Istri Buta Pembawa Keberuntungan

Istri Buta Pembawa Keberuntungan
Istri yang Merajuk


__ADS_3

Halbert menatap Solachen dengan tidak senang. Seharusnya dia tidak perlu menyetujui ide Solachen untuk menguji kekuatan Lucas. Meski anak itu kuat, tapi hati seorang ibu tidak pernah sekejam itu pada anaknya.


Nola benar. Lucas masih bayi. Seberapa kuatnya anak itu, seharusnya tidak menggunakan Lucas sebagai umpan.


"Ada apa? Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Solachen.


"Ayah, rencanamu terlalu kejam untuk menggunakan Lucas. Lihat, sekarang Nola marah padaku, menuduhku tidak menyukai anak itu karena bukan anak perempuan."


"..." Solachen terdiam. Jadi, apakah ini salahnya?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Halbert tidur di kamar tamu setelah Solachen kembali. Di pagi hatinya, dia bangun dalam keadaan setengah mengantuk. Namun masih ingat jika dia harus mengurus Lucas pagi ini.


Tidak tahu apakah Nola masih marah atau tidak padanya.


Solachen sendiri diabaikan oleh ibu dan anak itu. Nola mengurus semua kebutuhan Lucas. Tidak peduli dengan keberadaan Halbert atau Solachen.


Kakek Jefford merasa ada yang aneh di antara mereka. Apakah ada sesuatu yang tidak diketahui semalam?


"Kenapa dengan kalian berdua? Apakah Nola marah?" tanyanya saat melihat kedua pria itu berjalan ke ruang keluarga.


Kakek Jefford ada di sana dan menonton televisi setelah sarapan.


"Nola sedang marah padaku dan ayah," jawab Halbert.


"Marah? Kenapa kamu membuatnya marah?"


Halbert dan Solachen menceritakan apa yang mereka lakukan semalam sehingga hampir membuat Lucas dalam bahaya. Tanpa diduga, Kakek Jefford mengambil tongkatnya dan memukul kedua pria itu tanpa ragu.


Tidak peduli apakah Solachen adalah ayah cucu menantunya atau bukan, jelas sama-sama ceroboh.


Keduanya mendapatkan pukulan yang tidak sedikit. Butler Cello merasa sedikit kesemutan di kepalanya. Ia juga pernah dipukul seperti itu oleh Kakek Jefford saat melakukan kesalahan sebelumnya.


"Ini memang salah! Humph! Untung saja Lucas tidak mengalami masalah. Jika sampai mengalami sesuatu, Nola mungkin akan memilih mencari tempat tinggal baru yang lebih layak!"


"Kakek!" Halbert tidak suka dengan kalimat itu.


"Kamu juga tidak mau bukan? Kali ini aku tidak bisa membantu kalian. Pikirkan cara sendiri," katanya.


Halbert dan Solachen tidak marah. Keduanya menenangkan diri lebih dulu. Berpikir, bagaimana cara membujuk Nola yang masih marah pada mereka. Bahkan tak mengizinkan mereka menggendong Lucas.

__ADS_1


Tak lama, mereka mendengar suara tangisan Lucas dari kamar. Tangisan itu tidak berhenti-henti. Halbert berinisiatif untuk melihatnya sendiri.


Di kamar, Nola sedang menenangkan Lucas yang menangis. Sudah minum susu, mandi dan berpakaian bersih. Sekarang tidak tahu apa yang salah dengannya lagi.


"Sayangku, apakah kamu tidak nyaman? Apakah kamu sakit?" Nola merasakan suhu badan Lucas sedikit panas. Bahkan wajahnya juga agak memerah daripada biasanya.


Halbert datang dan menghampirinya. "Biarkan aku memeriksanya."


Nola menatap Halbert, sedikit enggan untuk menyerahkan Lucas. Tapi melihat anak itu tampak tidak nyaman, dia menyerah.


Akhirnya Halbert bisa menggendong Lucas pagi ini. Dia memeriksa suhu tubuh anak itu.


"Lucas demam. Aku akan memanggil dokter keluarga untuk datang," katanya.


Kini giliran Halbert yang mencoba menenangkan anak itu. Setelah anak itu sedikit lebih tenang, Halbert menatap Nola dengan permintaan maaf.


"Lucas mungkin masuk angin dan kedinginan semalam. Maaf," katanya.


Nola tidak mengatakan apa-apa. Lebih tepatnya, dia tidak tahu harus berkata apa. Ini juga salahnya semalam karena tidak menjaga Lucas dengan baik.


Tak lama Dokter Keluarga datang. Dia memeriksa kondisi bayi itu dengan hati-hati. Memang demam. Jadi, Dokter Keluarga melakukan penanganan pertama.


"Mari kita lihat dulu. Jika sore nanti, kondisinya membaik, maka hanya perlu memberinya kompres saja."


Dalam hati, Dokter Keluarga berkata. Ini hanya demam ringan, kompres saja sudah cukup. Tapi Tuan Muda sangat protektif.


Setelah memastikan jika Lucas sudah dalam perawatan yang benar, Dokter Keluarga juga akhirnya pergi. Nola masih tidak mau bicara dengan Halbert saat ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mo Shige sedang dalam keadaan yang tidak baik saat ini. Dia bukan hanya mengalami cedera internal saja, tapi juga fisik. Pagi ini, dia sudah muntah darah tiga kali hingga wajahnya bertambah pucat.


Para utusan sangat tidak berdaya. Mereka tidak tahu harus melakukan apa.


Mo Shige hanya bisa berbaring di tempat tidur. Dia mengusir semua utusannya.


"Aku akan berkultivasi. Jangan ganggu aku selama waktu yang ditentukan. Ingatlah untuk menjaga tempat ini." Mo Shige memberi perintah para mereka.


Para utusan tentu saja langsung mematuhinya. Mereka meninggalkan kamar besar Mo Shige.


Adapun Mo Shige, dia menggertakkan gigi. Kekuatan Solachen tidak kecil. Ia bahkan bisa melukainya begitu dalam. Belum lagi masih ada bayi itu.

__ADS_1


"Aku pasti akan membunuh mereka!" gumamnya.


Mo Shige tidak tahu jika Solachen sudah mulai bergerak saat ini. Anak buah Solachen juga tidak lagi menahan diri.


Mereka mulai menyelinap ke ruang penyimpanan lampu jiwa para anggota yang bersumpah ....


Para utusan masih belum tahu tentang masalah ini.


Pada malam harinya, mereka menemukan beberapa anggota yang tiba-tiba saja pingsan atau mati karena serangan jantung. Penyebabnya masih belum diketahui.


"Apa yang terjadi pada mereka?" tanya salah satu utusan ketika memeriksa mayatnya.


Anggota lain juga bingung sekaligus takut. "Kami juga tidak tahu apa yang salah. Dia hanya mengeluh sakit di dadanya kemudian jatuh begitu saja. Saat kami periksa, dia sudah mati."


"Gejala nya sama seperti penyakit jantung," kata utusan lain.


"Tapi tidak mungkin mendadak serangan jantung begitu saja."


Baru saja berkata demikian, salah satu dari mereka kini juga mengalami gejala yang sama. Kali ini tepat di depan mata sendiri, para utusan akhirnya menganggap ini sangat serius.


Belum sempat mengatakan sesuatu, orang yang terkena serangan jantung itu langsung tewas di tempat.


"Ini gawat! Kita harus memberi tahu Tuan," kata salah satu dari mereka.


"Tapi kita tidak bisa mengganggu proses penyembuhan pemimpin."


"Beri tahu saja. Ini sangat serius. Tuan harus tahu tentang ini." Utusan yang paling senior akhirnya memberi keputusan akhir.


Mau tidak mau, mereka pergi ke tempat di mana Mo Shige sedang memulihkan diri.


Ketika Mo Shige yang sibuk memulihkan diri mendengar ketukan pintu, ia tentu saja merasa terganggu. Bukankah sudah bilang untuk tidak mengganggunya? Apa lagi sekarang?


Setelah mengizinkan mereka masuk, akhirnya salah satu utusan memberi tahu apa yang tengah terjadi malam ini.


"Apa katamu?!! Beberapa anggota kita mengalami serangan jantung mendadak dan mati di tempat?" Mo Shige yang berbaring akhirnya bangkit. Walaupun tubuhnya kesakitan, tak ada yang lebih penting daripada kematian para anggota.


“Ya, Tuanku. Kami tidak tahu apa penyebab utama kematian mereka.”


Mo Shige terdiam. Dia meminta mereka untuk pergi ke ruang penyimpanan lampu jiwa. Meski mereka tidak tahu alasannya, tentu saja masih pergi untuk memeriksa.


Barulah saat itu mereka menemukan apa yang sebenarnya terjadi dengan kematian anggota mereka. Ketika tahu jika beberapa lampu jiwa sudah tidak ada di tempatnya, Mo Shige muntah darah lagi.

__ADS_1


__ADS_2