
"Tidakkah kamu ingin keluar dari tempat itu dan menjalani hidup dengan baik?" tanya Nola.
Leon tertegun. Lalu menggelengkan kepala. "Mudah untuk masuk dan sulit keluar. Setiap anggota telah diberi sumpah. Bahkan jika seandainya aku keluar dari Organisasi Supernatural Dunia, aku harus melanggar sumpahku lebih dulu."
Dia sudah memikirkannya selama ini. Apakah bergabung dengan Organisasi Supernatural Dunia sangat buruk?
"Kenapa Nyonya Muda Jefford tidak memberkahiku saja? Mungkin suatu hari nanti aku bertobat dan memilih jalan yang benar," katanya bercanda.
Nola hanya tersenyum, menatapnya cukup dalam. Tiba-tiba saja dia merasakan gerakan di perutnya. Mungkinkah si kecil juga merespons?
"Apakah bayimu bergerak lagi?" Leon cukup tahu tentang wanita hamil.
"Ya, tampaknya menanggapimu."
Leon tertawa ringan. "Anak supernatural memang beda. Sudahkah kamu mengetahui gender nya?"
Gadis itu menggelengkan kepala. "Sulit untuk mengetahui gender anak supernatural. Halbert berharap ini anak perempuan."
"Memang. Kelahiran anak supernatural sangat sedikit dan tidak mudah. Kamu beruntung."
Di saat keduanya mengobrol ringan, ada seseorang yang datang ke toko bunga Leon. Orang yang datang merupakan sepasang kekasih yang hendak membeli bunga.
Namun ketika melihat Nola, keduanya sedikit panik. Nola juga terkejut melihat keduanya bergandengan tangan.
"Sean? Suyue?" Nola tahu jika Sean sedikit memperhatikan Suyue selama ini tapi dia pikir itu hanya untuk main-main.
Siapa tahu jika keduanya berkencan lebih jauh lagi?
"Nyonya ... Bos— Nyonya Muda!" Sean agak gelagapan.
Nola mengangguk dan tersenyum pada mereka berdua. Tampaknya Sean menemukan jodohnya?
Suyue yang ada di sampingnya terlihat agak malu. Dia dulu tomboi. Sekarang terlihat anggun saat menggunakan gaun selutut.
Leon menaikkan sebelah alisnya. "Kalian dua pelanggan, kenapa begitu gugup? Mungkinkah kalian menjalani hubungan terlarang?" Dia bercanda.
Sean ingin menghajar Leon. Pria ini jelas adalah musuh tapi kenaoa pura-pura ramah.
"Kenapa kamu di sini?" Sean tidak senang saat melihat Leon.
"Lalu bagaimana denganmu?" Leon bertanya balik.
__ADS_1
"Tentu saja datang dan beli bunga."
"Oh, kebetulan sekali aku adalah pemilik toko bunga. Nah, mau bunga apa?" Leon tak ragu memperkenalkan semua jenis bunga potong yang dijualnya.
"..." Sean yang semula sombong kini terdiam. Bukankah dia mendatangi sarang musuh?!
Suyue tidak peduli dengan permusuhan Sean pada Leon. Dia menyebutkan jenis bunga yang diinginkannya. Sean menyerah, selama pacarnya senang.
Di saat Leon mengemas bunga yang diingkan Suyue, Sean mengobrol dengan Nola.
"Nyonya Muda, kenapa kamu di sini? Bukankah pria itu sangat berbahaya?" tanyanya agak berbisik.
"Tidak apa-apa. Toh, dia akan sial jika memiliki pikiran jahat padaku."
Tak lupa, Nola melihat Orange yang rebahan di atas meja. Sungguh tidak sopan. Tapi kucing itu memang tak suka dengan Leon karena pernah ingin mengendalikan pikirannya.
Setiap kali bertemu Leon, Orange akan menggeram marah dan mengancam menghancurkan semua bunga di toko.
Tapi ujung-ujungnya, kucing itu tidur ketika bertemu tempat yang nyaman. Di mana kewaspadaan sebelumnya?
Sean memutar bola matanya saat melihat Orange. Kucing pemalas! Bahkan tak sebaik Black, pikirnya.
"Sejak kapan kalian pacaran?" tanya Nola.
"Jadi berhasil?"
"Ini masih masa percobaan. Siapa yang tak tahu betapa playboy nya aku dulu? Dia paman Suyue juga akhirnya tahu dan menentang hubungan kami. Tapi aku bersumpah setia padanya. Nyonya Muda, ini berkat kamu. Terima kasih sudah membiarkanku bertemu jodoh."
"..." Nola hanya tidak menyangka jika jodohnya adalah Suyue.
Suyue sudah selesai membeli bunga dan mengajak Sean pergi ke tempat lain. Sean pamitan dengan Nola dan mendengus pada Leon.
Tak lama, Nola juga dijemput oleh Halbert yang pulang lebih awal. Cuaca panas di siang hari. Ini akhir bulan musim panas. Nola tak terlalu suka memakai pakaian yang tebal. Saat datang ke toko bunga, dia memakai gaun longgar.
"Sayang, sudah waktunya kembali."
Halbert masuk toko bunga dengan berjalan tegak, menatap Nola yang duduk santai di sofa empuk. Jika Nola tidak memiliki keinginan kuat untuk bersantai di toko bunga Leon, ia sama sekali tidak akan mengizinkannya.
"Halbert." Nola tersenyum. Dia berdiri dan memeluknya.
Halbert berhati-hati memeluk istrinya. Takut menekan perutnya yang menonjol. Leon sudah terbiasa melihat adegan ini hingga kebal rasa malu.
__ADS_1
Ia dan Halbert harusnya adalah saingan. Tapi ... melihat keduanya, mengingatkan dia pada ibu dan ayahnya yang dulu romantis. Lupakan saja. Leon siap dihukum saat kembali ke Organisasi Supernatural Dunia.
Halbert, menatap Leon. "Terima kasih sudah menjaga istriku hari ini," katanya tulus.
"Tidak masalah." Leon menggelengkan kepala.
Pasangan itu meninggalkan toko bunga. Lalu terdengar suara Halbert dari luar.
"Tolong lemparkan kucing pemalas itu untukku."
Leon menatap Orange yang tidur tak kenal posisi saat ini. Sudut mulutnya berkedut. Kucing jingga ini mengotori mejanya lagi. Dia tak ragu mengamb Orange dan melemparkannya ke luar Tomo tanpa berperasaan.
Orange terbangun saat menyentuh tanah bertembok. Tubuhnya sakit. "Manusia bodoh mana yang melempar kucing ini??!" teriaknya.
Untungnya tak ada orang lain di sekitar. Orange masih marah dan menatap Leon di ambang pintu. Pasti orang itu lagi! Mengganggu tidur indah kucing ini!
"Masuk cepat jika kamu tidak ingin menginap di sini!" Halbert menatapnya, seperti memandang anak tiri durhaka.
"..." Sejak kapan pria itu datang? Batin Orange tidak berani melawan.
Mobil yang dikendarai Halbert tidak langsung pulang ke rumah. Mereka pergi ke toko perlengkapan bayi.
Nola bingung kenapa datang ke tempat ini terlalu awal. Usia kandungannya baru lima bulan.
"Apakah kita akan belanja perlengkapan bayi?" tanyanya.
"Ya. Ayo beli baju baju dan kebutuhan lainnya."
"Pilihlah baju unis*ks. Kita tidak tahu anak ini laki-laki atau perempuan." Nola juga keluar mobil.
Halbert ingin berkata jika anaknya pasti perempuan. Tapi memang tidak ada yang tahu di masa depan. Jika anak yang lahir adalah laki-laki, baju bayi perempuan tidak akan berguna. Dia hanya mengangguk.
Orange menunggu di pintu. Hewan peliharaan tidak diizinkan masuk di sana. Kucing itu melanjutkan tidur yang terganggu.
Keduanya menghabiskan waktu satu jam di toko dan keluar dengan tangan penuh barang. Penjaga toko membantu mereka memasukan barang ke bagasi.
Melihat mobil Rolls-Royce, penajga toko menjadi lebih berhati-hati. Ini pelanggan besar. Wanita yang sedang hamil itu beruntung memiliki suami yang perhatian dan penuh perlindungan.
Sebelumnya selama memilih barang, Halbert khawatir Nola akan lelah jadi meminta penajga toko menyiapkan kursi. Serta masih banyak lainnya.
Setelah belanja perlengkapan bayi, mereka pulang dan memutuskan untuk makan di rumah. Makanan di rumah dimasak langsung Halbert dan pelayan sendiri. Sehingga kualitasnya lebih terjamin.
__ADS_1
"Kakek, kami kembali," kata Nola sambil masuk rumah.
"Apakah kamu baik-baik saja? Ayahmu ada di sini." Kakek Jefford menghampiri mereka di ruang utama.