
Seminggu telah berlalu, selama itu pula Renata ataupun Reza tak melihat Sila, sejak pertemuan hari itu, saat meminta contekan tugas. Namun, Reza maupun Renata tak ambil pusing, mungkin dia sedang sakit atau ada kepentingan mendadak yang membuat nya tak bisa masuk kelas.
Hari ini juga, Dimas pulang. Baru saja anak dan Ibu itu turun dari pesawat yang membawa mereka dari kota Ambon kembali ke Bandung. Setelah menempuh beberapa jam, akhirnya pesawat itu landing dengan selamat.
"Mi, Dimas mau ke apartemen nya Sila ya?"
"Nanti aja, ke rumah dulu. Kan bisa nanti siang atau sore, istirahat dulu." Jawab Mami Erika, membuat Dimas mengangguk lesu.
Kedua nya pun pulang setelah selesai mengurus urusan kepulangan, Erika memesan taksi online dan tak butuh waktu lama taksi itu datang.
Anak dan ibu itu pun pulang ke rumah mereka dengan menggunakan taksi online. Setelah sampai di rumah, Dimas langsung berpamitan untuk mengistirahatkan tubuh nya yang terasa lelah, duduk berjam-jam di dalam pesawat jelas saja membuat pinggang nya pegal.
Hanya butuh beberapa menit saja bagi Dimas untuk memejamkan mata nya, dia tertidur lelap melupakan sejenak rasa rindu yang melanda hatinya.
Kerinduan pada sang kekasih yang selama satu Minggu ini dia tinggal demi bisa menghadiri pernikahan putri bibi nya yang menikah.
Tentu saja Dimas merindukan Sila, apalagi sebelum berangkat ke luar kota, kedua nya sempat memadu kasih dengan cara bertukar keringat dan cairan kenikmatan, membuat Dimas mabuk kepayang.
Malam itu Dimas di buat candu oleh permainan Sila yang seolah sudah terbiasa menggoyang batang yang menusuk ke dalam lubang nya. Seketika rasa ragu pun hilang, terganti dengan rasa nikmat yang membuat nya mabuk kepayang.
Sedangkan di kost an nya, Renata senyam-senyum sendiri, dada nya berdebar setelah membaca pesan dari Dimas, pria pujaan nya. Dia mengatakan kalau dia sudah pulang dan saat ini sudah di rumah dengan keadaan baik-baik saja. Dia juga berjanji akan menemui Renata nanti malam.
"Syukurlah kamu sudah kembali dengan baik-baik saja, Dim." Gumam Renata, gadis itu sedang sibuk memasak untuk menyambut kedatangan Dimas nanti malam. Dia begitu antusias untuk bertemu dengan pemuda yang selama ini menghuni hatinya.
Sore harinya, Dimas terbangun dari tidurnya. Dia bangkit dari rebahan nya, meraih handuk di atas rak lalu melangkah pelan ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
Hanya butuh waktu 15 menit saja, Dimas sudah selesai membersihkan tubuhnya di bawah guyuran shower. Dia bersiul, mengambil pakaian santai dari lemari dan memakai nya dengan cepat. Menyisir rambut nya, tak lupa mengoleskan gel di rambut nya agar lebih rapi.
Setelah beberapa menit berlalu, kini Dimas sudah siap dengan penampilan santai nya. Dia bergegas keluar dari kamar nya, meraih kunci motor dari meja lalu berniat pergi.
__ADS_1
"Mau kemana? Udah ganteng, rapih, wangi." Tanya Mami Erika.
"Ngapel ke rumah Sila, Mi. Bentar kok, nanti pulang jam delapan."
"Gak ke Renata dulu?"
"Nanti habis dari Sila baru ke Rere." Jawab Dimas sambil cengengesan, Sila adalah nomor satu bagi Dimas saat ini.
"Nih, Mami nitip oleh-oleh buat Rere." Mami Erika mengulurkan satu buah paperbag berukuran sedang.
"Buat Sisil mana, Mi?"
"Gak ada, kamu beli aja sendiri." Ketus Mami Erika sambil berlalu meninggalkan sang putra yang masih mematung di tempatnya.
"Huh Mami, ada-ada aja." Gumam Dimas sambil menggelengkan kepala nya.
Dia kembali berjalan dan memanaskan motornya lalu pergi, tujuan utama nya adalah pergi ke apartemen Sila, sang kekasih. Dia sudah sangat merindukan perempuan cantik itu.
Pemuda itu menghentikan motor nya di parkiran apartemen, dia menitipkan paperbag berisi oleh-oleh dari mami nya untuk Renata pada satpam, bisa berabe nanti kalau Sila mempertanyakan mana oleh-oleh untuknya nanti.
Dimas melangkah cepat ke unit apartemen milik sang kekasih dengan menggenggam seikat bunga mawar untuk Sila.
Dia menekan password apartement milik Sila lalu membuka nya dengan cepat saking antusias nya, namun sedetik kemudian dia di buat melotot.
"Aaahhh Ken, nikmat sekali." Gadis yang dia rindukan sedang berbaring di tengah karpeg bulu di ruang tamu dengan keadaan polos tanpa sehelai kain pun dengan seorang pria yang menindih nya, bergerak memaju mundurkan batang miliknya.
"Yeaahh Baby, mendesaah lah lebih kuat lagi, memohon lah." Pinta Ken dengan semangat menghujam inti milik Sila yang sudah banjir.
Tanpa kedua nya sadari, ada sepasang mata yang melihat adegan itu dengan mata berkaca-kaca. Hati nya terasa sakit bagai di tikam ribuan pedang yang membuatnya berdenyut, menyaksikan kekasihnya sedang bergumull dengan pria lain di depan mata nya sendiri.
__ADS_1
Sedangkan sepasang pria dan wanita itu sibuk dengan kenikmatan duniawi yang membuat mereka melupakan segalanya.
"Sayang.." panggil Dimas lirih, dia menjatuhkan buket bunga yang dia genggam. Membuat suara yang membuat kedua nya langsung menoleh berbarengan ke arah suara.
"Dimas.."
Ken buru-buru melepas penyatuan nya dan pergi ke kamar, sedangkan Sila gelagapan sendiri, dia mencari kain untuk menutupi tubuh nya sendiri.
"Aku mengganggu mu ya? maaf. Kalau begitu aku pergi dulu, ini bunga untukmu, maaf kalau ada yang rusak karena aku menjatuhkan nya tadi." Dimas bersiap pergi, dia memegang handel pintu dan bersiap menariknya, namun Sila langsung memeluk Dimas dari belakang.
"Maafin aku, Sayang."
"Gak usah minta maaf, aku pergi dulu." Jawab Dimas pelan.
"Sayang, aku sungguh-sungguh minta maaf! Itu tak di sengaja, dia teman sekolah ku dulu."
"Teman sekolah? Apa perbuatan kalian itu bisa disebut wajar, hah? Pikir pake otak Sil. Lo pacar gua, tapi Lo malah maen sama temen Lo itu, seenggaknya pikirin perasaan gua Sil." Kali ini amarah Dimas meluap sudah.
"Sayang, dengerin aku dulu. Dia duluan yang menggoda aku."
"Lo yang gatel, kalo Lo gak gatel pasti gak bakal lakuin itu. Lagian gua liat tadi kalian begitu menikmati, sampe Lo ngedesaah beberapa kali. Gue denger, Sila." Bentak Dimas.
"Sayang, kamu bentak aku? Aku minta maaf, iya aku salah udah ngelakuin itu sama cowok lain, aku minta maaf Dimas."
"Cukup Sila, hati gua sakit. Mulai saat ini kita putus!" Pekik Dimas, lalu dengan sekali tarikan dia menghempas tangan Sila dan pergi dengan membawa kemarahan yang membara dalam dada nya.
Sila buru-buru mengenakan kembali pakaian nya, lalu keluar berniat mengejar Dimas, namun terlambat karena pemuda itu sudah pergi dengan mengendarai kuda besi nya sangat cepat.
"Sial, Lo bodohhh Sila, bodoh!" Rutuk Sila sambil memukuli kepala nya, setelah ini apa yang akan terjadi? Dia tak bisa memanas-manasi Renata lagi, lalu dengan cara apalagi dia bisa membuat Renata menderita?
__ADS_1
…
🌷🌷🌷🌷🌷