
Pria itu bernama Yujin, mengangguk ringan pada wanita bernama Sakie. Tentu saja pemimpin harus tahu tentang masalah ini, lagi pula ahli supernatural adalah musuh para penyihir. Walaupun tidak semua ahli supernatural adalah musuh mereka, salah satunya supernatural aliran gelap.
Wanita tua Kei menceritakan tentang ruang bawah tanahnya yang terbakar dan ada beberapa hal yang hilang dari sana. Mereka khawatir jika pihak lain sebenarnya mengincar keluarga Kei dan tak sengaja menemukan keberadaan penyihir mereka.
Ini sangat merepotkan.
“Kamu sengaja memberi wanita tua itu kesempatan untuk mencari tahu siapa yang menargetkannya?” Yujin menebak.
“Tepat! Kamu tidak sepenuhnya bodoh ternyata.”
Pria itu mendengkus. “Dengan kemampuanmu, harusnya tidak sulit untuk menemukan jejaknya bukan?”
Ekspresi Sakie menjadi tidak senang. “Jangan lupa, ahli supernatural tidak selemah yang kamu bayangkan. Mereka memiliki banyak cara dan kemampuan, jika tidak, klan penyihir tidak akan bersembunyi dari dunia.”
“Ck, merepotkan.” Yujin tidak mau lagi mengobrol dengannya dan berniat untuk pergi.
“Jangan buru-buru pergi, bantu aku mempersiapkan pertunjukan malam nanti. Buat kuil ini seolah-olah masih berfungsi dan kita akan mengambil kesempatan untuk menukar tumbal.”
Yujin tidak senang tapi juga tidak menolak. Dengan kemampuan sihirnya, ia bisa menyulap tempat ini menjadi lebih indah tapi sayangnya kuil adalah tempat ibadah. Dia tidak bisa menggunakan kekuatannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pada malam harinya, wanita tua Kei datang ke kuil yang ditentukan. Ia datang bersama menantu dan cucu laki-lakinya. Keadaan kuil lebih baik dari pada saat terakhir kali wanita tua Kei datang. Ia sempat terkejut sesaat lalu kembali normal.
“Bu, bukankah kuil ini sebelumnya ditutup? Apakah itu kembali dibuka?” tanya menantunya.
“Ya, baru dibuka kembali beberapa hari yang lalu. Karena itu aku mengajak kalian ke sini, berharap bisa mendo’akan putraku yang malang,” jawab wanita tua Kei santai.
__ADS_1
Ketiganya menaiki anak tangga yang cukup panjang sampai akhirnya tiba di halaman kuil yang bersih dan penuh dengan nuansa segar. Tapi istri Matsuyama Kei sedikit merasa aneh. Meski di depan mereka adalah bangunan kuil, tapi entah kenapa rasanya berbeda dari kuil kebanyakan.
Putranya yang masih berusia sepuluh tahun merapatkan diri ke ibunya. “Bu, aku ingin pulang,” bisiknya.
Istri Matsuyama Kei hanya bisa menenangkannya. “Jangan khawatir, kita akan segera pulang setelah membakar dupa untuk kesembuhan ayahmu,” jelasnya.
Namun putranya yang jarang bicara itu sama sekali tidak mau memasuki kuil. Ia terlihat sangat ketakutan. Tapi tidak bisa mengatakan apa-apa pada ibunya tentang apa yang dia lihat. Oleh karena itu, dia hanya bisa menyentuh saku celana kirinya dengan sedikit tenaga. Ia berharap tidak ada sesuatu yang akan menakutinya.
Tak jauh dari kuil itu, Nola dan Halbert sudah bersembunyi di kegelapan. Keduanya mengenakan topeng agar jika ketahuan tidak akan menunjukkan identitas yang sebenarnya. Karena sebelumnya Halbert membiarkan raja kalajengking hitam supernatural untuk memantau kedua penyihir di kuil dan mendapatkan beberapa informasi yang berharga.
“Wanita tua itu ingin menukar tumbal, tapi tampaknya tidak akan semudah itu,” kata Nola.
“Anak itu tidak biasa.” Halbert membuat kesimpulan
Nola mengangguk. “Sepertinya anak itu sudah memiliki kelebihan sejak lahir hingga mampu melihat sesuatu yang tak kasat mata. Sepertinya dia selalu membawa jimat pelindung untuk dijauhi dari makhluk halus,” jelasnya sangat yakin.
Di kuil, wanita tua Kei dan menantunya memasuki kuil dan membakar dupa. Sementara cucu wanita tua Kei diam-diam duduk di samping ibunya, ekspresinya sedikit pucat dan hanya bisa menunduk. Yujin dan Sakie berpura-pura menjadi pengurus kuil dan diam-diam memperhatikan anak itu. Keduanya agak ragu karena anak itu tampaknya tidak biasa.
Namun lebih baik mencoba lebih dulu dan lihat apa yang akan terjadi.
Setelah wanita tua Kei dan menantunya membakar dupa dan beribadah, Sakie membawakan tiga cangkir berisi teh herbal untuk mereka. The pada cangkir anak itu telah dicampur dengan setetes darah ritual khusus untuk menukar tumbal.
“Silakan minum tehnya dulu sebelum kembali.” Sakie berkata dengan nada lembut dan tenang.
Wanita tua Kei dan menantunya meminum teh tersebut dengan tenang. Sementara anak laki-laki itu gemetar ketika memegang cangkir teh. Aroma yang anak laki-laki itu cium bukanlah aroma teh, melainkan aroma darah yang membuatnya mual. Tanpa sadar, dia menjatuhkan cangkir dan air tehnya yang agak panas membasahi pakaiannya.
Mengetahui hal ini, ekspresi Sakie dan Yujin diam-diam berubah. Ada sedikit kekesalan dan ketidaksabaran namun masih menunjukkan senyum ramah. Wanita tua Kei melihat anak itu tidak patuh dan malah menjatuhkan cangkir, mau tidak mau marah.
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan?! Apakah kamu tidak ingin ayahmu sembuh dan sengaja membuat keributan? Memegang cangkir saja tidak bisa?!”
Menantu wanita tua itu sedikit khawatir dan menenangkan ibu mertuanya. Lalu menatap putranya yang setengah ketakutan sejak awal datang. ia meminta maaf pada Sakie dan Yujin lalu menasihati putranya dengan baik.
“Hiiro, apakah kamu tidak enak badan?” tanya Nyonya Rin, menantu wanita tua itu.
Anak laki-laki bernama Hiiro menggelengkan kepala, kedua tangannya sedikit dingin. Dia hanya tidak mau minum teh itu tapi tidak bisa mengatakan alasannya. Ia takut membuat neneknya marah dan menyinggung dua pengurus kuil yang diselimuti oleh aura gelap di sekujur tubuhnya.
Yujin segera membuat suasana kembali menghangat dan menuangkan teh ke cangkir yang baru. Ia menyerahkan secangkir teh itu pada Hiiro dan tersenyum datar.
“Tidak apa-apa, sepertinya hanya sedikit gugup. Jangan takut, teh ini hanyalah teh herbal biasa dan sangat baik bagi tubuh. Silakan diminum,” jelasnya.
Hiiro yang masih pucat memegang cangkir dengan agak gemetar. Dia tidak sengaja melihat wajah Yujin yang tersenyum tapi sorot matanya penuh dengan aura pembunuhan yang kuat. Dia diam-diam menelan salivanya dengan susah payah dan entah kenapa dia seperti dipaksa untuk minum.
Mau tidak mau, Hiiro hanya bisa meminum teh tersebut dengan jantung berdebar. Baru saja air teh membasahi tenggorokan, Hiiro menjatuhkan cangkir teh hingga pecah di lantai. Dia batuk-batuk dan merasa tenggorokannya terbakar hebat hingga wajahnya memerah.
Nyonya Rin panik saat melihat putranya kejang-kejang. Bahkan Yujin dan Sakie juga bingung. Wanita tua Kei tidak bicara saat ini, menatap kedua orang itu dan meminta penjelasan. Tapi Sakie sendiri menggelengkan kepala.
“Hiiro, Hiiro! Ada apa denganmu, Nak?”
Nyonya Rin mencoba untuk mengguncang putranya, berharap putranya kembali pulih, tapi kondisi Hiiro yang langsung kejang-kejang tidak menunjukkan perubahan membaik sama sekali. Nyonya Rin hanya bisa menatap Sakie dan Yujin untuk meminta bantuan. Keduanya memanfaatkan hal tersebut untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
“Kalau begitu aku akan memeriksanya lebih dulu,” kata Sakie langsung menyentuh dahi Hiiro untuk memastikan jika air teh penukaran tumbal bekerja.
Tapi baru saja menyentuh dahi anak itu, dia langsung menarik tangannya kembali dan berteriak kaget. Telapak tangannya memerah seperti baru saja menyentuh benda yang sangat panas. Tubuh anak itu sangat panas seperti api.
Sakie mengubah ekspresi wajahnya. Apa yang sebenarnya terjadi?
__ADS_1