
Frangky sepertinya mendapatkan ide untuk bos dan anak buahnya bisa berkumpul lebih dekat. Memancing ikan pasti lebih menyenangkan. Lalu panggang di dekat danau dan makan bersama.
Ide ini juga mendapatkan persetujuan Sean serta yang lain. Asisten Jae jarang memegang joran. Bisakah dia juga mendapatkan ikan untuk istrinya?
"Bos, sepertinya ini ide bagus. Bukankah ada banyak ikan di danau?" Asisten Jae menatap Halbert.
Halbert tidak keberatan. Dia meminta Butler Cello menyiapkan beberapa joran dan jaring.
Mereka semua pergi ke halaman belakang untuk memancing. Ada beberapa sampan di sana sehingga mereka bisa memancing dari tengah danau.
Nola dan Sekretaris Eli bergabung setelah membawa beberapa barang dan bumbu untuk memanggang ikan.
"Sayang, apakah kamu akan memancing?" Nola tersenyum penuh arti pada Halbert.
"Ya." Halbert tersenyum enggan.
Senyum Nola, dia tahu artinya. Ikan-ikan di danau ini pasti tidak akan mengenai kail pancingnya sama sekali. Tidak tahu apakah ikan-ikan punya insting kuat atau tidak, mereka lari saat ada dirinya.
Apakah aura mencekik dari tubuhnya begitu kuat?
"Kakek bilang di danau ini ada lelenya, hati-hati saat menyentuh air." Nola memperingati yang lain.
Frangky dan Asisten Jae hendak turun ke danau, menarik kakinya kembali. Tidak apa-apa untuk menghadapi moncong pistol. Tapi tidak dengan patil ikan lele.
Ikan lele bersembunyi di air. Bagaimana jika sengaja menyerang mereka diam-diam?
Sebagian dari anak buah Halbert memancing dan mengobrol. Sebagian lagi mengumpulkan kayu bakar, membuat api unggun serta mengambil air bersih.
Sekretaris Eli sedikit tidak kuat mencium bau amis ikan sehingga memakai masker untuk berjaga-jaga.
"Aku akan mencoba naik sampan dan memancing dari tengah danau." Nola tertarik naik sampan. Dia meninggalkan Sekretaris Eli sendiri.
"Nyonya muda, berhati-hatilah," kata Sekretaris Eli.
Sampan hanya kuat dinaiki oleh dua orang. Material kayu yang dipakai untuk sampan sangat bagus sehingga tidak khawatir bocor tiba-tiba.
"Tunggu!" Halbert menghentikan Nola yang hendak naik sampan.
Gadis itu menoleh padanya. "Ada apa?"
"Pakai ini, keselamatan." Halbert memasangkan jaket pelampung ke tubuh Nola. Lalu memakai bagiannya sendiri.
"Kamu juga ikut?"
__ADS_1
"Tidak ada ikan di tepi danau," jawab pria itu datar.
Nola memperhatikan jika sebagian anak buah Halbert sudah mendapatkan ikan. Bukankah ini karena dia tak bisa mendapatkan ikan?
Nola tertawa dan kemudian naik sampan. "Baiklah, ayo pergi. Aku akan menangkap ikan yang besar. Ngomong-ngomong, apakah ada udang di sini?"
"Ada. Hanya saja udang keluar di malam hari. Sulit menangkapnya jika hati sudah siang."
"Sayang sekali."
Frangky dan Asisten Jae juga memakai sampan, membawa jaring ikan dan menebarnya di tengah danau. Mereka hanya akan menangkap ikan yang sudah layak panen. Ikan kecil akan dilepas kembali.
Baru tangkapan pertama, keduanya mendapatkan dua ikan yang cukup besar.
"Danau ini jarang dipancing bukan? Ikan di sini begitu melimpah," kata Frangky.
"Memang. Jadi jangan ragu untuk memancing dan membawanya pulang."
"..." Frangky tidak tertarik sama sekali.
Di sisi Nola, Halbert memang tidak mendapatkan satu ikan pun meski sudah memegang joran selama seperempat jam. Semua ikan itu memang pergi menghindarinya.
Namun ketika Nola yang memegang joran, kurang dari semenit, ikan sudah memakan umpan.
"Nyonya Bos! Ayo tarik lebih kuat lagi. Ikannya pasti sangat besar," kata Frangky.
"Nyonya Muda, ayo tarik! Bos, jangan diam saja. Bantu Nyonya Muda!" Asisten Jae melihat Halbert sedikit linglung, segera menyadarkannya.
Halbert tentu saja tahu. Dia hanya merasa tidak senang karena ikan takut padanya. Lihatlah, istrinya. Betapa beruntungnya itu. Dia menghela napas tidak berdaya dan membantunya memegang joran.
"Jangan tarik terlalu kencang. Lakukan tarik perlahan dan ikuti pergerakan ikan. Dengan begitu, kail tidak akan putus." Halbert mengajarinya.
Nola terlalu panik sebelumnya, khawatir ikan akan pergi. "Ya, ya, cepat tarik!"
Halbert terkekeh. Sampan keduanya bergoyang ke sana dan kemari. Keduanya bekerja sama dengan baik hingga ikan di dalam danau menyerah dan akhirnya muncul ke permukaan.
Air danau terciprat ke tubuh mereka. Frangky dan Asisten Jae melongo saat melihat ikan yang sangat besar tampak terlihat terbang ke luar danau.
"Besar! Pasti raja ikan di danau ini. Ikan apa ini?!" Asisten Jae tak pernah membayangkan ada ikan sebesar itu di danau ini.
"Ini ... Ini sturgeon!!" Frangky juga terkejut.
Sturgeon adalah ikan yang besar dan cukup langka. Di pasaran, ikan ini sangat mahal. Telur-telur dari ikan besar dinamakan kaviar. Sama-sama mahal. Hanya dijual di restoran kelas atas saja.
__ADS_1
Tidak tahu berapa kilo ikan ini sekarang, tapi ikan itu langsung menimpa Frangky dan Asisten Jae. Perahu yang dinaiki mereka tidak lagi seimbang. Keduanya jatuh ke danau dan sampan terbalik.
Nola terkejut dan kemudian ingat dengan ikan besar yang ditangkapnya.
"Sayang, cepat tarik! Bagaimana jika lepas lagi?!" Nola buru-buru menarik joran.
Halbert masih belum pulih dari keterkejutannya. Dia tidak tahu kapan ikan ini hidup di danau? Mungkin sebelum dia lahir?
Karena ukurannya yang cukup besar di mata mereka, Halbert mencoba menarik joran kembali.
Sturgeon masih berusaha melepaskan diri. Tapi tidak tahu kenapa, kalah oleh aura Nola. Sulit membawa ikan ke sampan.
Frangky dan Asisten Jae tidak peduli masuk air atau tidak. Keduanya memiliki sertifikat renang profesional.
"Cepat! Cepat! Bantu Bos dan Nyonya Bos!" Asisten Jae buru-buru menangkap ikan besar itu.
"Hati-hati!" Frangky juga segera membantu.
Ikan dengan cepat dibawa ke daratan dengan bantuan yang lain. Butler Cello juga terkejut melihat ikan besar itu.
"Bukankah ini sturgeon?" gumamnya. Nola sangat beruntung bisa menangkap ikan ini.
Butler Cello diberi tahu Kakek Jefford tentang ikan yang ada di danau ini. Ikan sturgeon salah satunya. Namun hanya ada beberapa saja di danau ini.
Agar tidak saling memangsa satu sama lain akibat kelaparan, pelayan sering memberi pakan setiap hari sehingga kehidupan mereka akan terjamin.
Tidak peduli berapa umur ikan ini. Beratnya pasti di atas seratus kilo.
"Nyonya Bos luar biasa." Sekretaris Eli memuji Nola. Omong-omong, dia melihatnya memancing tadi.
Halbert hanya bisa menepuk kepala gadis itu. Ikan mahal ini akhirnya ditangkap. Mungkin ini ikan termahal yang ada di danau ini.
"Ayo kita masak ikan ini. Sebagian lagi akan dikirim ke Organisasi Fortuna. Biarkan pak tua itu juga merasakan makan ikan mahal."
Mereka setuju dan akhirnya menjadi semangat untuk mencicipi ikan mahal tersebut.
Kebersamaan di danau tidak lagi membuat mereka canggung. Sean tak bisa melakukan apa-apa, dia hanya menonton dengan bosan.
"Ikan itu, kasihan sekali. Sayangnya tidak ada kaviar."
Sudah lama sekali tidak makan olahan kaviar. Selain harganya yang menguras kantong, dia juga merupakan orang hemat.
Asisten Jae dan Frangky berganti pakaian lebih dulu agar tidak masuk angin. Untuk mengolah ikan mahal ini, Butler Cello bersemangat hingga berhati-hati saat memotong ikan.
__ADS_1
Dengan sertifikat koki kelas atas sebelumnya, tidak ragu lagi teknik memotong daging merupakan yang terbaik.