
Setelah Miyumi Kei pergi, Nola akhirnya mengatakan jika gelang yang dipakai Miyumi adalah jimat. Wanita itu kembali menggunakan efek jimatnya lagi untuk memengaruhi pikiran Halbert.
"Apa yang kamu rasakan sekarang?"
"Sama seperti sebelumnya." Halbert menahan perasaan tidak nyaman di tubuhnya.
Nola bangkit dan menghampirinya. Baru saja dia menyentuh pundaknya, Halbert meraih pinggang gadis itu dan membenamkan wajah di dadanya. Ia sedikit bereaksi lagi tapi tidak separah kemarin. Jadi dia mencoba untuk menahan diri agar tidak lepas kendali di kantor.
“Perlukah aku meredakannya?” tanya gadis itu masih khawatir.
“Tidak perlu. Aku baik-baik saja.”
Halbert menghela napas panjang dan membiarkan gadis itu duduk di pangkuannya. “Kamu bilang sebelumnya gelang yang dipakai wanita itu adalah jimat. Apakah ada benda seperti itu?”
“Ya, ada. Tapi tampaknya jarang ada di negara ini. Jika ingin menemukan jimat asli yang benar-benar ampuh, maka hanya beberapa orang tertentu saja yang mampu membuatnya.”
Nola tidak pernah melihat jimat secara langsung apa lagi menemukannya secara tidak sengaja. Kadang jimat-jimat yang dijual dengan harga tinggi akan jatuh ke tangan para bangsawan atau konglomerat tertentu. Ia bisa tahu karena sisi gelapnya tahu banyak tentang hal ini. Sisi gelap Nola ternyata memiliki kecerdasan tertentu.
Gelang jimat yang dipakai Miyumi Kei berasal dari neneknya. Dapat dipastikan jika kekayaan keluarga Kei sebelumnya tidak terlalu bersih. Jika benar demikian, cepat atau lambat pasti akan diambil kembali oleh jiwa yang menempati jimat tersebut. Pasti ada ritual tertentu yang harus selalu dilakukan jika ingin efek jimatnya tetap utuh.
“Jika kamu mau, aku akan mencarinya untukmu di masa depan,” kata gadis itu lagi.
“Tidak perlu. Cukup ada kamu dan tidak bisa digantikan dengan yang lain,” ungkap Halbert.
“Lalu kenapa kamu meminta kalajengking hitam untuk menakutinya?” Nola ingat dengan adegan sebelumnya.
“Itu karena aku ingin membiarkan racun raja kalajengking hitam menandai gelangnya. Dengan begitu jika ada sesuatu, aku bisa menemukannya. Lalu kamu sendiri, hal buruk apa yang kamu berikan padanya?”
Nola tersenyum. “Kamu akan tahu, setidaknya dia tidak akan datang ke sisi lagi selama satu bulan ke depan.”
Halbert menaikkan sebelah alisnya. Dia penasaran dengan apa yang dilakukan gadis itu pada Miyumi. Tapi dia yakin, pasti bukan hal yang baik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Pada malam harinya, Asisten Jae baru saja menyelesaikan pekerjaannya dan berniat pulang lebih awal. Tapi mengetahui jika Sekretaris Eli pergi ke bar, ia mengerutkan kening. Kebetulan karyawan yang baru saja kerja lembur masih ada di perusahaan.
“Apakah kamu tahu dengan siapa dia pergi?” tanyanya.
“Kami tidak melihatnya bersama orang lain. Namun tampaknya menghubungi temannya,” jawab salah satu dari mereka.
Asisten Jae mengucapkan terima kasih padanya dan meninggalkan tempat itu. dia memikirkan bar mana yang kemungkinan akan dituju oleh Sekretaris Eli. Ada banyak bar di ibu kota tapi tidak semuanya merupakan bar yang baik.
Oleh karena itu, Asisten Jae takut jika dia mabuk dan tidak ada yang membawanya pulang. Ia akhirnya pergi ke bar terbesar di ibu kota. Benar saja, Sekretaris ada di sana, duduk dengan beberapa teman dan minum anggur.
Karena besok tidak banyak tugas, Sekretaris Eli bermaksud untuk mencari kesenangan sebenar. Tanpa diduga, dia melihat Asisten Jae di bar yang sama.
"Kenapa kamu di sini?" tanyanya bingung.
"Ayo pulang!" Asisten Jae mengabaikan pertanyaannya dan segera meraih tangan wanita itu untuk menjauh dari kerumunan.
"Lepaskan! Apa yang kamu lakukan? Aku belum lama di sini." Sekretaris Eli tidak mau pergi hingga beberapa beberapa teman nongkrongnya langsung bersiul.
"Eli, apakah ini pacarmu?" goda salah satu dari mereka.
Sekretaris Eli tidak mampu menandingi kekuatan Asisten Jae. Dia hanya bisa patuh saat pergelangan tangannya dipegang dengan sangat kuat.
"Jae, apa yang kamu lakukan? Lepaskan! Aku akan di sini untuk sementara waktu." Sekretaris Eli sedikit tidak bahagia.
Asisten Jae melepaskan tangannya ketika tiba di parkiran. "Sudahkah kamu memikirkannya?"
"Memikirkan apa?" Sekretaris Eli sedikit mabuk saat ini.
"Tentang hubungan kita. Apakah kamu setuju untuk menjadi pacarku?"
Asisten Jae mungkin hanya seorang asisten yang suka membantu bosnya bekerja. Baik dirinya maupun Sekretaris Eli sengaja dilatih untuk meringankan beban Halbert di masa depan.
"Hah? Jadi pacarmu?" Sekretaris Eli masih agak bingung ketika memikirkannya. "Kenapa aku harus jadi pacarmu?"
__ADS_1
Asisten Jae menggertakkan gigi dan segera membawanya pulang ke apartemennya. Sekretaris Eli belum menyadari jika dirinya berada di apartemen pria itu.
"Kalau begitu, aku akan membantumu mengingatnya malam ini." Asisten Jae tidak ragu untuk menekan wanita itu di tempat tidur, melepaskan satu persatu pakaian keduanya.
Sekretaris Eli yang setengah sadar dan setengah mabuk tidak banyak melawan. Ia hanya merasakan ada sesuatu yang memasuki tubuh bawahnya dan pikirannya mulai terjaga. Saat tahu apa yang sedang terjadi, dia hampir marah dan mengutuk Asisten Jae.
"Ahh!! Park Jae Yun, dasar binatang buas!" Sekretaris Eli menyebut nama lengkap Asisten Jae. Dia ingin menendangnya sebisa mungkin namun kedua kakinya terlalu lemas sekarang. Tanpa sadar dia mengerang.
"Apakah sekarang kamu sudah mengingatnya? Bagaimana, apakah kamu berpikir untuk menjadi pacarku?" bisik Asisten Jae.
Asisten Jae yang selalu tenang dan sopan di hati kerja ternyata bisa menjadi liar saat bersama wanita di tempat tidur.
Segala jenis hal-hal ambigu di tempat tidur berjalan lama dan penuh gairah. Seiring berjalannya waktu, Sekretaris Eli sudah lama melupakan kemarahannya. Dia harus mengakui jika Asisten Jae memang tidak buruk, mampu membuatnya merasakan kenikmatan surga dunia berkali-kali.
"Ohh ...! Dasar binatang buas ...!" Sekretaris Eli mengerang lagi dan dia mendapatkan puncak musim seminya.
Asisten Jae juga merasakan hal yang sama. Tubuh keduanya berkeringat untuk waktu yang lama tapi tidak terlalu dipedulikan. Setelah mendapatkan puncaknya masing-masing, Asisten Jae memisahkan diri dari tubuhnya dan berbaring di samping wanita itu.
"Kamu tidak memakai pengaman," kata Sekretaris Eli sedikit tidak berdaya. Tapi tanpa pengaman memang lebih memuaskan.
"Tidak masalah jika kamu hamil. Aku akan bertanggung jawab," ucap pria itu tanpa ragu.
Sekretaris Eli ingin mengatakan sesuatu, namun melihat ekspresi pria itu yang serius, ia menelan kembali kata-katanya. Dia mengambil posisi menyamping dan menyentuh perut ratanya yang berotot. Tiba-tiba saja api di perut Asisten Jae kembali dinyalakan.
"Eli, kamu sengaja merayuku." Suara pria itu sedikit serak. Tubuh bawahnya tegang lagi.
Kali ini Sekretaris Eli tidak berada dalam pengaruh alkohol. Semuanya sudah terjadi jadi kenapa dia harus mengakhirinya begitu saja. Melihat jika pria itu masih menginginkannya, ia tidak keberatan.
"Aku tidak tahu jika pria Asia sepertimu memiliki nafsu yang besar. Tapi aku suka," godanya.
Sekretaris Eli mendapatkan kembali kekuatan tubuhnya. Kini giliran dia yang duduk di atas pria itu. Asisten Jae terkejut melihat dia mengambil inisiatif.
"Ini ronde ketiga, bukan?" Sekretaris Eli berkata agak malu-malu.
__ADS_1
Asisten Jae hanya terkekeh dan meraih pinggang wanita itu untuk memulai.