Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Nola's Cruel Side (Sisi Kejam Nola) 1


__ADS_3

Mata kiri Nola mengeluarkan darah segar saat ini, mengalir ke pipinya perlahan. Ditambah dengan senyumnya saat menatap Chelsea, rasanya seperti seorang psycho yang siap untuk menyiksanya. Tanpa sadar, Chelsea menggelengkan kepala dan berusaha untuk melepaskan diri dari Nola.


“Kamu … kamu monster! Kamu pasti monster!” teriaknya penuh ketakutan. Tidak tahu kenapa, Chelsea merasa bahwa pikirannya berantakan saat ini.


Sean tidak tahu jika mata kiri Nola mengeluarkan darah saat ini. Dia menikmatinya adegan yang tersaji di depannya. Ekspresi ketakutan Chelsea yang sangat jelas sangat menyegarkan pandangan pria itu. Jika Halbert tahu pasti sangat menyenangkan.


Akhirnya Sean mengeluarkan ponselnya dan mengambil gambar diam-diam dari sudut yang cukup bagus. Lalu kirim pada Halbert yang kini sedang sibuk dengan pekerjaannya bersama mitra bisnis.


Nola melihat Chelsea berjuang untuk melepas diri. Untuk beberapa saat, dia ingin jiwa dan pikiran Chelsea tersiksa. Entah kenapa, Nola suka melihatnya ketakutan saat ini. Rasanya sangat luar biasa. Inikah alasan kenapa orang-orang suka menggertak?


"Monster? Tidak ada monster secantik aku," kata Nola mengomentarinya. Dia mengencangkan jambakannya lagi.


Chelsea berteriak marah, berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan tangan Nola dari rambutnya. Dia benar-benar ingin meninggalkan tempat ini dan meminta bantuan. Pada akhirnya, dia mengumpulkan keberanian untuk mendorong Nola.


Kali ini Nola tidak menahannya lagi dan mundur beberapa langkah. Chelsea sudah bangkit dengan air mata berderai. Lalu berlari tunggang-langgang keluar dari tempat itu.


Nola tidak terburu-buru untuk menyusul. Dia mengusap darah segar di pipinya dan keluar ruangan. Kali ini Sean terkejut dengan apa yang diusap Nola. Darah!


Dengan otaknya yang dapat tenang lebih cepat, Sean menghubungi Halbert dan menceritakan apa yang terjadi. Tampaknya Halbert juga serius dengan masalah ini. Dia akan segera menyusul lalu meminta Sean untuk memastikan jika Nola terkendali.


Setelah menutup panggilan telepon, Sean mengambil langkah lebar untuk mengejar Nola.

__ADS_1


......................


Di lorong apartemen yang cukup panjang, Chelsea yang ketakutan berusaha untuk meminta bantuan pada seseorang yang mungkin lewat. Dia juga mengetuk beberapa pintu penghuni lainnya. Namun tidak ada satupun dari mereka yang membukakan pintu.


"Tolong! Tolong aku—!" Chelsea yang dilanda ketakutan sesekali akan melihat ke arah di mana Nola berada saat ini. Tubuhnya berkeringat dingin. Dia juga lemas.


Tapi jika diam saja, Nola mungkin akan membunuhnya.


Chelsea sekali lagi menggedor-gedor salah satu pintu penghuni lainnya. "Tolong, tolong aku! Tolong! Siapapun tolong aku!" teriaknya agak serak.


Melihat Nola semakin dekat dengan senyum santai di wajahnya, Chelsea langsung dirangsang. Rasa takutnya semakin kuat. Mau tidak mau, Chelsea akhirnya memilih untuk meninggalkan lantai tersebut.


Dia kebingungan. Tidak ada jalan keluar yang pasti. Di saat linglung dan ketakutan, Chelsea segera memasuki elevator dan menekan angka dengan gerakan panik. Untungnya pintu elevator segera ditutup sebelum Nola berhasil mencapai dirinya.


Nola menunggu tanpa rasa khawatir akan kehilangan Chelsea sama sekali. "Dia cukup cepat," gumamnya.


Seekor kalajengking hitam muncul di bahunya saat ini, mengeluarkan suara desisan kecil. Nola menoleh dan mulai mengelus capit tajamnya.


"Jangan. Kamu tidak bisa meracuninya. Bukankah berarti aku dan penjahat tidak ada bedanya?"


Kalajengking hitam supernatural itu tidak mengerti otak manusia dan segera menghilang lagi. Awalnya hanya ingin membantunya. Tapi Nola tidak mau, kalajengking hitam malas untuk melayaninya lagi.

__ADS_1


Setelah menunggu beberapa saat, Nola akhirnya memasuki elevator dan sampai di lantai dasar. Dia mendengar suara teriakan Chelsea pada penghuni apartemen yang kebetulan lewat. Chelsea menceritakan semuanya dengan panik tentang apa yang baru saja dialaminya.


Ada pembunuh di apartemen!


Chelsea berusaha untuk mengucapkan beberapa kalimat dengan bahasa Negara S yang tidak terlalu fasih. Barulah saat melihat Nola muncul, Chelsea membelalakkan mata. Lalu dia menunjuk ke arahnya.


"Dia! Dia orangnya. Dialah yang ingin membunuhku!" Tangan Chelsea gemetar saat menunjuk Nola.


Tapi penghuni apartemen yang baru saja kembali dari supermarket mengerutkan kening. Dia melihat ke arah yang dimaksud. Lalu menggelengkan kepala. Merasa jika Chelsea mungkin berhalusinasi.


"Ini ... Aku tidak melihatnya sama sekali," kata pria itu.


"Tidak—tidak mungkin! Dia jelas berjalan ke arah sini sekarang! Dia di sana, baru saja keluar elevator!" Chelsea menegaskan lagi. Dia tidak salah lihat dan hartanya tidak rabun.


Nola memang berjalan ke arahnya tanpa bantuan tongkat. Jika orang lain tak bisa melihat Nola sekarang, lalu bagaimana dengan dirinya?


"Tidak mungkin. Aku tidak melihat siapapun selain kami yang berlari ketakutan sebelumnya," kata wanita yang dihentikan oleh Chelsea.


"Bagaimana—" Chelsea masih bingung. Kini Nola sudah ada di depannya. "Jangan bunuh! Jangan bunuh aku! Aku pasti tidak akan mengulanginya lagi," jelasnya mundur sedikit demi sedikit. Air matanya juga belum kering.


"Bagaimana mungkin kamu tidak akan mengulanginya nya lagi? Kamu dikenal sebagai gadis yang suka membalas dendam untuk masalah sepele."

__ADS_1


Nola tahu jika Chelsea bukan gadis yang mudah bertobat.


__ADS_2