
Nyonya Neilson berteriak kesakitan seraya menutupi wajahnya yang kesakitan. Kali ini teriakan nya mengejutkan banyak pelayan, tak terkecuali Clive yang ada di dalam kamar. Saat Clive datang dan melihat ibunya terduduk di lantai seraya menutupi wajahnya, hatinya tidak nyaman.
Belum lagi ayahnya memegang cambuk, Clive semakin tidak mau memprovokasi ayahnya. Sudah tahu bahwa Tuan Neilson membela Nola saat ini alih-alih Chelsea. Tapi Nyonya Neilson malah melanggar garis bawah nya lagi.
"Bu, Ayah!" Clive berusaha untuk menenangkan suasana.
Tuan Neilson tahu apa yang ingin dilakukan oleh putranya. Tapi dia tidak mau seorang anak mencampuri urusan orangtuanya. Dia sedang menghukum Nyonya Neilson, ini dibenarkan. Sebagai seorang suami, dia berhak untuk memberi istrinya pelajaran.
“Kamu kembali ke kamarmu. Jangan urus masalah ini. Ayah akan segera menyelesaikannya,” kata Tuan Neilson dengan nada dingin.
Tuan Neilson menggerakkan kursi rodanya menatap Clive, penuh peringatan. Jika putranya juga masih harus membela Nyonya Neilson, dia tidak keberatan untuk menghukumnya bersama. Namun sebelum Clive berani berbicara, Nyonya Neilson masih belum bertobat dari pikirannya yang buruk.
“Ada apa? Apakah kamu juga akan memarahi putramu demi gadis buta itu? Jika kamu ingin memarahinya, kamu marahi saja aku, tidak perlu anakku!” Suara Nyonya Neilson terdengar serak hingga tenggorokannya sakit.
Terdapat bekas cambuk di wajahnya serta berdarah. Walaupun tidak terlihat parah tapi cukup mengerikan. Clive terkejut melihat wajah ibunya.
"Bu ... Wajahmu—" Clive tidak tahu apakah harus malu atau kesal. Dia sangat tidak menduga ayahnya akan langsung melukai wajah ibunya.
Tuan Neilson tidak terkejut atau merasa bersalah sama sekali. Dia malah ingin merusak wajah itu sehingga di masa depan, Nyonya Neilson tidak akan berani keluar untuk menemui Lerdy. Dia telah meminta anak buahnya untuk memeriksa apa yang terjadi sewaktu di Negara S. Dan mendapatkan hasilnya.
Di negara itu, Lerdy bersama kekasih kecilnya, membuka hotel bersama dan tidur. Nyonya Neilson memergokinya lalu dicampakkan oleh pria yang telah membodohi istrinya. Memikirkan ini saja, Tuan Neilson mengira jika Tuhan punya mata, memberi karma pada wanita berhati hitam itu.
"Ini benar-benar menjijikkan!" Tuan Neilson merasa mual saat melihat Nyonya Neilson. Dia menggerakkan kursi rodanya ke arah ruangan lain untuk menenangkan diri.
__ADS_1
Sementara Nyonya Neilson yang merasa parah dan pedih di wajahnya, mau tidak mau merasakan firasat buruk. Dia menyentuh wajahnya yang kesakitan. Ada luka yang cukup panjang.
"Cermin! Cermin! Aku butuh cermin!" teriaknya pada Clive. Tangannya ternoda darah setah menyentuh wajahnya yang terluka.
Tidak, tidak! Nyonya Neilson tidak ingin cacat. Putrinya masih tidur saat ini walaupun sesekali akan bangun dan pingsan lagi setelah tahu tidak bisa bicara. Jika Nyonya Neilson memilih wajah yang cacat, bagaimana bisa dia keluar dengan bebas di masa depan?
Nyonya Neilson menggila dan menatap Clive dengan ganas. Dia meminta cermin padanya. Mau tidak mau, Clive menggunakan ponselnya untuk membiarkan Nyonya Neilson melihat dirinya sendiri di layar kamera.
Saat melihat ada luka cambuk dari dahi kiri hingga ke dekat dagu, Nyonya Neilson berteriak histeris. Dia mengutuk Tuan Neilson dan menyalahkan nya karena merusak wajahnya. Namun Clive segera menenangkan ibunya agar tidak memancing Tuan Neilson untuk bercerai.
"Bu, kumohon diamlah! Apakah kamu ingin ayah menceraikanmu?!" Clive menggertakkan giginya.
Kenapa semuanya berjalan begitu berantakan setelah Nola lepas dari genggaman mereka? Pasti Nola mengutuk keluarga Neilson untuk balas dendam. Clive lebih percaya jika Nola membenci mereka daripada berpura-pura tidak tahu.
Adiknya menjadi bisu setelah tertabrak mobil, ditipu oleh Sean yang sejatinya anak buah Halbert. Adiknya juga bodoh dan otak cinta. pria mana pun yang tampak tampan dan kaya di matanya, Chelsea rela untuk merayu. Jelas Halbert tidak mengasihani wanita sama sekali.
"Kamu ... Apakah kamu ingin ayah dan ibu bercerai?" Nyonya Neilson yang baru saja pulih dari pikirannya langsung menatap Clive yang marah.
"Tentu saja tidak!" Clive menenangkan diri untuk mengatakan ibunya sebagai wanita bodoh. "Karena itu tenanglah. Semakin ibu membuat banyak suara dan mengganggu ayah, kerabat Neilson akan semakin mendesak ayah untuk menceraikan ibu. Jika semuanya tidak ingin terjadi, maka ibu harus tenang layaknya istri bangsawan seperti biasanya."
Clive jarang mengobrol dengan ibunya atau membuat beberapa saran. Dia memiliki pikirannya sendiri. Dulu ada Chelsea yang selalu membujuk Nyonya Neilson. Tapi kini Chelsea tidak berguna dan dia hanya bisa maju sendiri.
Mendengar ini, Nyonya Neilson tertegun dan perlahan-lahan menenangkan diri. Benar. Dia tak bisa bertingkah seperti wanita gila. Jika tidak ingin bercerai, maka dia harus tenang dan menyusun strategi lainnya.
__ADS_1
Nyonya Neilson tersenyum padanya. "Kamu benar. Ibu harus tenang sekarang."
Seraya menyentuh wajahnya yang kesakitan, nyonya Neilson diam-diam kehilangan cintanya untuk Tuan Neilson. Pria yang telah dia temani selama dua puluh tahun lebih, pada akhirnya akan menghancurkannya juga.
Jangan salahkan dia menjadi kejam di masa depan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Beberapa hari kemudian, Solachen telah tinggal di paviliun keluarga Jefford. Dia diam-diam mengamati situasi sepanjang waktu. Ia masih tinggal bersama asistennya—Mark di salah satu ruangan seraya minum teh. Tapi asistennya tidak berani minum teh saat tuannya dalam suasana hati yang buruk.
"Tuan, sepertinya keluarga Jefford ini telah diawasi selama berkala. Tapi tidak tahu siapa pihak lain. Mungkinkah ini mengincar mu?" tebaknya dengan suara pelan.
Solachen menggelengkan kepala. "Bukan. Ini bukan ditunjukkan untukku. Tapi harusnya sudah lama mengamati rumah keluarga Jefford sejak bertahun-tahun lamanya ..." Dia menyipitkan mata, lalu menyeringai. "Sepertinya ada orang yang telah menjadi mata-mata musuh di berbaur dengan keluarga Jefford."
"Bukankah dengan begitu, pasangan muda itu dalam bahaya?"
"Bisa dikatakan seperti itu. Tapi pihak lain tampaknya tidak berniat untuk menyerang lebih awal. Tidak tahu apa yang dinantikan."
Daripada memberi tahu Nola atau Halbert tentang masalah ini, lebih baik untuk mencari tahu diam-diam. Solachen meminta Mark untuk menghubungi beberapa orang kepercayaan dan meminta mereka menyelidiki.
"Lalu, apa tujuan kita di sini sekarang setelah melihat nona muda?" tanya Mark lagi.
"Setelah mengunjungi makam Noria ... Sudah waktunya untuk balas dendam atas penderitaan putriku selama dua puluh tahun terakhir. Keluarga Neilson tidak boleh hidup damai," jawabnya dengan tatapan mata yang dingin. Memikirkan putrinya yang menderita berbagai siksaan di masa lalu, Solachen sakit hati.
__ADS_1
Pada akhirnya, dia masih pria yang ingin melampiaskan kemarahan putrinya yang selalu tertahan. Nola tidak bisa marah agar tak kehilangan kendali, maka biarkan dirinya saja yang marah lalu lampiaskan pada keluarga Neilson.