Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Akhir Dari Keluarga Kei (1)


__ADS_3

Pertanyaan Nola tampak biasa saja tapi sepertinya jebakan tak disengaja. Jika Halbert menjawab tidak suka, maka sama saja dengan tidak menyukai darah Nola sebagai keturunan Asia. Jika suka, maka kecemburuannya terhadap Takahiro Ren sedikit berlebihan.


Untuk pertama kalinya, Halbert ingin tersedak oleh pertanyaan gadis itu. Dia tidak bisa menjawab untuk sementara waktu. Demi menyenangkan istrinya yang mulai sedikit tidak senang, Halbert hanya bisa merendahkan statusnya.


"Tentu saja aku suka kamu, selama itu kamu, baik-baik saja, okay?" Halbert menggodanya. "Tapi jika kamu bisa memilih, apakah pria Asia atau pria barat yang kamu suka?"


Nola tersenyum dan merangkul lehernya. "Kamu tinggi dan tampan, banyak uang dan berkuasa. Apa lagi yang tidak kusuka?" Dia juga menggodanya.


Halbert terkekeh, suasana hatinya mendadak membaik tanpa alasan. Dia menyukai jawaban ini. Jadi dia tidak perlu membandingkannya dengan Takahiro Ren.


Suasana hati Halbert yang sedang baik akhirnya keluar untuk menyiapkan sarapan. Nola tidak membutuhkan siapapun untuk membantunya. Dia membersihkan diri secara alami dan pergi ke ruang makan bergaya negara J.


Takahiro Ren dan kakeknya sedang mengobrol tentang apa yang terjadi baru-baru ini di ibu kota. Sampai gadis itu datang, Pria Tua Ren menyambutnya dengan antusias.


Halbert tidak lagi merasakan kecemburuan sehingga tidak mempermasalahkan pria tua itu yang menganggap Nola sebagai cucunya.


Nola duduk di samping Halbert.


Akhirnya Pria Tua Ren tidak bisa menahan diri untuk bertanya. "Bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah ada ketidaknyamanan?"


"Tidak apa-apa, semuanya sama seperti saat aku bangun tidur biasa." Nola menggelengkan kepala.


Pria tua itu akhirnya merasa lega. "Kalau begitu bagus. Ayo makan sebelum makanannya dingin."


Tidak ada yang mengangkat sumpit sebelum orang yang dituakan di meja makan memimpin. Meski negara A tidak memiliki aturan tersebut, namun di sini masih ada sedikit tradisi.


"Apakah anak itu sudah bangun?" tanya Nola.


Pria Tua Ren menggelengkan kepala. Lagi pula, Hiiro mengalami perpecahan aura supernatural di tubuhnya. Pasti tidak akan sadar dalam waktu singkat. Setidaknya, mungkin akan siuman siang nanti atau sore harinya.

__ADS_1


Keluarga Kei kemungkinan besar dilanda kebingungan dan rasa panik saat ini. Terutama Wanita Tua Kei. Karena Hiiro gagal dijadikan tumbal, putranya yang berharga, Matsuyama Kei, dinyatakan meninggal pada siang harinya karena serangan jantung. Dia meninggal tepat pada saat Hiiro diselamatkan.


Berita tersebut cukup menggemparkan warga sekitarnya. Belum lagi, putri Matsuyama Kei baru saja meninggal sebelumnya, kini seorang ayah menyusulnya. Bukankah ini terlalu keterlaluan?


Mungkinkah keluarga Kei terkena kutukan?


Ketika Wanita Tua Kei mengetahui putranya meninggal, dia histeris dan jatuh pingsan sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Tubuhnya yang sudah tua membuat kondisi kesehatannya banyak menurun.


Anggota keluarga Kei yang lain tidak terlalu bersimpati tapi masih datang berkunjung sebagai formalitas.


Kematian Matsuyama Kei menjadi kewaspadaan bagi anggota keluarga Kei lainnya. Nyonya tua Kei merupakan wanita tua yang kejam. Selain bersekutu dengan iblis untuk mendapatkan puncak kejayaan, juga masih ada ritual yang dijalankan.


Saat ini, Hiiro yang baru saja siuman merasa kepalanya pusing. Dia berulang kali memanggil ibunya tanpa sadar. Nola duduk di tepian tempat tidur dan memeriksa dahinya.


"Dia demam," ujarnya.


"Aku akan pergi untuk memberi kompres tempel penurun demam," kata Takahiro Ren segera bergegas.


Tak lama kemudian, Takahiro Ren kembali dari toko. Dia menyerahkan kompres tempel penurun demam pada Nola.


Hiiro masih mengigau sepanjang waktu. Wajahnya sedikit pucat. Nola merasakan aura tubuh Hiiro sedikit kacau, pertanda jika dia benar-benar sakit kali ini.


"Apakah kalian akan memberi tahu ibu anak ini?" tanya Halbert.


Pria Tua Ren mendesah tidak berdaya. "Mari beri tahu dia. Lagi pula, nyonya Rin bukan orang jahat seperti keluarga Kei."


Meski sebenarnya Nyonya Rin adalah simpanan Matsuyama Kei sebelumnya, tapi anak yang lahir tidak bisa disalahkan. Lagi pula saat Nyonya Rin datang ke rumah keluarga Kei, istri asli sudah meninggal dunia. Tapi statusnya sebagai wanita simpanan tak pernah hilang dan anaknya kerap kali mendapatkan ejekan sebagai anak haram.


Hiiro memiliki kelebihan dalam dirinya. Tapi tidak pernah memberi tahu siapapun. Nyonya Rin saja tidak diberi tahu. Hiiro mungkin khawatir dirinya akan dianggap gila dan hanya mencari perhatian.

__ADS_1


Akhirnya Pria Tua Ren menghubungi Nyonya Rin ke nomor pribadinya. Lagi pula keberadaan Hiiro saat ini tidak bisa diketahui banyak orang.


Di sisi lain ....


Nyonya Rin menangis di kamarnya. Kecelakaan satu persatu menimpa keluarga Kei. Pertama kematian putri Matsuyama Kei, lalu hilangnya Hiiro , kemudian kematian Matsuyama Kei. Dan kini Wanita Tua Kei jatuh sakit hingga dirawat.


Terakhir kali saat Nyonya Rin melihat kondisi wanita tua itu, ia sedikit terkejut. Wanita Tua Kei terlihat lebih kurus dan pucat, sangat berbeda dengan kesannya selama ini. Selain itu, Wanita Tua Kei juga tidak bisa bangun atau duduk. Rambutnya yang sebagian mulai memutih, kini hampir putih sepenuhnya.


Ia sungguh tidak mengerti apa yang tengah terjadi. Semuanya terjadi begitu saja. Bahkan ia masih menangisi putranya yang belum ditemukan. Dia bahkan tak berani menghubungi kantor polisi untuk membuat laporan orang hilang. Lagi pula, tidak tahu apa yang akan dilakukan pihak lain saat mengambil Hiiro .


Kemudian, ponselnya berdering. Nyonya Rin terkejut, menghapus air mata dengan tisu lalu melihat siap yang menelepon. Ternyata deretan nomor tak dikenal yang menghubunginya.


Nyonya Rin ragu untuk menerima panggilan itu. Bagaimana jika itu adalah panggilan penting? Lebih baik mendengarkan siapa yang berbicara di telepon.


"Halo, dengan siapa ini?" tanyanya menyapa lebih dulu. Suaranya sedikit serak.


Kemudian, suara Pria Tua Ren terdengar dari seberang telepon. "Nyonya Rin, putramu ada bersamaku. Datanglah ke alamat yang telah aku kirim padamu. Ingat, jangan beri tahu siapapun."


Nyonya Rin tertegun dan jantungnya berdetak kencang. Dia tidak tahu siapa yang menelepon dan memberi tahu keberadaan putranya. Khawatir itu adalah telepon iseng atau seseorang yang ingin memerasnya.


Namun di sisi lain, tak ada yang tahu tentang hilangnya Hiiro selain anggota keluarga Kei. Meski begitu, mereka sama sekali tidak peduli. Jika Hiiro benar-benar hilang, warisan Matsuyama Kei akan jatuh ke tangan mereka. Tapi semua anggota keluarga Kei tidak menunjukkan keserakahan mereka terhadap uang. Setidaknya tidak untuk saat ini.


"Siapa kamu?! Apa yang kamu lakukan pada putraku?" Nyonya Rin mencoba untuk membuat suaranya setenang mungkin.


Tapi orang di seberang telepon tidak lagi mengatakan apapun, lalu panggilan terputus.


"Halo? Halo!" Nyonya Rin melihat layar ponselnya menjadi hitam, mau tidak mau mencoba menenangkan diri.


Kemudian, sebuah pesan berisikan alamat masuk ke kotak pesan.

__ADS_1


Tidak peduli apa yang terjadi dengan putranya saat ini, atau mungkin saja pihak lain berbohong. Setidaknya ia harus berangkat ke alamat yang baru saja diterimanya.


__ADS_2