
Halbert menemui kakeknya yang sesekali akan menjenguk Nola di rumah sakit. Dia ingin menanyakan tentang Nola lebih dalam lagi. Terutama saat gadis itu berkata bahwa bunuh diri sia-sia saja.
Melihat banyaknya luka tusukan pada tubuhnya saat itu, Halbert sendiri berpikir tidak mungkin bagi manusia biasa untuk bisa bertahan selama itu. Belum lagi kehilangan banyak darah, pasti akan mati cepat atau lambat.
Setelah Kakek Jefford keluar dari ruang rawat Nola, pria itu segera meminta waktu berdua dengannya.
Kakek Jefford duduk di kursi tunggu yang ada di lorong. Dia memegang tongkat yang membantunya untuk berjalan meski sebenarnya masih sehat dan bugar.
"Apakah kamu membuatnya kesal?" tanya Kakek Jefford datar.
"Dia cerita pada Kakek?"
"Tidak, tapi ekspresi wajahnya sudah membuatku yakin. Apa lagi yang kamu katakan padanya kali ini?"
"Hanya sesuatu untuk membuatnya sadar." Halbert menjawab jujur.
"Bukankah kamu juga tahu dia memiliki penyakit mental? Takut ditinggalkan oleh kerabatnya sendiri menjadi pemicu paling besar kondisinya saat ini. Kamu harusnya sadar, alih-alih memukul pikiran dan hatinya, lebih baik gunakan cara halus untuk mengeluarkannya dari situasi seperti itu," jelasnya.
Halbert tidak menjawab. Dia belum pernah melakukan hal-hal seperti itu untuk seorang wanita. Jadi kenapa dia harus belajar?
"Kakek, aku ini seorang mafia ..." Halbert mengelak.
"Mafia juga manusia dan memiliki perasaan. Kamu bukan robot pembunuh," Kakek Jefford menepuk pundak cucunya. "Kamu ingin tahu tentang Nola lebih baik 'kan? Kenapa dia masih hidup meski diambang Kematian dan baik-baik saja setelah lompat ke lembah waktu itu?"
"Ya." Halbert mengangguk.
Kakek Jefford menyipitkan matanya. Wajahnya yang keriput tidak banyak memiliki nostalgia.
"Saat Nola masih kecil, dia mendapatkan kekerasan di rumah dan ibunya khawatir Nola akan menderita. Jadi dia selalu mentransfer keberuntungannya sendiri pada Nola. Terakhir kali ibunya Nola sakit keras dan berbaring di rumah sakit ...."
Kakek Jefford bercerita tentang masa lalu.
Ibunya Nola merupakan seorang wanita cantik yang baik hati dan tulus memperlakukan orang lain. Dia hanya memiliki Nola sebagai darah dagingnya sendiri dan tidak akan membiarkan orang lain mengakhiri keturunannya.
__ADS_1
Karena Nola selalu mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan di rumah Neilson, wanita itu memberikan banyak keberuntungan untuk putrinya. Berharap jika Nola akan tetap hidup dengan baik di masa depan.
Terakhir kali, ibunya Nola sakit keras dan meninggal. Sebelum meninggal, wanita itu mentransfer semua keberuntungan yang tersisa pada tubuh Nola. Dan benar-benar melepaskan semua kehidupan dunia ini dan akhirnya meninggal.
Halbert masih sedikit bingung. "Apa artinya?"
"Nola dilindungi oleh semacam kekuatan misterius. Dia khawatir Nola akan mengalami kecelakaan jadi dia sengaja mengunci takdir kematian gadis itu. Selama Nola mencoba bunuh diri atau menghadapi kematian, dia pasti akan terselamatkan."
"Heh, bukankah itu kejam?"
"Benar, tampaknya kejam tapi ini faktanya. Semakin banyak keberuntungan dan kerugian yang diberikan pada orang, maka akan merusak tubuh sendiri. Ibunya Nola adalah salah satunya. Demi melindungi putrinya, dia mengorbankan dirinya sendiri."
Jika kematian begitu mudah bagi mereka, tentu saja sejak lama ibunya Nola mungkin memilih bunuh diri alih-alih melarikan diri dari kejaran organisasi yang mengincar bakatnya.
"Nola pasti telah memberikan beberapa keberuntungan untukmu. Kamu juga harus tahu efeknya." Kakek Jefford tidak bisa berkata lebih jauh lagi. Biarkan cucunya mencari tahu sendiri tentang gadis itu sehingga akan memahaminya di masa depan.
"Aku ... tahu," gumam Halbert.
Sepertinya Halbert menyadari jika Nola seorang mimisan dan kelelahan tanpa alasan. Selama beberapa bulan terakhir, gadis itu telah melakukan banyak hal untuk menyenangkannya.
Hanya saja setelah kejadian kali ini, dia ... merasa hidup Nola cukup menyedihkan. Namun sejak kapan Halbert memiliki emosi seperti ini? Dia adalah seorang mafia. Terjebak dalam emosi merupakan sesuatu yang harus dibuang ke hutan belantara dan tenggelam di lautan yang dalam.
"Nola tidak tahu jika ibunya meninggal karena melindunginya. Dia hanya tahu jika ibunya sakit keras gara-gara keluarga Neilson. Lebih baik, jangan beri tahu dia ..." Kakek Jefford berkata lagi dan dia bangkit dari duduknya untuk meninggalkan tempat tersebut.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan dengan keluarga Neilson sekarang? Mereka sudah melewati batas ku. Lebih baik memberi mereka pelajaran lebih awal." Kakek Jefford mengingatkan Halbert.
"Kakek tidak perlu khawatir. Keluarga Neilson sudah rusak sejak lama dan hanya perlu mengekspos nya. Hanya perlu yang tepat," katanya.
Kakek Jefford mengangguk. "Bagus. Kalau begitu aku akan mengurus perusahaan dan kamu di sini untuk menjaganya."
"Lebih baik Kakek istirahat saja. Masalah perusahaan tidak perlu dipedulikan." Halbert mengerutkan kening.
"Tidak apa-apa. Aku tidak terlalu tua untuk mengurus perusahaan. Ini hanya gedung pencakar langit yang rusak dan uang yang dihasilkan tidak seberapa."
__ADS_1
Kakek Jefford, sebagai mantan mafia di masa lalu tentu saja memiliki banyak uang hasil perdagangan senjata ilegal, obat-obatan bahkan barang lainnya. Tak terkecuali bisnis membunuh orang.
Keputusan Kakek Jefford sendiri, Halbert tidak bisa berbuat banyak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya, Halbert datang ke rumah sakit lagi sambil membawa sarapan untuk istrinya Yan h masih dirawat. Keduanya tidak lagi mengungkit masalah pertengkaran tentang keluarga Neilson.
Halbert mencoba untuk menahan emosi yang bergejolak di hatinya. Dia menganggap ini sebagai latihan jantung.
"Makanlah sesuatu dulu sebelum minum obat," katanya.
"Kenapa aku harus minum obat? Itu tidak akan berguna sama sekali."
"Berguna atau tidak berguna, minum saja agar dokter tidak curiga." Halbert mengambil alasan.
Nola tidak menimpalinya. Dia akhirnya patuh untuk makan bubur dan sup ayam. Karena luka-lukanya, dia dilarang untuk makan sesuatu yang pedas.
Setelah sarapan, Nola minum obat. Dia menatap Halbert dengan ekspresi kosong, ingin mengatakan sesuatu tapi pada akhir tidak jadi. Di ahanya mengalihkan pandangan.
"Jika ada sesuatu, katakan saja, jangan memendamnya." Halbert melihatnya ragu-ragu, mau tidak mau mengambil inisiatif untuk membuatnya membuka diri.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya merasa bosan," jawabnya.
"Apakah kamu ingin bertanya tentang keluarga Neilson atau apa yang terjadi pada dua saudara seayahmu?"
Nola tidak menjawab tapi jelas Halbert sudah menebaknya.
Halbert tersenyum dingin. "Ada apa? Apakah kamu merasa kasihan pada pelaku kejahatan? Jangan khawatir, aku tidak menelepon polisi untuk menghukum mereka. Ada banyak cara untuk menghukum mereka, aku punya caraku sendiri," jelasnya.
Nola merasa dadanya sesak saat ini tapi tidak berkata apa-apa agar tidak membuat Halbert marah. Lebih baik memikirkannya kembali.
"Lebih baik kamu istirahat saat ini. Jangan memikirkan hal lain karena garis kesabaran ku terbatas," ucap Halbert.
__ADS_1
"Apakah kamu membalas dendam untukku?" tanya gadis itu.