Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Mansion Di Tengah Hutan


__ADS_3

Halbert keluar dari mobil setelah Nola meneteskan darahnya pada kartu nama tersebut. Secara ajaib, darah yang menetes itu seperti terserap ke dalam kartu sehingga membuat Halbert sedikit terkejut. Alih-alih larut dalam keterkejutan, Halbert justru memikirkan Nola yang harus segera mendapatkan perawatan.


Saat Halbert keluar mobil, seraya memegang kartu nama, tiba-tiba saja seorang pria berpakaian kepala pelayan berjalan keluar dari dalam hutan. Langkahnya santai, ekspresinya bermartabat dan tampaknya sangat terlatih. Kedua tangannya memakai sarung tangan putih pelayan ala pengaturan rumah bangsawan lainnya.


Ketika melihat Halbert, pria itu tersenyum. "Tolong tunjukan kartu," katanya.


Halbert memberikan kartu itu padanya. Dia yakin pria paruh baya itu merupakan pihak misterius yang dimaksud Nola. Saat pria berpakaian kepala pelayan itu melihat kartu dan memastikan tidak palsu, ekspresi wajahnya jauh lebih santai dan bersahabat.


Pria paruh baya itu menyerahkan kartunya kembali pada Halbert. “Namaku Tom, butler di rumah keluarga Scott Karena kartu itu asli, maka tuannya adalah tamu keluarga Scot kami,” jelasnya tanpa ragu langsung memberi tahu identitasnya.


Halbert tidak terlalu peduli dengan itu. Dia hanya ingin segera mengobati Nola yang terluka saat ini. “Aku bukan pemilik kartu ini, tapi istriku yang memilikinya. Dia terluka saat ini dan butuh pertolongan segera. Bicaralah nanti setelah istriku baik-baik saja,” ungkapnya dengan nada dingin tapi tidak memiliki permusuhan dengannya.


Tom mengerutkan kening saat melihat Halbert membuka pintu mobil lain dan membopong Nola yang terluka tembak di perut dan dadanya. Pria paruh baya itu terkejut untuk sementara waktu lalu segera pulih dari keterkejutannya. Dia segera membawa mereka ke dalam hutan yang cukup lebat.


Mobil yang terparkir di tepi jalan langsung seketika dihampiri pria berbaju hitam yang tidak tahu datang dari mana. Dia merupakan anak buah keluarga Scott. Mobil itu dibawa ke suatu tempat yang cocok untuk parkir agar tidak ditemukan orang lain.


Sementara itu Halbert sendiri mengikuti Tom tanpa bertanya lebih dalam. Tak lama setelah itu Halbert dan Nola merasakan hawa panas menerpa tubuh. Rasanya baru saja memasuki suatu penghalang tipis yang tak terlihat. Lalu di depan mereka disuguhkan dengan pemandangan mansion putih tiga lantai. Halaman luas dengan banyak dekorasi, air mancur tiga tingkat di tengah halaman dan ada dua paviliun di kiri dan kanan mansion.


Pemandangan tersebut mengejutkan Halbert untuk sementara waktu. dia baru saja membawa Nola melewati pagar tanaman merambat yang menggantung di menghalangi jalan. Namun ketika melewati tanaman merambat tersebut, pemandangan di depannya sudah berubah.


Ada mansion besar di dalam hutan yang seharusnya tidak ada bangunan apapun. Lalu dia ingat apa yang dikatakan Nola sebelumnya jika keluarga supernatural memiliki banyak kemampuan sesuai dengan bakat yang dipelajari.


Tom tidak terkejut seolah-olah hal tersebut sangat biasa. “Selamat datang di halaman keluarga Scott. Mari, aku akan memberi tahu tuan tentang kedatangan kalian dan meminta dokter keluarga untuk datang.”


Tom membawa mereka memasuki mansion. Pelayan di rumah tersebut sangat sopan serta professional. Melihat Nola yang berlumuran darah, pada pelayan tidak takut atau menunjukkan ekspresi terkejut.

__ADS_1


Pelayan membawa mereka ke sebuah kamar tamu yang selalu dibersihkan setiap hari. Sedangkan Tom pergi sambil membawa kartu nama yang diberikan Halbert.


......................


Di ruang belajar yang ada di lantai tiga, Tom mengetuk pintu dan masuk setelah mendapatkan tanggapan dari dalam. Dia menyerahkan kartu nama berisi alamat rumah keluarga Scott yang tidak bernama.


“Tuan, mereka adalah sepasang suami istri. Dan gadis yang dibawa pria itu terluka tembak di dada dan perut, masih hidup tapi kehilangan banyak darah,” lapor Tom seraya sedikit membungkuk pada tuannya.


Di sofa empuk mahal, seorang pria setengah baya duduk bertumpu kaki, mengapit sebatang rokok dan mengambil kartu nama yang diserahkan Tom. Rambut pria setengah baya itu telah ditumbuhi banyak uban. Dia memiliki rasa keagungan di tubuhnya yang telah tertanam sejak kecil.


Asap rokok keluar dari mulutnya. Jaley Scott mengusap permukaan kartu nama itu lalu menyipitkan mata. Lalu terkejut bercampur dengan rasa bingung.


“Darah Whitemir? Siapa di antara keduanya yang merupakan keturunan keluarga Whitemir?” tanyanya dipenuhi rasa terkejut.


Tom mengingat penampilan keduanya. “Seharusnya gadis itu. Dia memiliki mata abu-abu yang sama dengan wanita keturunan keluarga Whitemir lainnya.”


Jaley Scott bahkan lebih bingung. Melihat hal ini, Tom penasaran.


“Tuan, apakah ada yang salah?” tanyanya.


“Kartu ini aku berikan pada wanita tua dari keluarga Whitemir sebelumnya sebagai bentuk ikatan persahabatan. Dia seharusnya tidak memberikan ini pada orang lain sembarangan …” Jaley Scott mengingat masa mudanya dulu. “Kalau begitu, urus dengan baik. Aku akan bicara dengan mereka nanti.”


“Ya. Soal luka gadis itu ….”


Jaley Scott tidak terlalu peduli saat ini namun ada rasa gugup di hatinya. “Biarkan dokter keluarga melakukan perawatan untuknya dengan baik. Lalu biarkan mereka beristirahat di lantai tiga. Karena itu keturunan keluarga Whitemir, maka harus diperlakukan dengan baik.”

__ADS_1


Adapun tujuan keduanya datang, Jaley Scott belum tahu. Lebih baik merawatnya lebih dulu saat ini.


Tom segera pergi untuk membuat pengaturan tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pada hari berikutnya, Nola telah dirawat oleh dokter keluarga yang memiliki kemampuan vitakinesis. Dia hanya perlu membalut luka setelah peluru dikeluarkan dari tubuhnya. Nola dan Halbert pindah ke lantai tiga sebelumnya dan bisa melihat pemandangan pagi yang indah.


Di luar, selain halaman yang luas, mereka juga melihat pepohonan rindang di sekitar. Mereka berada di tengah hutan saat ini, jauh dari kehidupan manusia lainnya.


Hutan dan jalan raya tempat Halbert berhenti sebelumnya sangat jauh. Namun berkat bimbingan Tom sebelumnya, mereka bisa sampai di tempat ini dengan selamat.


“Benar-benar di tengah hutan,” kata Nola seraya menyaksikan matahari terbit di ufuk timur.


“Ya.” Halbert juga mengakui itu. Dia memeriksa balutan di dada dan perut gadis itu. "Apakah kamu merasa tidak nyaman?"


"Tidak, aku baik-baik saja. Ini hanya luka tembak." Nola menggelengkan kepala.


"Kamu kehilangan banyak darah sebelumnya." Halbert menyipitkan mata. Jika Nola hanya gadis biasa yang ketakutan atau mungkin cerewet. Betapa repotnya dia di masa depan.


Untungnya Nola bukan gadis yang seperti itu saat ini. Meski sejak awal Nola memang takut padanya dan jarang berkomunikasi, tapi sekarang berbeda. Bahkan jika Nola tidak mengubah sifat, Halbert akan lebih sabar merawatnya. Semua itu karena dia jatuh cinta pada Nola.


Untungnya kali ini luka tembaknya tidak memengaruhi bagian rahim sehingga di masa depan, Nola masih bisa hamil dengan aman.


"Apakah kamu tahu tentang keluarga Scott?" Halbert membuka percakapan di pagi hari.

__ADS_1


__ADS_2