
Renata pergi ke tempatnya bekerja dengan menggunakan ojek seperti biasanya. Dia memang sudah membuat lamaran kerja dan menyebar nya di beberapa perusahaan, namun kebutuhan hidup tak bisa di abaikan.
Jadi untuk sementara dia bekerja di cafe saja dari pada nganggur sembari menunggu lamaran nya di terima atau tidak.
"Makasih ya, Pak. Ini ongkosnya," ucap Renata, dia memberikan uang dan masuk ke dalam cafe.
Dia berganti pakaian dan memulai pekerjaan nya seperti biasa.
Sedangkan di lain tempat, tepatnya di rumah besar miliki keluarga Argantara, Reza masih menikmati sarapan nya bersama kedua orang tua nya.
"Jadi, kamu yakin ingin bekerja di kantor?" Tanya Mommy Mariska.
"Iya Mom, Reza kan udah dewasa. Lagian Reza perlu banyak uang buat nikahin Renata nanti." Jawab Reza di sela makan nya, pria itu nampak sangat tampan dengan kemeja berwarna biru, celana bahan hitam.
"Kamu yakin mau nikah sama Renata, Sayang?"
"Iya dong, kenapa?" Tanya Reza.
Baik Mariska atau Argan tak ada yang menjawab, itu membuat Reza salah paham dan menyangka orang tua nya tak mengizinkan nya menikahi Renata karena status nya.
"Apa kalian gak merestui aku sama Renata? Kenapa, apa karena status nya?" Tanya Reza lagi, membuat Mariska tersenyum kecil.
"Kami sangat merestui kamu sama Renata, Sayang. Tapi saat ini dia belum resmi bercerai dengan suaminya, sebaiknya kamu jangan terlalu dekat dulu dengan Renata."
"Apa yang di katakan Mommy benar, Reza. Mau bagaimana pun, status Renata sekarang masih istri Dimas, belum resmi cerai. Jadi ada baiknya kalian menjaga jarak, agar tak menimbulkan fitnah." Argan ikut menjawab pertanyaan Reza.
"Pikiran orang-orang itu berbeda dengan cara pandang kita, kita tau Renata kenapa dengan suaminya, tapi orang lain belum tentu tahu. Bisa saja mereka menyalahkan kamu atas perpisahan Renata dan Dimas, sayang. Bersabar dulu ya, kalau sudah jodoh gak bakal kemana." Ucap Mariska lembut sambil mengusap punggung sang putra.
"Iya Mom, Reza kan baru ketemu Rere lagi setelah seminggu kita gak ketemu." Jawab Reza.
"Iya, kalo Renata nya udah resmi langsung gas aja, takutnya keburu di rebut orang. Renata itu tipe wanita sempurna, jadi Papi yakin bukan cuma kamu yang mau Renata, tapi masih ada pria lain."
"Issshh Papi, kok ngomong nya gitu sih? Jangan nakut-nakutin Reza dong, pokoknya Reza pasti dapetin Renata." Jawab Reza bersemangat, membuat kedua orang tua nya terkekeh.
"Yaudah, ayo selesaikan sarapan nya dan pergi ke kantor, sudah hampir jam 8 tuh."
"Iya Mom." Jawab Reza dan Argan serempak.
Setelah menyelesaikan acara sarapan, kedua laki-laki berstatus ayah dan anak itu pun pergi dengan satu mobil yang sama.
Sedangkan di kantor, Dimas sedang melamun, sambil menumpukan dagu nya ke gagang sapu yang sedang dia pegang.
Perceraian nya dengan Renata sudah di depan mata, besok adalah hari dimana dia harus melepaskan Renata. Dia tak bisa maju atau mundur lagi sekarang.
__ADS_1
"Ngelamun aja, ayo kerja." Cetus Arman membuat lamunan Dimas buyar seketika.
"Eehh iya.." jawabnya lalu kembali menyapu ruangan dengan cepat, karena jam kerja akan segera di mulai.
"Gue perhatiin, sejak Lo nikah sama Bu Sisil, wajah Lo asem Mulu, kenapa?" Tanya Arman membuat Dimas menoleh.
"Apa iya? Perasaan kagak deh."
"Goyang nya kurang hot ya?" Celetuk Arman membuat Fadly refleks memukul Arman dengan kemoceng yang sedang dia pegang.
"Apaan sih, kan cuma nanya."
"Nanya nya keterlaluan Lo, gak pantes di tanyain jomblo kek Lo." Jawab Fadly membuat Arman mendengus.
"Gua gak bergairaah sama dia sekarang, beda aja rasanya. Pas masih jadi selingkuhan sama udah jadi istri, gak nafssu gue lihat nya juga."
"Karma selingkuhin istri itu, Dim. Lagian Lo Maruk sih, di kasih istri perfect malah di buang, eehh dapetnya modelan Bu Sila. Gue liat kemaren dia masuk ruangan CEO tau gak, lama anjir satu jam an. Pas keluar baju nya berantakan parah, gak tahu habis ngapain tuh." Jelas Fadly panjang lebar.
Namun yang membuat Dimas heran adalah, Sila masuk ke ruangan CEO dan berlama-lama disana? Ngapain aja disana? Itu yang jadi pertanyaan nya saat ini.
"Gak usah ngejelek-jelekin, istri gue gak mungkin macem-macem, gue gak bakal percaya sebelum liat sendiri." Tegas Dimas, membuat Fadly terkekeh.
"Gak ada guna nya juga buat gua, ngapain? Kek Lo sama Bu Sila itu orang penting aja, kerjaan gue banyak." Ujar Fadly santai.
Keesokan harinya, Renata berangkat sendiri ke pengadilan, dia mengenakan kemeja berwarna putih dan celana kulot jeans. Dia merasakan dada nya berdebar tak karuan, padahal dia hanya tinggal mengambil akta cerai dan surat kuning, lalu pulang.
Tak lama kemudian, Dimas datang bersama Sila yang selalu mengekor di belakang Dimas. Namun ekspresi Dimas terlihat datar, tak ada raut wajah kebahagiaan sama sekali.
Tapi apa peduli Renata? Tidak, pria itu saja tak peduli padanya, jadi buat apa dia peduli? Omong kosong.
"Hai Renata.." sapa Sila, membuat Renata berdiri dari duduknya.
"Hai juga, Sil." Balas Renata.
"Apa kabar?"
"Seperti yang kamu lihat aku sangat baik, dan akan lebih baik lagi jika aku tak pernah melihat kalian." Jawab Renata pedas.
"Renata.."
"Ya, kenapa?" Tanya Renata pada Dimas.
"Semoga setelah ini kamu bahagia ya? Maaf aku menyia-nyiakan mu."
__ADS_1
"Aku pasti bahagia tanpa mu, Dimas. Terimakasih sudah membuat mental ku kuat." Jawab Renata.
Tak lama kemudian, nama nya dan Dimas di panggil. Mereka pun berjalan beriringan dengan Renata berjalan di depan Dimas.
Dia mengambil akta cerai dan surat-surat lain yang sekiranya penting, lalu keluar lebih dulu.
Tadinya Renata ingin langsung pulang, namun sayang Sila mencegat nya di luar. Tepatnya di ruang tunggu.
"Gimana rasanya Re, pasti sakit kan?"
"Sakit? Pasti, karena aku wanita yang punya hati, tak seperti dirimu, Nona Sila."
"Kau kalah, jadi kau harus mengakui kemenangan ku, aku berhasil merebut Dimas dari mu seperti janjiku." Bangga Sila membuat Renata terkekeh.
"Baiklah, selamat karena sudah berhasil merusak rumah tangga sahabat sendiri ya, aku doakan semoga pernikahan kalian awet, dan aku juga doakan semoga aib mu tak cepat terbongkar."
"Sial, apa maksudmu?" Tanya Sila.
"Jangan berpura-pura bodoh, kau pasti tahu apa maksudku, Sila."
"Aahh ya, aku tahu. Kau pasti iri padaku kan?" Tanya Sila membuat Renata tergelak kencang, sampai-sampai dia harus mencubit lengan nya sendiri agar berhenti tertawa.
"Aku? Buat apa aku iri pada jaalang seperti mu? Maaf, tapi aku wanita terhormat yang hanya setia pada satu laki-laki."
"Jadi sudah ya, aku malas berdebat. Aku pergi dan.." Renata mendekatkan wajah nya ke telinga Sila.
"Terimakasih sudah membuat perceraian ku dengan Dimas lebih cepat tanpa harus menunggu sampai bayi ku lahir." Bisik Renata, membuat Sila mematung.
Bahkan tak bisa berkata-kata lagi, dia membeku, hanya bisa melihat punggung Renata menjauh tanpa bisa membela diri.
'Dari mana dia tahu? Aku harus menghubungi Leo secepatnya, aku tak bisa kehilangan semua nya secepat ini.' Batin Sila. Dia mengambil ponsel dan berusaha menghubungi Leo, orang yang sudah ikut andil dalam rencana jahat nya.
Leo adalah orang yang di suruh oleh Sila untuk mendorong Renata dari tangga eskalator hingga membuatnya keguguran.
Namun sial, sudah beberapa kali panggilan namun tak di angkat juga, bahkan sekarang nomor nya tak bisa di hubungi sama sekali.
"Sial, kemana pria itu pergi?" Umpat Sila kesal, namun dia segera menyembunyikan kekesalan nya itu saat melihat Dimas berjalan mendekati nya.
"Ayo pulang." Ajaknya pada Sila. Wanita itu pun mengangguk dan menggandeng tangan Dimas seperti biasa nya, dia bersikap seolah tak terjadi apa-apa agar Dimas tak curiga.
.......
🌻🌻🌻🌻
__ADS_1