
Stella berjalan perlahan ke halaman mendekati suaminya.
"Aku tutup dulu, dia datang," Alvin segera menutup teleponnya begitu melihat bayangan Stella dikakinya.
Cahaya bulan bersinar terang, mengalahkan cahaya lampu. Bayangan tubuh Stella terlihat berjalan kearah Alvin.
Untung aku segera menyadarinya, bayangannya menyelamatkan aku kali ini, gumam Alvin.
"Mas, kamu telepon siapa malam-malam begini? Kok senyum-senyum gitu?"
"Ohh, itu....temanku. Dia bercanda ditelepon," kata Alvin.
"Ohh gitu, duduk sini Mas, Esther lagi tidur," kata Stella yang merindukan duduk berdua bersama suaminya bertaburkan cahaya bintang dimalam hari.
"Malam ini indah ya mas," Stella menyandarkan kepalanya di bahu Alvin. Mereka duduk diatas rumput didepan rumah Stella.
"Bagaimana perasaan mu setelah kita punya anak?" Alvin membelai rambut panjang Stella.
__ADS_1
"Aku sangat bahagia Mas. Esther adalah hadiah dari Tuhan. Aku berdoa setiap hari agar bisa hamil, tapi tanpa hamil pun aku mendapatkan seorang anak yang cantik, aku sangat bahagia Mas,"
Alvin lalu meremas tangan Stella. Membuang mukanya kearah lain. Ada getir dalam tenggorokan nya.
Maafkan aku, aku terpaksa menyembunyikan rahasia anak itu, siapa orang tuanya. Semua itu demi kebahagiaan mu, kata Alvin dalam hati.
Sementara, dirumah mertuanya, kedua adik Alvin ngeyel jika Stella tidak hamil, jadi mana mungkin punya anak.
"Aku tetap tidak percaya jika istrinya mas Alvin hamil. Mana mungkin. Satu bulan lalu aku melihatnya di supermarket, dan badanya biasa aja. perutnya juga tidak terlihat gemuk. Tiba-tiba, dia melahirkan. Ini tidak masuk akal,"
"Kau pasti salah lihat, ibu datang sendiri dan melihat kalau bayi itu mukanya sangat mirip dengan kakakmu. Lalu, jika itu semua tidak benar, apakah bayi itu turun dari langit?" Ibunya kesal karena kedua anak perempuannya ngeyel dan tidak percaya jika Stella hamil dan punya anak.
Cetus adik kedua Alvin. Ibu Viar nampak merenung. Memikirkan perkataan terakhir anak keduanya.
"Benar juga yang kau katakan. Jika dia hamil, kenapa tidak mengadakan acara tujuh bulanan dan mengundang kita? Kenapa tiba-tiba punya anak? Besok ibu akan kesana untuk menanyakannya,"
Ibunya lalu bangkit dan kedapur. Mencuci tangan sambil memikirkan cucunya itu apakah benar anak Alvin, atau di ambil dari panti asuhan.
__ADS_1
"Awas saja. Jika dia sampai mengambil dari panti asuhan. Aku akan mengusirnya bersama bayi itu. Aku mau darah daging Alvin. Bukan anak orang lain yang tidak ada hubungan darah," umpat Ibu Viar kesal sambil mengelap kering tangannya yang basah.
"Kak, menurutmu, apakah itu anak mas Alvin?"
"Yakin seratus persen bukan. Pasti ini akalnya Stella. Kau ingat kan, dia itu mata duitan. Dia mau menguasai harta Mas Alvin. Mas Alvin itu gajinya besar, pasti uangnya di kirim kerekening istrinya semua. Cepat kaya dia," rutuk adik kedua Alvin.
"Iya, gaji Mas Alvin itu besar. Kenapa kita sekarang malah tidak dikasih jatah bulanan. Mas Alvin biasanya akan kasih kita masing-masing satu juta, tapi sejak di pengaruhi oleh istrinya, jadi pelit sama adik sendiri,"
"Kalian lagi ngomongin Alvin? Kalian itu sudah punya suami. Suruh suami kalian bekerja yang rajin dan ulet. Jangan kerjaannya cuma nongkrong dan main musik saja. Emang kalian seumur hidup mau andalan kakak kalian saja. Kalau ibu sudah tiada bagaimana nasib kalian. Sekarang ada ibu, yang membantu ekonomi kalian berdua. Mumpung ibu masih ada, suruh suamimu kerja seperti kakakmu. Kerja keras banting tulang, berkorban demi keluarga. Jangan kerjaannya cuma begadang tidak jelas!"
Omel ibu Viar saat mendengar mereka berdua membicarakan Alvin, kakaknya.
Sebagai ibu, dia juga ingin kedua anak perempuannya hidup bahagia dan suaminya bertanggung jawab.
Jika dia sudah tua, melihat anak-anaknya hidup mapan dan bahagia. Maka semua itu sudah lebih dari cukup untuk membuat hatinya tenang.
"Sekarang pergilah ke kamar kalian, dan bicarakan hal ini pada suami kalian. Kerja dan bertanggung jawab, karena memberi nafkah adalah tugas lelaki, sebagai pemimpin rumah tangga. Bukan tugas ibumu atau mertuamu,"
__ADS_1
"Iya, iya...lagi ngomongin Mbak Stella, dan Mas Alvin. Kok jadi ibu ngomelnya ke kita dan suami kita," kata kedua anak perempuannya tersungut lalu masuk kekamar masing-masing.
Ibu Viar hanya bisa menarik nafas berat, melihat kedua anak perempuannya yang manja dan dapat suami sama manjanya, juga pemalas.