bahkan lebih tidak puas lagi.
"Meski kita tidak menikah, aku selalu mencintaimu, Lerdy," bisik Nyonya Neilson.
"Aku juga."
Keduanya berciuman dan gerakan Lerdy semakin intens hingga kedua kaki Nyonya Neilson lemas.
"Oh, Lerdy, cepat!" Pikiran Nyonya Neilson merasa akan meledak kapan saja.
Lerdy menahan tubuhnya dan segera membiarkannya berbaring di lantai dingin. Gerakannya tidak berhenti.
"Jika suamimu tahu bahwa Chelsea adalah anak kita, apakah dia akan mengalami serangan jantung?" Lerdy terkekeh.
"Chelsea mirip denganku. Dia tidak akan curiga tentang ini."
"Bagus. Putriku hidup dengan baik di rumah itu," katanya.
Setelah Nyonya Neilson dipuaskan berulang kali, keduanya membersihkan diri. Jam sudah menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Nyonya Neilson harus segera pulang meski tubuhnya sedikit lemas saat ini.
__ADS_1
Lerdy sudah menyelinap pergi agar tidak ketahuan oleh orang lain.
Tapi keduanya tidak tahu jika selama Lerdy datang ke salon kecantikan hingga melakukan perbuatan itu dengan Nyonya Neilson, semuanya direkam diam-diam oleh seseorang.