Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Mengganggu Kesenangan Orang Dewasa


__ADS_3

Halbert merasa waktunya pas untuk berduaan dengan istrinya. Sudah lama dia tidak memiliki kegiatan tempat tidur yang menyenangkan dengan gadis itu. Dia juga membutuhkan pelampiasan indah duniawi.


Keduanya baru saja berciuman dan saling membuka pakaian dengan penuh gairah, tiba-tiba saja tangisan Lucas terdengar dari kamar sebelah. Gerakan keduanya terhenti. Tak perlu dikatakan lagi, Halbert yang paling membenci.


Gairahnya sedang berada di puncak dan anak itu mengacaukannya lagi. Ini bukan pertama kali!


Nola tentu saja mementingkan putranya. "Aku akan melihatnya dulu. Mungkin dia lapar."


"Dia baru saja makan, sangat kenyang!" Halbert menuduh anak itu.


Apakah Lucas dilahirkan untuk menghalangi jalan hidupnya?


Nola hanya tersenyum. Dia merapikan pakaiannya dan meninggalkan tempat tidur. Halbert menahan diri lagi. Melihat istrinya pergi, dia hanya menunggu.


Butuh seperempat jam bagi Nola tinggal di kamar Lucas. Bayi itu akhirnya berhenti menangis. Lalu dia kembali dan menutup pintu. Halbert memintanya untuk mengunci pintu.


"Apakah dia makan lagi?" tanya Halbert. Tatapannya jatuh ke dada gadis itu.


"Tidak." Nola menjawab jujur.


"Lalu apa yang kamu lakukan agar membuatnya tidur dengan tenang?"


"Aku membujuknya untuk berperilaku baik agar suatu hari bisa bermain dengan adik perempuannya."


Nola memang mengatakan hal demikian pada Lucas. Bayi itu memiliki pemahamannya sendiri. Mungkin karena mewarisi darah supernatural di tubuhnya.


Halbert ditenangkan. Dia juga ingin memiliki anak perempuan. Dengan begitu, dia tidak akan repot dengan Lucas. Anak laki-laki harus mandiri dan tidak cengeng di masa depan.


Pria itu sendiri memiliki rencana di masa depan. Ketika anak itu cukup umur, lempar saja ke kelompok mafianya untuk belajar. Keluarga Jefford sudah terkenal dengan mewarisi posisi ketua mafia sejak dulu. Tak terkecuali putranya.


"Kalau begitu ayo kita anak perempuan." Halbert tentu saja langsung memeluknya.


"Tunggu sampai anak sedikit lebih besar."


"Ya." Halbert tentu juga tahu tentang ini.


Keduanya melanjutkan apa yang sebelumnya tertunda. Halbert merasa seperti ikan yang menemukan air, rasa haus di tubuhnya terobati.


Tidak tahu berapa lama mereka menyelam satu sama lain, Halbert sudah merasa puas. Tanpa gangguan anak itu, keduanya bisa menghabiskan waktu bersama.

__ADS_1


Kali ini ketika Lucas menangis lagi, Halbert tidak kesal seperti sebelumnya. Dia melihat wajah lelah istrinya, jelas tidak berniat membangunkannya.


Halbert bangun setelah menyelimuti tubuh Nola, lalu pergi ke kamar Lucas. Bayi itu menangis hingga wajahnya memerah.


"Kenapa kamu menangis lagi? Tidak bisakah kamu tidur dan jangan mengganggu orang dewasa?" tanyanya tidak suka.


Lucas tidak bisa bicara, hanya menangis untuk apapun yang merasa tidak nyaman di tubuhnya.


"Dia mungkin mengompol atau sebagainya. Periksa saja." Orange tidak bisa membantu. Tugasnya hanya menjaga anak itu.


Halbert mendesah dan membuka popoknya. Benar saja, basah. Tidak heran jika tidak nyaman. Halbert menggantinya sendiri tanpa memerlukan pengasuh untuk melakukannya. Ia juga tidak merasa jijik sama sekali.


Nola sendiri sering melakukan ini. Dia kadang bangun tengah malam atau dini hari hanya untuk mengurus masalah tersebut.


Setelah mengganti popok, Lucas akhirnya berhenti menangis dan kembali tidur.


"Kenapa kamu begitu merepotkan?" candanya.


Memastikan jika anak itu baik-baik saja, Halbert kembali ke kamarnya. Nola sudah tidur nyenyak saat ini. Dia benar-benar lelah. Halbert berbaring di sampingnya dan memeluk sepanjang malam.


Keesokan paginya, pasangan suami istri itu sibuk lagi dengan Lucas. Baik memandikannya, menyusui hingga menggendongnya ke sana kemari.


"Apakah kalian berdua sudah sarapan?" tanya Halbert.


"Kami sarapan di luar," jawab Solachen. "Apakah cucuku nakal lagi? Biarkan aku menggendongnya."


Nola menyerahkan Lucas pada Solachen.


Kemudian mereka semua pergi ke ruang keluarga untuk membahas sesuatu. Terutama Solachen.


"Nola, Halbert, kalian juga tahu bahwa aku sudah menahan Organisasi Supernatural Dunia selama beberapa bulan terakhir. Setidaknya selama Nola hamil waktu itu. Sekarang anak ini sudah lahir, aku tidak bisa menjaga organisasi itu. Ke depannya, kalian harus melindungi diri sendiri."


"Apakah Ayah akan pergi?" Nola terkejut.


"Tidak. Aku di sini. Hanya saja Mo Shige mungkin akan mengirim orang-orangnya lagi untuk menangkap kalian. Apa lagi sekarang ada Lucas. Orang-orang dari dunia supernatural juga sudah kembali ke tempat asal mereka" jelas Solachen.


Dengan kata lain, Mo Shige dan organisasi itu sudah bebas dari pengawasan. Mungkin Nola harus sibuk lagi mengurus orang yang dikirim olehnya.


Solachen juga bersiap menyerang organisasi itu. Tapi persiapannya belum matang. Ia juga punya anak buahnya sendiri. Jika ingin melawan Mo Shige, maka harus menyerangnya dengan indah.

__ADS_1


"Ayah, jangan khawatir, aku tahu apa yang harus kulakukan." Nola meyakinkan ayahnya.


"Bertahanlah sedikit lagi. Ayah berjanji jika organisasi itu tidak akan menjadi ancamanmu lagi di masa depan. Dengan begitu, kalian bisa hidup tanpa khawatir diburu oleh mereka."


Kakek Jefford juga meminta orang-orangnya sendiri untuk menjaga keamanan rumah. Dia khawatir ada orang jahat yang akan menculik cicitnya. Ia semakin tua, sudah waktunya menghabiskan masa tua di rumah.


Lucas di pelukan Solachen terbangun. Matanya yang jernih menatap kakeknya. Lalu kemudian tertawa. Suasana yang tegang akhirnya mencari karena tawa anak itu.


Halbert harus pergi ke perusahaan selama setengah hari. Lalu dia akan sibuk berurusan dengan Geng Kalajengking Hitam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nola dan Halbert memiliki hari-hari yang tenang bersama anak mereka selama sebulan terakhir. Hingga akhirnya, orang-orang yang dikirim Organisasi Supernatural Dunia datang untuk mereka lagi.


Kali ini jumlah yang dikirim mereka lebih banyak daripada sebelumnya. Halbert meminta orang-orang Organisasi Fortuna untuk melawan mereka sebagai bentuk dari latihan.


Terutama, mereka harus memastikan keamanan Lucas. Karena saat ini, tujuan orang-orang itu bukan hanya Nola dan Halbert tapi juga Lucas.


"Mereka tak ada habisnya." Kakek Jefford tidak tahu harus berkata apa. Dia sudah melihat pertarungan mereka di luar rumah, ini sangat sengit.


Jika bukan karena Halbert dan Solachen, mungkin rumah mereka sudah lama hancur.


"Taman itu rusak lagi. Aku baru saja memperbaikinya kemarin." Richard tampak tidak senang.


"..." Apakah ini intinya? Butler Cello bahkan tidak tahu harus berkata apa.


Setelah Solachen dan Halbert membereskan kekacauan di luar, mereka kembali masuk rumah. Halbert memastikan jika kakek, istri dan anaknya baik-baik saja.


"Bagaimana dengan mereka?" tanya Nola.


"Sudah diurus."


Baik Halbert atau Solachen memiliki bercak darah di pakaian mereka. Seharusnya darah milik lawan. Solachen tampak tidak senang dan tampaknya rencana harus dimulai lebih awal.


"Mo Shige sudah bergerak secara terbuka. Dia tahu kita semua berada di satu tempat sehingga mengirim banyak orang sekaligus. Kali ini, aku juga akan membuat serangan balasan pada mereka," jelasnya.


Kakek Jefford menatap Lucas yang berada di pelukan Nola. "Tujuan utama mereka adalah Lucas."


Solachen mengangguk. "Mo Shige ingin Lucas menjadi pewarisnya di masa depan. Tentu saja harus dibesarkan di sisinya. Itulah kenapa dia menginginkannya begitu keras akhir-akhir ini. Kita tidak bisa lagi menahan diri tapi harus menyerang balik!"

__ADS_1


__ADS_2