
Nola menggelengkan kepala. Tubuhnya terasa dingin saat gaun yang dipakainya dilepas paksa oleh Halbert. Dia menjelaskan dengan gugup, bingung dan merasa bersalah.
Halbert merasa ada yang salah dengan nada bicara gadis itu. Tapi tak ada yang bisa menghentikannya untuk makan daging (****) sore ini.
Dia meminta penjelasan Nola saat keduanya memadu kasih di tempat tidur. Halbert menyentuh setiap inci tubuhnya dengan penuh dominasi. Meninggalkan banyak bekas merah menggoda di beberapa bagian tubuhnya.
Nola takut menyentuh luka memar di tubuh Halbert yang belum sembuh total. Tapi dia juga tidak ingin pria itu bermain terlalu kasar.
Halbert memang marah dan cemburu hingga tidak peduli dengan tangisan gadis itu. Mata Nola hampir bengkak karena banyak menangis. Ketika keduanya mencapai puncak duniawi, Halbert mengigit leher jenjangnya.
Setelah kabut kenikmatan di mata Halbert mereda perlahan, ia sadar apa yang baru saja dilakukannnya. Nola tampak tidak berdaya di bawahnya.
"Sayang, maafkan aku," bisiknya. "Apakah ini sakit?" tanyanya saat menyentuh lehernya yang sedikit berdarah.
Dia menggigitnya cukup keras hingga meninggalkan bekas.
Gadis itu tidak menjawab dan memejamkan mata. Wajahnya sedikit pucat. Halbet tidak berniat melanjutkan. Dia bangkit dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sedangkan Nola memiliki wajah sembap. Dia memulihkan pikirannya yang semula bingung menjadi lebih jernih.
Saat Halbert keluar kamar mandi, gadis itu sudah mengambil posisi duduk.
"Apakah kamu baik-baik saja?" Halbert bertanya lagi.
Gadis itu mengangguk. Dia bingung. "Kenapa denganku hari ini? Kenapa aku merasa kamu ada dua," katanya.
"Dua?" Halbet duduk di sampingnya. "Sayang, ceritakan bagaimana kamu bertemu dengan Leon di sana. Sebelumnya, seseorang mengirim beberapa foto mu bersama dia di restoran padaku."
Halbert yakin jika Nola dipengaruhi. Ia terkejut karena Nola berkata jika Leon memiliki aroma yang sama dengannya. Oleh karena itu dia langsung kepikiran sepanjang waktu. Rasanya seperti ada dua Halbert.
Akhirnya Nola menceritakan apa yang terjadi tanpa ada yang ditutupi sama sekali. Kemudian Halbert menyimpulkan jika Leon bukan orang biasa. Pasti orang supernatural.
Orange berkata jika Leon mampu mengendalikan pikiran dan mengacaukannya.
Bagaimana Nola bisa terpengaruh?
Itu karena tubuh Leon memiliki aroma yang sama dengan Halbert. Pria itu merangsang pikiran Nola dengan kemiripan tersebut.
Halbet menghela napas tidak berdaya. Dia memeluknya. "Jangan khawatir, aku di sini. Aku hanya ada satu dan ini hanya aku di depanmu," ucapnya.
Nola juga memeluknya. "Maaf," katanya.
__ADS_1
"Aku yang harus minta maaf karena berprasangka buruk padamu. Jauhi dia di masa depan."
"Dia memiliki toko bunga di sekitar restoran. Mungkinkah dia memiliki tujuan dengan mendekatiku?"
"Apapun tujuannya, pasti tidak baik. Apakah ini ada hubungannya dengan orang-orang Organisasi Supernatural Dunia?" Halbet menebak.
"Jika ada hubungannya, berarti Mo Shige memiliki rencana baru untuk membawaku pergi."
Orang yang dikirim Mo Shige berbeda kali ini. Tidak melakukan kekerasan atau pemaksaan. Tapi menyerang mental seseorang. Tampaknya Mo Shige benar-benar marah hingga langsung mengutus orang yang lebih baik.
Keduanya teringat dengan perkataan Helliu sebelum mati. Akan selalu ada yang lain selain dirinya jika misi gagal. Dan mereka bukan menyerang fisik tapi memanipulasi pikiran seseorang.
Kemungkinan besar Leon merupakan salah satun orang-orang itu. Identitasnya bahkan lebih tersembunyi daripada Helliu.
Tak lama, pintu kamar pasangan itu diketuk Butler Cello. Sudah waktunya makan malam.
Nola baru menyadari jika harus sudah gelap. Ia dan Halbert terlalu menghabiskan waktu dunia dua orang. Gadis itu buru-buru bangkit dan pergi ke kamar mandi. Kakinya sedikit lemas.
"Sayang, apakah perlu kubantu?" tawar Halbert.
"Tidak perlu!" Nola memerah dan segera masuk kamar mandi.
Saat Nola dan Halbert pergi ke ruang makan, Kakek Jefford tidak ada di rumah. Butler Cello menyiapkan semua menu makan malam kesukaan mereka.
Butler Cello tak mengganggu keduanya setelah pulang ke rumah. Ia bisa tahu Halbert marah ketika menarik Nola ke kamar dan mengunci pintu. Tak perlu dikatakan lagi, pasti tuan mudanya sudah tahu tentang Leon.
"Tidak apa-apa, aku akan mengambilnya nanti." Nola menggelengkan kepala. Dia meletakkan berbagai lauk pauk di piring Halbert. "Suamiku, makanlah sup ikan."
"Kamu juga makan, bagus untuk tubuhmu." Halbert pasti akan menghabiskan makanan yang dituangkan oleh gadis itu ke piringnya.
Saat mencium aroma sup ikan, dia mengerutkan kening. Sisanya adalah sayuran dan olahan daging ayam. Aromanya tidak apa-apa. Tapi ketika mencium aroma sup ikan, Halbert merasa perutnya mual.
"Ada apa?" Nola melihatnya sedikit kurang nyaman.
"Sup ikan ini agak amis. Siapa yang memasaknya?" tanyanya pada Butler Cello.
Butler Cello terkejut dan bingung. "Tuan Muda, ini dimasak olehku langsung. Rasanya tak ada yang berubah."
"Ini enak. Halbert, mungkinkah kamu sedang tidak enak badan?" tanya Nola. Dia mencicipi sup ikan, enak seperti biasanya.
"Sepertinya. Aku memang kurang sehat sejak siang tadi."
__ADS_1
"Kalau begitu makan yang lain. Jangan makan supnya."
Nola tidak ingin kondisi pria itu memburuk hanya gara-gara sup ikan. Saat sakit, indera perasa dan penciuman kadang sensitif.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan paginya saat sarapan di ruang makan, belajar mual Halbert berlanjut. Kali ini lebih parah dari kemarin malam. Pria itu sampai ingin muntah dan pusing. Wajahnya juga agak pucat.
Halbert tidak masuk kerja hari ini dan istirahat di rumah.
"Ada apa denganmu? Apakah kamu jadi alergi ikan sekarang?" tanya Nola merasa bingung.
"Tidak apa-apa. Ini hanya sakit." Halbet tidak peduli.
"Butler Cello sudah menghubungi dokter keluarga. Periksa saja apa yang salah."
Halbert tersenyum. Gadis itu sangat energik hari ini. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, Nola saat ini tampak senang beraktivitas. Gadis itu makan acar buah cukup banyak pagi ini, membuatnya sedikit khawatir.
"Acar terlalu pedas dan asam, jangan makan terlalu banyak di pagi ini. Kenapa tiba-tiba kamu jadi suka makan acar?"
"Ini enak. Sejak sekretaris Eli makan acar dengan lahap, aku juga menginginkannya."
Tak lama bagi Dokter Keluarga datang ke rumah. Nola pergi ke dapur, membuat secangkir kopi untuknya.
"Tuan Muda merasa tidak nyaman? Gejala apa saja yang dirasakan?" Dokter Keluarga mulai memeriksanya.
"Ini lesu, pusing dan mual saat mencium olahan ikan apapun. Katakan, apakah ada yang salah dengan tubuhku?"
Dokter Keluarga mengerutkan kening. "Tak ada yang salah dengan tubuh Tuan Muda. Sejak kapan gejala ini dimulai?"
"Seminggu lalu tapi tidak intens seperti hari ini," jawabnya acuh tak acuh.
Kali ini Dokter Keluarga terdiam cukup lama sebelum akhirnya bertanya lagi. "Tuan Muda tidak memiliki riwayat alergi apapun terhadap olahan ikan. Hanya ada satu kemungkinan. Tuan Muda mungkin mengalami gejala morning sickness. Apakah Nyonya Muda sedang hamil?"
"Hamil?" Suara Halbert sedikit berarti. "Apakah ini akurat?"
"Tentu saja akan akurat jika Nyonya Muda memang hamil. Aku bukan dokter kandungan. Tuan Muda harus membawa Nyonya Muda untuk pemeriksaan."
Halbet terdiam. Nola mulai suka makan acar beberapa hari terakhir ini. Bahkan memiliki stok di kulkas. Bukan hanya itu, nafsu makannya juga meningkat. Berbeda dengan dirinya yang tak berselera dengan makanan apapun.
Memikirkan kemungkinan ini, Halbert langsung bersemangat.
__ADS_1
Pasti! Anak itu pasti ada!