
Di kamar hotel, Nola sempat merasa aneh saat melihat dua pria yang berpapasan secara tak sengaja di elevator. Dia mengernyit saat membereskan beberapa pakaian yang ada di kopernya.
Halbert baru saja keluar kamar mandi, mengenakan jubah mandi putih longgar yang memperlihatkan dada bidangnya. Tetesan air dari rambut basah pria itu segera dikeringkan dengan handuk kecil.
"Apa yang kamu pikirkan?" Halbert mendekatinya dan memeluk gadis itu, menghirup aroma parfum ringan di tubuhnya.
"Tidak ada."
"Kamu tidak pandai berbohong." Halbert mengetahui dia memiliki pikirannya sendiri.
"Aku hanya penasaran dengan pria yang tak sengaja berpapasan di elevator tadi."
"Kamu memikirkan pria lain?" Napas hangat pria itu berembus di daun telinganya.
"Hanya seorang paman yang merasa akrab saja." Nola memerah. Tapi pria itu sudah membopongnya ke tempat tidur. "Aku ... Aku akan membereskan pakaian. Lepaskan aku."
"Bereskan saja nanti. Mari lakukan sesuatu yang lain lebih dulu," bisiknya.
Nola merasa jika tangan pria itu menyelinap ke dalam gaunnya. "Tidak! Aku sedang datang bulan." Wajahnya sedikit panas.
Gerakan Halbert terhenti. Dia mendengkus ringan tapi tidak berniat untuk melepaskannya. Dia mencium bibir gadis itu hingga sedikit bengkak.
Bahkan jika Nola sedang datang bulan, masih ada banyak cara untuk bisa melampiaskannya. Pria itu tersenyum sedikit dan memberi isyarat untuk melakukan sesuatu.
"Istriku tahu bagaimana harus melakukannya," bisiknya.
Nola merasakan tubuh basah pria itu menegang dan mau tidak mau merasa tidak beruntung. Dia harus menyentuhnya di sana dengan tangan atau gunakan mulutnya. Tapi dia tidak terbiasa.
Hanya saja Halbert sudah diujung saat ini, tidak bisa dipadamkan dengan air dingin. Akhirnya Nola menurut. Walaupun dia tidak pintar untuk melakukan hal semacam itu apalagi menyenangkan kepuasan pria, namun dari suara rendah Halbert yang ditahan berulang kali, dia tahu pria itu menyukainya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pada keesokan harinya, Nola pergi sendiri menuju ke tempat di mana Chelsea berada saat ini. Halbert tidak mengikutinya. Dia sengaja meminta anak buahnya untuk mengikuti Nola diam-diam. Karena bagaimanapun juga, Organisasi Supernatural Dunia pasti masih mengincarnya di kegelapan.
Sebelum pergi, Halbert memberi tahu Nola jika Sean—anak buahnya akan tiba di tempat Chelsea. Jadi Nola tidak perlu takut jika seandainya Chelsea berniat untuk menyerangnya.
Chelsea tidak tahu jika Nola ada di negara ini. Dia sibuk dengan dirinya sendiri, enggan keluar apartemen dan berulang kali menghubungi Sean untuk meminta klarifikasi atas apa yang terjadi selama ini.
Dari awal hingga saat menggugurkan kandungan, dia telah ditelanjangi diam-diam oleh pihak lain. Citranya sebagai gadis yang anggun dan selalu bersih kini menjadi skandal yang tak ada habisnya.
Mungkin tidak apa-apa di Negara S yang longgar dengan teman ranjang yang selalu bermain-main. Video-video intimnya bisa dijadikan tontonan banyak orang. Tapi di Negara A, semuanya berbeda. Bagaimana mungkin Chelsea tidak marah?
"Siapa yang berani melakukan ini padaku?! Bagaimana bisa—" Chelsea yang melihat video dirinya ditekan oleh beberapa pria di tempat tidur, wajahnya memerah. Tapi ada banyak kemarahan alih-alih rasa gembira.
Semua komentar di internet sangat negatif dan vulgar. Mengatakan dirinya sebagai wanita malam atau sejenisnya. Dia benar-benar ingin menghancurkan telepon saat ini.
"Kamu akhirnya di sini. Katakan padaku, bagaimana semua ini bisa menjadi seperti sekarang? Kenapa begitu banyak foto dan video? Siapa yang mengambilnya?" Chelsea mencercanya dengan banyak pertanyaan.
Sean mengerutkan kening tidak suka. Dia berdiri tegap dan menatap Chelsea yang lebih pendek darinya.
"Bukankah aku yang harusnya bertanya bagaimana kamu bisa bermain dengan banyak pria seperti itu?" tanyanya datar.
"Aku—" Chelsea tertegun dan tubuhnya berkeringat dingin. Dia ingat jika saat ini statusnya masih teman ranjang. "Aku hanya ... Mereka tak bisa menahan diri," jelasnya.
"Aku mengerti," kata Sean. Dia tersenyum dan mengelus kepala gadis itu. "Aku tentu saja tidak akan menjadi salah satunya."
"Sean ..." Chelsea menatapnya khawatir. Bagaimana pun juga Sean lebih menjanjikan saat ini. Dia tak ingin kehilangannya.
Walaupun dia juga tahu bahwa Sean tidak mungkin hanya tidur dengannya saja selama ini. Keduanya sama-sama rusak. Lalu apa yang harus dia takutkan selain kemarahan saudara dan orangtuanya saat ini?
__ADS_1
Jika orang tuanya tahu tentang ini, dia bisa dimarahi habis-habisan. Terutama oleh ayahnya. Selain itu dia juga takut balas dendam Halbert. Dia hanya berharap jika Nola mati saat ini, tidak peduli apapun yang terjadi. Namun kakaknya tidak pernah memberi tahu apa yang terjadi dengan Nola.
"Sean, kamu tidak akan merekam diam-diam apa yang kita lakukan selama ini bukan?" Chelsea memandang pria itu dan curiga.
Dari semua video yang tersebar, salah satunya saat bersama Sean. Ada kamera yang merekam keduanya saat aktivitas ranjang selama ini. Tapi wajah Sean tidak pernah terpapar sama sekali di video. Seolah-olah semuanya sengaja direncakan.
Sean mau tak mau menatapnya dengan ekspresi datar. "Bagaimana menurutmu?"
"Apa maksudmu?" Chelsea tertegun dan merasa jika Sean menjadi orang yang berbeda saat ini.
Ketika Sean tersenyum dan hendak berkata sesuatu, seseorang masuk ke ruang apartemennya. Baik Sean maupun Chelsea menoleh ke arah suara langkah mendekat. Dan keduanya melihat seorang gadis bergaun hitam selutut berjalan santai ke arah mereka.
Melihat sosok itu, Chelsea segera membelalakkan mata dan pupilnya mengecil. Entah kenapa dia merasa jika jantungnya berdegup kencang saat ini. Tanpa sadar, dia mundur selangkah.
"Kamu— kamu—" Chelsea tergagap dan akhirnya menggertakkan gigi. Ekspresinya berubah kejam saat. Kebencian di matanya tak bisa dibendung lagi. "Nola! Bagaimana bisa kamu ada di sini?" geramnya.
Gadis yang datang tak lain adalah Nola. Berjalan tanpa bantuan tongkat putih. Dia berhenti sejajar dengan keberadaan Sean saat ini dan melepaskan kacamata hitamnya. Mata abu-abunya terlihat menawan. Dengan rambut panjang tergerai rapi dan memakai anting salib perak di telinga kanannya, Nola terlihat jauh lebih modis.
"My sister, akhirnya kita bertemu lagi. Apakah kamu merindukanku?" tanyanya sangat santai dan tidak berbahaya.
Tapi di mata Chelsea saat ini, senyum Nola mengisyaratkan sesuatu yang lain. Dia masih bingung. Kenapa Nola ada di sini? Bukankah gadis itu harusnya mati kehabisan banyak darah saat ini alih-alih berdiri sehat dengan tampilan yang berbeda.
Kenapa rasanya Nola jauh lebih berani dan percaya diri? Tidak seperti sebelumnya, pendiam, penakut dan selalu lemah saat dia melakukan apapun.
Sosok Nola yang seperti ini jelas mengingatkan Chelsea pada mendiang ibunya Nola di masa lalu. Dia pernah melihat ibunya Nola yang penuh pesona sehingga Nyonya Neilson cemburu.
Chelsea berkeringat dingin di telapak tangannya. "Kamu tidak mati! Kenapa kamu tidak mati?!! Jelas aku sudah menusuk mu berulang kali sebelumnya. Kenapa masih tidak mati juga?!" teriaknya tidak percaya.
Dia lupa jika saat ini masih ada Sean di samping Nola.
__ADS_1