
Nola ingat jika semalam dirinya juga merindukan pria itu berulang kali. Akhirnya kelelahan dan pingsan setelah mencapai puncak musim semi yang kesekian. Mau tidak mau, wajahnya memerah.
Melihat jejak ciuman panjang di tubuhnya, wajahnya bahkan lebih panas. Nola memilih untuk memblokir penglihatan supernatural saat ini, pura-pura saja tidak melihatnya selayaknya orang buta.
"Tidak heran jika Miyumi sangat tergila-gila padamu," katanya. "Wanita manapun yang tidur denganmu pasti kecanduan bukan?" tuduhnya.
"Omong kosong apa yang kamu katakan? Tubuhku hanya untukmu," timpal pria itu sedikit kesal. "Bangunlah, bersihkan diri dan pergi sarapan. Aku akan membawamu ke perusahaan."
"Kenapa mengajak ku ke perusahaan lagi? Apakah kamu membutuhkanku?"
"Semalam Geng Kalajengking Hitam mengirim orang untuk menculikmu. Kali ini aku ingin tahu apa yang akan dilakukan mata-mata mereka yang masih bertahan di perusahaan. Jika bisa, selesaikan dengan cepat," jelasnya.
"Oh, aku hampir lupa dengan mata-mata yang ada di perusahaanmu. Kalau begitu aku akan segera bersiap."
Sejauh menyangkut tentang Halbert, dia tak menolak sama sekali. Nola segera bangun dan membersihkan diri. Dia memakai gaun selutut berwarna putih yang terlihat anggun. Rambut panjangnya diikat ekor kuda.
Sebelum berangkat, keduanya sarapan lebih dulu. Butler Flir sedikit linglung selama menyajikan makanan, membuat Nola kebingungan.
"Butler, apakah kamu sedang tidak sehat hari ini?" tanyanya pura-pura tidak bisa melihatnya sama sekali.
"Ah? Bagaimana Nyonya Muda tahu?" Butler Flir menatap Nola dengan bingung, sedikit menyipitkan mata.
Nola tersenyum polos. "Butler, kamu tidak bicara banyak saat ini. Tentu saja aku mengira jika kamu mungkin tidak enak badan atau dalam suasana hati yang buruk." Dia menunjukkan ekspresi sedikit sedih, membuat Butler Flir menghela napas lega.
__ADS_1
Butler Flir tersenyum sopan dan menggelengkan kepala meski Nola tidak mampu melihat dirinya. "Jangan khawatir Nyonya Muda, aku hanya sedikit masuk angin pagi ini."
"Kalau begitu jangan lupa minum obat."
"Ya, terima kasih atas perhatian Nyonya Muda." Butler Flir sedikit bersemangat untuk menyajikan makanan lalu kembali ke dapur untuk mengurus sisanya.
Halbert tidak banyak bicara dan bertingkah seperti biasanya. Mungkin Butler Flir merasa aneh tentang dirinya yang tidak ingat apa-apa semalam. Ia tahu Nola sengaja bertanya untuk meyakinkan jika dirinya tidak tahu apa-apa.
"Ayahmu akan kembali nanti siang. Jadi kita bisa pulang dan makan siang di rumah nanti." Halbert baru saja menyelesaikan sarapannya dengan cepat. Dia menunggu Nola selesai makan sambil minum kopi.
"Ke mana dia pergi? Bukankah memutuskan kembali ke Negara S?"
"Dia belum membalas dendam atas kematian ibumu. Bagaimana mungkin didamaikan begitu saja. Kepulangannya kali ini untuk merangsang ayah murahanmu itu."
Jika dulu Nola marah setiap kali Solachen menggunakan alasan tersebut dan untuk membayar masa lalu, kini berbeda. Nola merasa jika Solachen lebih menderita karena dilanda rasa bersalah dan sakit fisik dan mental selama dua puluh tahun terakhir.
Bukan waktu yang singkat.
"Kalau begitu, lakukan saja apa yang dia inginkan. Selama tidak memperparah kondisinya."
Halbert tersenyum. Tentu saja dirinya juga berharap demikian.
Setah sarapan, keduanya pergi ke perusahaan. Kepergian keduanya tak lepas dari penglihatan Butler Flir yang melihat dari celah jendela. Butler Flir lalu menghela napas.
__ADS_1
Salah seorang pelayan yang tengah mengepel lantai melihat Butler Flir kebingungan, segera bertanya.
"Butler, apakah sudah minum obat? Jika tidak sehat, istirahatlah."
Butler Flir menggelengkan kepala. "Tidak apa-apa. Hanya masuk angin biasa."
Dia memang masuk angin. Saat bangun tadi, dia merasa ada sesuatu yang dilupakan tapi tidak tahu apa. Ia berusaha untuk mengingatnya setelah bangun tidur tadi. Tetap saja tidak mengingat apapun.
Nola tidak tahu pelayan. Pelayan juga tidak mendengar ada yang orang minta tolong atau mendengar keributan apapun semalam. Inilah kenapa Butler Flir merasa aneh.
"Butler?" Pelayan itu bingung melihat Butler Flir sepertinya berpikir keras tentang sesuatu.
"Tidak apa-apa, lanjutkan pekerjaanmu." Butler Flir meninggalkan ruang utama dan pergi ke halaman belakang.
Ekspresi lembut dan bermartabat selayaknya seorang kepala pelayan yang baik, sedikit pecah saat ini. Butler Flir menahan diri untuk tidak marah hingga napasnya sedikit terengah-engah.
Karena tidak ada seorang pun di rumah ini yang menyadari serangan para pembunuh supernatural semalam, pasti ada sesuatu yang aneh.
"Kenapa aku tidak ingat sama sekali? Apakah seseorang sengaja menjatuhkanku?" gumamnya.
Kemudian, Butler Flir mengepalkan kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan putih yang terlihat mahal. Sebagai butler, dia memang sedikit istimewa di rumah Jefford. Pandangan Butler Flir pada halaman belakang sedikit menggelap.
Dia ... benar-benar membenci mereka sampai mati. Berani mempermainkannya.
__ADS_1
"Sungguh ... benar-benar punya nyali melawanku," gumamnya sangat kecil hingga bisa terdengar oleh dirinya sendiri.