
Tidak memedulikan apa yang diperdebatkan Asisten Jae dengan Sekretaris Eli saat ini, Halbert dan Nola sibuk sendiri.
Halbert melemparkan sepatu high heels Nola ke pintu sebelumnya untuk menghentikan ketukan pintu yang tidak berarti. Sementara dia sendiri sudah menekan gadis itu di sofa panjang dengan dasi yang sudah ditarik longgar.
Keduanya terjerat untuk sementara waktu lalu pindah ke ruang istirahat. Halbert menekannya kembali di tempat tidur hingga keduanya tak berpakaian.
Waktu berlalu dengan cepat ....
Halbert membawa gadis itu ke kamar mandi untuk membersihkan diri lalu memakaikan gaun selutut yang disimpannya di lemari. Seprai diganti dengan yang baru. Semuanya dilakukan dengan rapi oleh Halbert.
Dia menanyakan AC agar ruangan tetap segar.
Nola yang kelelahan tertidur saat ini dan tidak peduli dengan apa yang dilakukan Halbert. Pria itu sudah keluar ruang istirahat dan menyalakan sebatang rokok. Dia lupa memakai dasi.
Halbert menghubungi Sekretaris Eli untuk segera datang ke kantornya.
Sejak awal, Sekretaris Eli ada di luar kantor Halbert, menunggu dengan setia hingga kakinya sedikit keram. Bos sangat tahan lama di tempat tidur. Tidak tahu apakah Nola mampu menahan gairah bosnya.
Saat menerimanya telepon dari Halbert, Sekretaris Eli sedikit panik. Lalu merapikan pakaian dan rambut. Kemudian masuk kantor Halbert dengan beberapa dokumen di tangannya.
Asisten Jae mengggelengkan kepalanya diam-diam. "Apakah semua wanita benar-benar otak cinta?" gumamnya.
Untungnya Sekretaris Eli adalah bawahan Halbert yang setia dan mengabaikan kecantikan serta ketampanan orang lain. Jika Sekretaris Eli merupakan seorang wanita yang gila dengan bosnya, Nola belum bisa dijamin aman di masa depan.
Tak lama setelah itu Sekretaris Eli keluar dengan senyum penuh.
"Kamu sangat bahagia? Apa yang dikatakan bos padamu?" tanya Asisten Jae.
"Bukan apa-apa. Nyonya bos kelelahan dan sedang tidur sekarang. Bos memintaku untuk memesan makan malam nanti."
"Bos akan lembur?"
"Ada banyak jadwal hari ini. Bos tidak bisa menganggur. Meski menjadi bos perusahaan hanyalah kedok tapi bagaimana juga Jefford Corp telah berdiri selama puluhan tahun bukan ..." Sekretaris Eli memikirkan masalah lain. Dia berbicara dengan nada pelan dengan Asisten Jae agar tidak didengar pihak lain.
"Berhati-hatilah saat memesan makan malam. Jika kamu bertemu dengan karyawan bernama Juliana itu, anggap saja tidak ada apa-apa seperti biasanya."
__ADS_1
"Aku bukan wanita impulsif. Aku tahu apa yang harus kulakukan." Sekretaris Eli mencibir padanya lalu pergi dengan sisa dokumen yang dibawanya.
......................
Hari sudah sore. Sekretaris Eli yang memiliki perawakan seksi dan ideal pergi ke restoran perusahaan dan memesan menu makan malam yang diinginkan Halbert. Pelayan di restoran sudah kenal dengannya sehingga tidak butuh waktu lama untuk menyiapkan makanan.
Di sana, Sekretaris Eli juga melihat Juliana yang sedikit linglung saat memesan secangkir kopi susu. Tapi dia tidak menyapa karena Juliana juga cukup jauh dari tempatnya. Lebih baik tidak mencari masalah dulu saat ini. Bos belum menginstruksikan apapun.
Setelah memesan makan malam, Sekretaris Eli kembali ke kantor Halbert dan menceritakan apa yang baru saja dilihatnya. Di sana, Asisten Jae juga hadir.
"Aku baru saja mendapatkan pesan dari manajer departemen periklanan jika Juliana linglung saat bekerja dan hasil pekerjaannya berantakan. Dia ditegur habis-habisan di sana," jelasnya.
"Tidak heran dia tampak kusut saat aku tak sengaja melihat nya di restoran. Apa yang salah dengannya hari ini? Bukankah pekerjaan nya sangat baik selama sebulan terakhir?"
Setahunya, Juliana ditempatkan di departemen periklanan setelah diterima sebagai karyawan. Dia sendiri yang menyerahkan lamaran kerja Juliana ke meja Halbert sebelumnya.
Manajer periklanan cukup ketat di perusahaan dan sifatnya sedikit galak pada karyawan yang melakukan banyak kesalahan sepele. Tapi di depan Halbert, manajer periklanan seperti anak ayam yang patuh pada induknya.
Jika kinerja Juliana tidak membalik selama seminggu ke depan, dia bisa ditendang dari Jefford Corp.
"Ya, Bos!"
Sekretaris Eli segera menghubungi pihak lain saat ini. Setelah percakapan singkat, pihak lain setuju. Dia menutup panggilan dan mengangguk pada Halbert.
Tak lama, makanan pesanan Halbert datang. Diantarkan langsung oleh staf restoran secara khusus. Halbert melirik jam tangannya. Sudah waktunya untuk makan malam. Gadis itu mungkin masih tidur saat ini.
Halbert segera membangunkan Nola untuk makan malam lebih dulu sebelum melanjutkan tidur. Gadis itu merenggangkan tubuhnya. Kedua kakinya lemas saat ini sehingga mau tidak mau Halbert menggendongnya.
Wajah gadis itu memerah. "Aku bisa berjalan sendiri."
"Terlalu lama bagimu untuk berjalan. Makanan akan dingin jika kamu berjalan seperti siput!"
"Bukankah kamu yang membuatku seperti ini?" Nola sedikit menuduh.
"Kamu mulai pandai menggodaku?" Halbert tersenyum datar. Dia membiarkan gadis itu duduk di seberangnya.
__ADS_1
"Tidak."
Sekretaris Eli dan Asisten Jae sudah keluar saat Halbert membawa membangunkan Nola. Keduanya tidak ingin menjadi nyamuk kurus yang butuh asupan darah.
Halbert menyiapkan piring serta makanan untuknya. Tapi saat Nola mencium aroma makanannya, ekspresi wajahnya tidak baik.
"Ada apa? Apakah kamu tidak suka makanannya?"
"Ti-tidak, bukan seperti itu. Hanya saja makanan ini ... dari mana asalnya?"
"Ini dari restoran yang ada di bawah naungan perusahaan. Makanannya higienis, jangan khawatir akan membuatmu sakit perut," jawab pria itu.
"Oh," gumam gadis itu sedikit linglung. Dia memegang garpu saat ini dan tiba-tiba saja mengambil beberapa makanan secara acak ke piringnya.
Halbert sedikit bingung dengan apa yang dilakukan gadis itu. Meski eskpresi Nola tampak tertekan saat ini, dia makan dengan sangat baik. Hanya saja pria itu merasa aneh dengan tindakan Nola yang tiba-tiba.
Tapi untungnya makan malam berjalan dengan baik. Nola menghabiskan makanannya tanpa tersisa. Halbert hanya makan sedikit. Sisa makanan di meja masih cukup banyak.
Hanya saja ekspresi Nola semakin tidak benar saat ini sehingga Halbert yang sudah lama curiga, mau tidak mau bicara.
"Ada apa denganmu? Jika kamu tidak suka makanannya, tinggal bilang sejak awal. Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk makan," katanya kesal.
"Tidak baik membuang-buang makanan," ucap gadis itu.
Halbert sedikit cemberut. "Aku punya banyak uang. Tidak masalah bagiku untuk membuang atau menyimpan makanan." Nada bicaranya sedikit sombong.
Namun tak lama setelah itu, Nola tiba-tiba bangkit dan pergi ke dapur kantor. Tapi sebelum mencapai pintu kamar istirahat, dia langsung jatuh dan membentur pintu.
Halbert segera menghampirinya dan melihat jika Nola mimisan lagi. Lalu muntah darah.
"Kamu—" Halbert tidak tahu harus berkata apa. "Apa lagi yang kamu lakukan kali ini?" geramnya.
Nola menggelengkan kepala. Wajahnya pucat. "Ada ... Ada yang salah dengan makanan di meja," gumamnya.
Makanan? Halbert mengerutkan kening dan menatap sisa makan makan di meja. Jika ada yang salah dengan makanan itu, lalu kenapa dirinya baik-baik saja?
__ADS_1