Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Ingin Sendiri


__ADS_3

Nola terbangun dari mimpi panjangnya. Hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit kamar. Tapi sepertinya sedikit gelap. Ia tidak mencoba untuk mengeluarkan suara atau menggerakkan tubuhnya kecuali menoleh ke samping. Di sampingnya, Halbert berbaring dan tertidur lelap.


Wajah pria itu sepertinya sedikit tidak sehat. Nola melihat aura supernatural di tubuh Halbert agak tidak biasa. Mungkin inilah aura Esper Moros yang sesungguhnya bukan? Gelap dan penuh aura kematian tapi tidak berbahaya baginya.


Nola ingat apa yang dilihatnya dalam mimpi. Halbert dan Solachen pergi ke hutan untuk belajar membangkitkan aura supernatural. Halbert ingin melindungi Nola di masa depan sehingga Solachen tidak akan terlalu khawatir lagi dengan keselamatannya.


Diam-diam, Nola menggerakkan tubuhnya yang sedikit kaku. Tidak tahu sejak kapan dia jatuh koma. Dia yakin pasti bukan waktu yang singkat. Merasakan tubuhnya sedikit kaku karena lama tidak digerakan, seharusnya ia koma seminggu? Sebulan atau setahun? Dia belum tahu.


Nola akhirnya berguling ke sisi Halbert dan tidur menyamping. Untungnya Halbert tidak bangun sehingga Nola memiliki waktu yang cukup banyak untuk mencerna semua mimpinya dalam keadaan sadar saat ini.


Tidak tahu jam berapa sekarang, kemungkinan besar sudah lewat tengah malam. Pada akhirnya, Nola juga tertidur setelah merasakan kantuk yang cukup kuat.


Keesokan paginya, Halbert bangun seperti biasanya. Pada hari-hari biasa, dia memiliki jam biologisnya sendiri. Tapi sejak Nola jatuh dalam tidur panjang, dia tidak memiliki waktu istirahat yang cukup. Baru semalam dia merasakan kantuk yang luar biasa setelah meminum segelas kopi. Dan ia cukup yakin jika dalam kopi itu terdapat obat tidur.


Siapa lagi yang berani melakukan ini selain Solachen? Hanya pria itu yang memiliki keberanian memasukkan obat tidur yang tidak bisa dia ketahui dengan kemampuan supernaturalnya. Tapi saat dia hendak bangun, tubuhnya tiba-tiba saja kaku.

__ADS_1


Halbert seperti ada sesuatu yang memeluknya. Ia hampir terjaga sepenuhnya saat melihat tangan seorang wanita memeluknya. Tapi ketika melihat sosok yang dikenalnya tertidur lelap, Halbert bahkan lebih tertegun.


“Istriku,” panggilnya hampir bangun dan mengguncang tubuh Nola.


Nola mengerutkan kening dan menggerakkan tubuhnya sebentar karena tidak nyaman. Tapi dia tidak berniat bangun sama sekali. Ia masih cukup mengantuk hingga enggan untuk membuka matanya. Ia hanya mengubah posisi tidurnya tanpa memedulikan panggilan Halbert.


Saat ini, Halbert yang merasa sangat senang tiba-tiba saja tenang kembali. Dia tersenyum pahit. Sepertinya tidak mungkin Nola siuman. Lagi pula gadis itu hanya tidur panjang tapi tidak aneh jika mengganti posisi tidurnya tanpa sadar bukan?


Halbert kembali menenangkan diri dan dia dengan hati-hati membenarkan posisi tidur Nola. Jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Ia bangkit, pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Suara shower mulai terdengar.


Halbert tidak memiliki kebiasaan berlama-lama di kamar mandi. Seperempat jam kemudian, ia keluar dengan tubuh terbungkus jubah mandi. Lagi-lagi dia tertegun saat melihat jika Nola tidak ada di tempat tidur.


Tidak ada tanda-tanda pembobolan kamar secara paksa atau jejak aura spiritual asing. Semuanya masih sama seperti sebelumnya. Halbert langsung keluar kamar untuk mencari Nola. Mungkin saja gadis itu sudah bangun dan mencari sesuatu.


Namun ia masih tidak menemukan siapapun. Butler Flir sempat bingung dengan kemunculan Halbert yang hanya mengenakan jubah mandi saja.

__ADS_1


“Tuan Muda, apakah membutuhkan sesuatu?” tanya Butler Flir sedikit ragu.


Halbert agak canggung dan menggelengkan kepala. “Siapkan sarapan seperti biasa. Hari ini aku tidak akan pergi ke perusahaan,” jawabnya berusaha tenang.


“Ya, Tuan Muda. Apakah ingin menu sarapan yang berbeda pagi ini?”


“Tidak perlu.” Halbert terlihat acuh tak acuh seperti biasanya hingga membuat Butler Flir menghela napas lega.


“Kalau begitu, aku akan segera membuatkan sesuatu untuk Tuan Muda,” katanya. Butler Flir segera membuat menu sarapan yang selalu dimakan Halbert setiap pagi.


Halbert meninggalkan dapur dan kembali ke kamar dengan kepanikan yang sengaja disembunyikan. Nola tidak ada di kamar. Lalu ke mana gadis itu pergi? Halbert yakin jika Nola sudah siuman. Tapi saat Halbert baru saja membuka pintu kamar, ia terkejut melihat sosok Nola sedang berdiri di dekat jendela besar, bermandikan cahaya mentari pagi.


Nola menoleh dan melihat Halbert yang tertegun saat melihatnya. Keduanya saling melihat satu sama lain. Kemudian Halbert berjalan cepat ke arah gadis itu.


Halbert berhenti di depan gadis itu, emosi di wajahnya dapat dirasakan oleh Nola. Tapi gadis itu tetap diam sejak awal dan tidak berniat untuk bicara dengannya. Nola memiliki pemikirannya sendiri, begitu pula dengan Halbert. Tapi pada akhirnya, Halbert memeluk gadis itu dengan erat.

__ADS_1


“Kamu akhirnya bangun!” gumamnya penuh emosi.


Nola tidak bicara dan ia masih mencerna semua mimpi yang baru saja dialaminya. Pada akhirnya, dia hanya bisa berkata dengan tenang. “Aku ingin sendiri untuk sementara waktu.”


__ADS_2